nusabali

Tari Rejang-Baleganjur Iringi Melasti di Banten

Umat Hindu DKI Jakarta Melasti di Cilincing

  • www.nusabali.com-tari-rejang-baleganjur-iringi-melasti-di-banten

JAKARTA, NusaBali - Umat Hindu Provinsi Banten menggelar Upacara Melasti rangkaian dari Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1946 di Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten, Minggu (3/3). Sementara Umat Hindu yang berada di kawasan DKI Jakarta dan sekitarnya mengge;ar upacara Melasti di Pura Segara, Cilincing, Jakarta, Minggu kemarin.

Melasti umat Hindu Banten di Pantai Tanjung Pasir dipimpin oleh Ida Pandita Dharma Putra Paseban didampingi para pinandita dan serati banten. Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Banten, Ida Bagus Alit Wiratmaja  Upacara Melasti dapat diartikan sebagai nganyudang malaning gumi ngamet tirta amertha.

"Yang berarti menghanyutkan atau membuang segala kotoran alam menggunakan air suci. Kotoran yang dimaksud adalah segala kotoran (dosa), baik dalam diri manusia (bhuwana alit) maupun yang ada di dunia (bhuwana agung). Selain itu, Melasti juga dilakukan sebagai wujud membersihkan Pralingga atau alat-alat persembahyangan," ujar Alit Wiratmaja. Oleh karena itu, makna dari Upacara Melasti adalah sebagai proses pembersihan diri manusia secara lahir dan batin serta sebagai pembersihan alam sebelum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1946 yang jatuh pada 11 Maret 2024 mendatang. Upacara Melasti, kata Alit Wiratmaja diusahakan dilakukan di laut.

"Kenapa harus di laut, karena laut itu penetralisir yang kotor. Ketika di laut, segala kekotoran dibersihkan lagi karena kami memaknai air untuk mensucikan manusia dan alam," papar Alit Wiratmaja. Mantan Dewan Pengawas RRI ini mengatakan berdasarkan Lontar Sunarigama dan Sanghyang Aji Swamandala, ada lima tujuan dari Upacara Melasti.

Foto: Umat Hindu mengikuti upacara Melasti di Pura Segara, Cilincing, Jakarta, Minggu (3/3). -ANTARA

Pertama, ngiring prewatek dewata. Artinya, Upacara Melasti hendaknya didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dalam perjalanan melasti. Tujuannya, adalah untuk dapat mengikuti tuntunan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Kedua, anganyutaken laraning jagat. "Artinya menghanyutkan penderitaan masyarakat. Maka, Upacara Melasti bertujuan untuk memotivasi umat secara ritual dan spiritual untuk melenyapkan penyakit-penyakit sosial," imbuh Alit Wiratmaja. Ketiga, papa kelesa. Artinya, Melasti bertujuan menuntun umat agar menghilangkan kepapanannya secara individual agar tidak menderita.

Hal yang dihilangkan tersebut adalah kegelapan atau mabuk, egois, mementingkan diri sendiri, pengumbaran hawa nafsu, sifat pemarah dan pedendam, rasa takut tanpa sebab serta rasa takut mati.

Ke empat, letuhing bhuwana. Maksudnya, jelas Alit Wiratmaja, Upacara Melasti bertujuan untuk meningkatkan umat hindu agar mengembalikan kelestarian alam lingkungan atau dengan kata lain menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan. Kelima, ngamet sarining amerta ring telenging segara. "Artinya mengambil sari-sari kehidupan dari tengah lautan. Ini berarti Upacara Melasti mengandung muatan nilai-nilai kehidupan yang sangat universal," jelas Alit Wiratmaja. 

Sementara Ketua Panitia Pelaksana Upacara Melasti Provinsi Banten, I Nengah Arsa mengatakan, umat Hindu Provinsi Banten yang hadir di upacara sekitar 5.000 orang. Upacara Melasti diisi pula dengan Tari Rejang Taman Sari. "Tarian itu, merupakan kontribusi dari ibu-ibu WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) sebagai hiburan. Ada pula, baleganjur dari enam banjar di Provinsi Banten turut meramaikan. Bleganjur dimainkan oleh anak-anak muda," papar Nengah Arsa.

Nengah Arsa berharap, anak-anak muda Hindu Provinsi Banten dapat terus melestarikan budaya tersebut. Melalui Upacara Melasti pula, Nengah Arsa berharap dapat meningkatkan sradha umat. "Sebab, Upacara Melasti merupakan sedekah laut dan pembersihan diri untuk menyambut Hari Raya Nyepi," ucap Nengah Arsa. 7 k22

Komentar