nusabali

Aktif Ngayah hingga Raih Predikat Polisi Teladan

Kreativitas I Wayan Kariawan, Polisi Dalang Wayang Kulit

  • www.nusabali.com-aktif-ngayah-hingga-raih-predikat-polisi-teladan

GIANYAR, NusaBali - Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara, Sabtu (1/7), memasuki angka ke-77, usia yang tak muda lagi. Pascareformasi 1998, jajaran Polri hingga kini dipimpin Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo, terus berbenah. Salah satu fokusnya, meningkatkan pelayanan berbasis harapan nyata masyarakat.

Salah seorang polisi, Ipda I Wayan Karyawan, berusaha menerjemahkan fokus pelayanan dimaksud dengan tak sekadar formalitas, ‘kaku’ kedinasan. Wujud nyatanya, polisi asal Banjar Perangsari Kelod, Desa Duda Utara, Kecamatan Selat, Karangasem, ini melaksanakan tugas-tugas kedinasan dengan sepenuh hati, plus melakoni seni pedalangan wayang kulit dan tari topeng.

Wayan Karyawan tertarik belajar mendalang wayang kulit sejak tahun 2010, karena bertugas di Sat Lantas Polres Gianyar. Dirinya amat menyadari, Gianyar adalah kabupaten seni terkenal di Bali, bahkan nusantara. Oleh karena itu, dia ingin mendapatkan ilmu seni pedalangan dari sejumlah guru dalang. Antara lain, Dalang Sija di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Dalang Pasung di Desa Bakbakan, Gianyar, Dewa Sang Putu Wijaya dan Ketut Sudarsana SSn di Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Proses belajar pedalangan di tengah kesibukan melakoni tugas-tugas kedinasan, sangat didukung oleh sang istri, Ni Luh Suartini Amd Keb, dan anak-anaknya. Bahkan, keluarga ikut menyiapkan perangkat pedalangan sebelum Wayan Karyawan berangkat ngayah pentas wayang kulit.

“Sambil proses belajar mendalang, saya beli wayang kulit satu per satu hingga layak untuk pementasan wayang lemah (tanpa kelir),” jelas mantan siswa Seba PK 1994/1995 SPN Singaraja ini.

Dia memilih seni dalang karena pedalangan adalah seni yang komplek. Dalam seni ini ada seni gerak/tari, suara, tabuh, dan sarat sastra terutama Hindu Bali. Seni dalang juga pada umumnya dilandasi konsep dasar seni Bali, yakni wiraga (kesatuan gerak), wirama (penguasaan teknik suara), dan wirasa (penjiwaan atau ekspresi pada setiap karakter wayang). 

Namun, jauh dari ‘keberuntungan’ bertugas di wilayah seni, Kanit Regident Sat Lantas Polres Bangli (2022- sekarang) ini mengaku belajar mendalang karena ‘panggilan’ leluhur. Dalam dirinya teraliri darah seni sang kakek, pada zaman dulu adalah penari gambuh mumpuni. Maka, regenerasi seni adalah bagian penting dari proses belajar mendalang.

“Saya baru sadar, belajar hingga ngayah mendalang adalah titah untuk saya menjalankan perintah leluhur,” ujar ayah tiga anak ini.

Namun, menurut Dalang yang akrab disapa Jro Lolah ini, esensi belajar hingga tahu ilmu pedalangan sangat nyambung dengan tugas-tugas kepolisiannya di bidang pelayanan masyarakat. Dengan terus belajar dan ngayah mendalang, maka sebagai aparatur negara bisa langsung dekat dengan masyarakat. 

Terkait itu pula, saat mendalang dia dapat menyisipkan program-program kepolisian. Melalui pentas seni pedalangan, dia kerap menyampaikan pesan-pesan lurus tentang hukum yang masih dianggap ‘bengkok’. “Saya rasakan pengabdian langsung kepada masyarakat, di luar tugas-tugas formal kepolisian, merupakan bagian penting dalam ketekunan saya berkesenian Bali ini,” jelas dalang wayang kulit yang tinggal di Banjar/Desa Temesi, Kecamatan Gianyar ini.

Seiring berjalannya sang waktu, Jro Lolah juga belajar Tari Topeng. Menurutnya, secara bentuk tentu seni pedalangan berbeda dengan seni Tari Topeng. Namun, dua kesenian ini memiliki basis yang sama baik secara konsep kesenian Bali secara umumnya, maupun fungsi dan makna filosofisnya bagi masyarakat Bali. Persamaannya, antara lain, seni pedalangan Wayang Lemah dan Topeng Sidakarya, adalah dua dari sejumlah kesenian jenis Bebali untuk kelengkapan upacara Hindu Bali. 

Ternyata, kesuntukannya berkesenian Bali tersebut tidak hanya diapresiasi masyarakat dan teman-teman sejawatnya. Cara dia ‘melayani’ masyarakat melalui jalur seni juga diapresiasi oleh atasannya, Kapolda Bali Komjen Pol Petrus Reinhard Golose, yang kini menjabat Kepala Badan Narkotika Nasional. Dari Kapolda ini, tahun 2019, Jro Lolah menerima penghargaan sebagai Polisi Teladan bidang Pelestarian Seni Budaya. “Dengan ngayah mendalang dan menari topeng, saya makin dapat mensyukuri anugerah kehidupan yang lebih konsisten, baik sekala dan niskala,” ujarnya.7lsa

Komentar