nusabali

Tim Labfor Polda Bali Geledah Dapur Pedagang Nasi

  • www.nusabali.com-tim-labfor-polda-bali-geledah-dapur-pedagang-nasi

Korban Keracunan Massal, 11 Orang Masih Dirawat Inap

NEGARA, NusaBali

Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Bali bersama jajaran Satreskrim Polres Jembrana dan Polsek Mendoyo, melakukan penggeledahan di dapur pembuat nasi campur, dan mengamankan beberapa sampel bahan makanan, Sabtu (20/7). Penggeledahan itu dilakukan menyusul peristiwa keracunan yang dialami puluhan warga Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, yang diduga keracunan setelah menyantap nasi campur saat acara Pekan Olahraga Kecamatan (Porcam) Mendoyo, yang berlangsung pada 14–16 Juli 2019.

Berdasar informasi, kedatangan pihak kepolisian untuk mengambil sampel di dapur pembuat nasi campur dari Banjar Delod Bale Agung, Desa Mendoyo Dauh Tukad, itu dipimpin Kasubsi Kimia dan Forensik Labfor Polda Bali AKBP Ngurah Wijaya Putra. Dari olah tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus penggeledahan itu, diambil beberapa sampel, di antaranya berupa air dan minyak goreng bekas yang diduga dipakai memasak makanan, yang memicu keracunan massal oleh pembuat nasi campur langganan pihak Desa Mendoyo Dauh Tukad ini.

“Airnya ada dua sampel. Air keran dan air sumur. Dan ada minyak goreng bekas. Hasilnya, ya kita tunggu nanti,” ujar Kasat Reskrim Polres Jembrana  AKP Yogie Pramagita, saat dikonfirmasi Sabtu kemarin.

Menurut AKP Yogie, selain meminta bantuan tim Labfor Polda Bali, dalam melakukan penyelidikan kasus dugaan keracunan nasi bungkus, ini pihaknya sudah juga meminta keterangan beberapa orang saksi. Beberapa saksi yang dimintai keterangan di antaranya dari pihak Pemerintah Desa Mendoyo Dauh Tukad selaku penyedia nasi campur, termasuk pembuat nasi campur. “Dari keterangan sementara, kalau ada kegiatan, desa memang biasa memesan nasi di pembuat nasi itu, dan selama ini tidak pernah ada masalah,” tuturnya.

Pihaknya juga akan meminta keterangan para korban yang menjalani rawat jalan. “Yang pasti masih kami dalami. Kami belum dapat menyimpulkan, benar dan tidaknya keracunan nasi campur itu. Nanti kita akan tunggu juga hasil uji sampel dari Labfor Denpasar. Perkembangannya, nanti akan kami sampaikan lebih lanjut,” imbuhnya.

Untuk diketahui, sesuai data di lapangan, Sabtu kemarin, 11 dari 37 warga Desa Mendoyo Dauh Tukad yang diketahui mengalami gejala keracunan tersebut, kini masih dirawat inap di sejumlah fasilitas kesehatan. Korban yang masih dirawat inap itu, sembilan orang di antaranya di Puskesmas I Mendoyo, dan masing-masing 1 korban di RSUD Negara dan RS Bunda.

Dari keterangan Kepala Puskesmas I Mendoyo dr Kade Ayu Dewi Damayanti, sembilan pasien yang diduga keracunan sebenarnya sudah membaik. Pasien yang sebelumnya mengeluhkan diare, mual, dan nyeri perut, sudah tidak ada yang muntah kembali. Begitu juga feses mereka juga sudah agak normal. “Sudah membaik. Tetapi kami sarankan untuk istirahat, dan kami berikan antibiotik. Kalau sudah benar-benar sembuh, baru akan kami pulangkan,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan warga Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, diduga keracunan nasi bungkus saat Porcam Mendoyo di Lapangan Pergung, Desa Pergung, 14-16 Juli 2019. Termasuk di antara korban keracunan adalah Sekretaris Desa (Sekdes) Mendoyo Dauh Tukad Gusti Ayu Komang Biantari, 46. Dari puluhan korban keracunan, salah satunya meninggal dunia, yakni Ni Putu Suardini Asih, 35.

Korban tewas Ni Putu Suardini Asih menghembuskan napas terakhir di rumahnya kawasan Banjar Ngoneng, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kamis (18/7) malam pukul 21.00 Wita. Perempuan berusia 35 tahun ini memang tidak sempat mendapatkan perawatan medis, karena menolak dibawa ke rumah sakit pasca mengalami gejala keracunan.

Informasi di lapangan, puluhan warga Desa Mendoyo Dauh Tukad yang diduga keracunan massal ini sebelumnya sempat menyantap hidangan berupa nasi campur selama Porcam Mendoyo. Mereka mengalami gejala yang sama: pusing, sakit perut, diare, mual, dan muntah.

Mereka mulai mengeluhkan gejala keracunan sejak Selasa (16/7) malam. Namun, hingga Rabu (17/7), hanya beberapa korban yang diantar keluarganya ke Puskesmas I Mendoyo. Para korban baru ramai-ramai memeriksan diri ke Puskesmas, Jumat (19/7), setelah mendapat informasi soal meninggalnya Ni Putu Suardini Asih. Apalagi, pihak Desa Mendoyo Dauh Tukad juga menginstruksikan kepada para kelian banjar untuk terus menyisir korban dan memastikan mereka semua dibawa ke Puskesmas.

Data terakhir hingga Jumat (19/7) sore, ada 31 korban keracunan yang dibawa ke rumah sakit dan Puskesmas. Rinciannya, 24 orang dibawa ke Puskesmas I Mendoyo, 5 orang dibawa ke RSUD) Negara, 1 orang dibawa ke Bali Med Negara, dan 1 orang dibawa ke RS Bunda Negara. Para korban keracunan tersebut didominasi warga yang ikut berlaga mewakili Desa Mendoyo Dauh Tukad di Porcam, selain juga sejumlah perangkat Desa Mendoyo Dauh Tukad.

Satu-satunya korban yang masih menjalani rawat inap di RSUD Negara adalah Sekdes Mendoyo Dauh Tukad Gusti Ayu Komang Biantari. Dia baru dilarikan ke RSUD Negara bersama 4 korban lainnya, Jumat siang, setelah dirujuk dari Puskesmas I Mendoyo. Namun, setelah diberikan penanganan, 4 korban lainnya itu sudah langsung dibolehkan pulang dari RSUD Negara, Jumat sore.

Menurut Biantari, hampir semua warga yang sempat santap nasi campur saat Porcam Mendoyo mengeluhkan gejala keracunan. Nasi campur yang mereka santap berisi lauk ayam sisit, tempe, tahu, saur, kacang, telor, dan sambal. Nasi campur itu dibeli pihak Desa Mendoyo Dauh Tukad di salah warung di desanya yang selama ini sudah jadi langganan.

“Tumben terjadi kasus begini. Saya tidak tahu, apa memang nasi campurnya atau ada yang lain (beracun, Red). Tapi, waktu Porcam itu hanya ada konsumsi nasi campur sama air kemasan,” tutur Biantari.

Sementara itu, Perbekel Mendoyo Dauh Tukad I Gusti Putu Edi Ediana, mengatakan warganya yang mengalami gejala keracunan adalah mereka yang sempat berpartisipasi dalam kegiatan Porcam Mendoyo. Perbekel Edi Ediana sendiri ikut santap nasi campur yang dibeli di warung yang sudah jadi langganan pihaka desa. Edi Ediana pun sempat mengalami diare, tapi tidak sampai berobat ke Puskesmas atau RS, karena merasa tidak parah. *ode

loading...

Komentar