nusabali

Bandara Ngurah Rai Buka Lagi

  • www.nusabali.com-bandara-ngurah-rai-buka-lagi

Sempat ditutup selama hampir tiga hari akibat abu vulkanik erupsi Gunung Agung, penerbangan di Bandara Internasional Ngurah Rai Tuban, Kecamatan Kuta, Badung kembali dibuka, Rabu (29/11) sore pukul 15.00 Wita.

Gunung Agung Kembali Tremor Overscale


MANGUPURA, NusaBali
Ini seiring dengan putusan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menurunkan level peringatan penerbangan yang sebelumnya merah (red) menjadi oranye.

Kepala Otoritas Bandara (Otban) Wilayah IV, Herson, mengatakan dibukanya kembali aktivitas penerbangan ini berdasarkan hasil kajian dan analisis data dan fakta yang terkumpul. Data dan fakta dari Badan Meteorologi Klimatologi, Geofisika, VAAC Darwin, dan data laporan dari pilot, di ruang udara Bandara Ngurah Rai sudah tak terdeteksi lagi sebaran abu vulkanik. Selain itu, data dari paper test yang terpasang di sisi selatan dan barat landasan pacu bandara juga menunjukan nihil sebaran abu vulkanik.

“Hasil analisis dan kajian menyimpulkan untuk wilayah Bandara Ngurah Rai aman dari sebaran abu vulkanik. Karena dinyatakan amam, kami otoritas bandara mewakili Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub membatalkan Notice to Airman (Notamr) A4274/17 yang sudah dikeluarkan sebelumnya (sejak Senin, 27 November 2017 pagi pukul 07.15 Wita, Red). Sore ini pukul 15.00 Wita (kemarin), penerbangan kembali dibuka normal,” ungkap Herson saat dikonfirmasi NusaBali.

Herson menambahkan, abu vulkanik erupsi Gunung Agung juga sudah menjauhi kawasan udara Bandara Ngurah Rai. "Abu vulkanik Gunung Agung mengarah ke Lombok (NTBV), mengikuti arah angin," katanya.

Dengan dibukanya Bandara Ngurah Rai secara resmi, kata Herson, maka penerbangan akan kembali normal 2-3 jam setelahnya. Semua tergantung persiapan masing-masing airline. “Kami berani membuka penerbangan jika kondisi aman dalam 1x24 jam," tegas Herson.

Sedangkan Kepala Stasiun Meteorologi Ngurah Rai, Bambang Hargiono, menyatakan arah angin di atas Pulau Bali berubah seiring melemahnya badai tropis yang posisinya di selatan Pulau Jawai. Angin berubah arah dari utara ke tenggara. Perubahan arah angin ini berpengaruh terhadap sebaran abu vulkanik. “Hasil pengamatan di Stasiun Meteorologi Ngurah Rai tidak ada lagi abu vulkanik,” jelas Bambang.

Di sisi lain, pihak imigrasi Bandara Ngurah Rai memberikan perpanjangan exit pass selama sepekan bagi wisatawan mancanegara yang izin tinggalnya sudah berakhir, tapi tidak bisa kembali ke negaranya akibat dampak erupsi Gunung Agung. “Menteri Pariwisata sudah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM, akan diberikan exit pass bagi wisatawan asing. Kita harapkan erupsi Gunung Agung tidak terlalu berdampak pada penurunan investasi pariwisata," kata Menko PMK Puan Maharani dilansir detikcom seusai memimpin rapat koordinasi penanganan bencana di Jakarta, Rabu kemarin. Puan mengatakan, pemberian exit pass ini dilakukan karena Bandara Ngurah Rai ditutup akibat dampak erupsi Gunung Agung.

Sedangkan Menteri Pariwisata, Arief Yahya, mengatakan setiap hari ada 15.000 wisatawan asing tiba di Bali. Karenanya, jika mereka menetap tiga-empat hari, berarti ini ada sekitar 60.000 wisman di Bali. "Karena angka bergerak terus, kurang lebih 215 orang membutuhkan exit pass yang berlaku seminggu. Kalau ingin lebih, kita perpanjang sebulan," tutur Arief Yahya.

Sementara itu, PVMBG Kementerian ESDM kembali mencatat aktivitas Gunung Agung mengalami gempa tremor terus menerus (overscale), Rabu kemarin mulai sore pukul 17.24 Wita hingga petang pukul 18.00 Wita. "Terjadi lagi aktivitas gempa tremor secara terus menerus melebihi ambang batas dari alat yang kami miliki dan terdeteksi dari seismograf hampir 52 menit lamanya," kata Kepala PVMBG, Kasbani, saat ditemui Antara di Pos Pantau Gunung Agung kawasan Desa/Kecamatan Rendang, Karangasem tadi malam.

Kasbani menyebutkan, aktivitas vulkanik Gunung Agung sat ini cenderung tinggi dan fluktuatif, sehingga potensi terjadinya erupsi masih akan terjadi setiap saat. Untuk amplitudo gempa overscale ini melebihi 23 mm atau dikatakan mencapai titik maksimal yang terdeteksi dari rekaman seismograf.

Gunung Agung yang kini masuk level IV (Awas), memang sudah dalam kondisi kritis dan masuk fase erupsi magmatis. "Saat ini magma sudah mengisi kawah Gunung Agung dan melihat adanya sinar merah (glow) yang disebabkan adanya dorongan magma," ujar Kasbani.

Menurut Kasbani, untuk kandungan gas Sulfur Dioksida (SO2), dari hasil pemeriksaan masih cukup tinggi mencapai 2.500 ton per hari. "Angka ini masih sangat tinggi dan magma sudah keluar. Penyebab tremor ini karena pergerakan fluida ke permukaan," ujarnya. Fluida ini, kata Kasbani, bisa keluar berbentuk gas, lava, batuan vulkanik ataupun magma itu sendiri.

PVMBG mendapatkan rilis data dari Satelit NASA Modis milik Amerika Serikat terkait dengan rekaman peningkatan termal atau suhu panas di permukaan kawah Gunung Agung. Dari data rekaman tersebut, tercatat suhu panas di kawah sampai dalam level tinggi.

"Satelit NASA Modis mencatat suhu panas mencapai lebih dari 90 megawatt vulkanik radiatif power (VRP). Padahal, saat terpantau 27 November 2017, suhu panas hanya berkisar 51 megawatt VRP," ujar Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Devy Kamil Syahbana, di tempat yang sama, Rabu kemarin.

Artinya, kata Devy, ada pertumbuhan energi termal di permukaan kawah. Sehingga hal ini mengakibatkan peningkatan suhu panas, yang merupakan tanda lava di permukaan gunung Agung terus bertambah. Lava tersebut sudah berada di lantai atau dasar kawah. "Ada juga muncul lubang besar di dasar kawah yang mengakibatkan lava keluar. Data laporan itu lubang besar itu sekitar 100 meter diameternya," tam-bahnya.

Devy mengatakan, akibat munculnya lava di sekitar kawah Gunung Agung, terjadi cahaya terang di atas puncak Gunung Agung jika malam hari. "Itu volcanic glow diakibatkan oleh lava yang sudah ada di permukaan. Kita tidak perlu membuktikan naik ke atas untuk melihat ada atau tidak lavanya. Satelit sudah merekam adanya lava di permukaan dan sudah berada di dasar kawah. Tumbuh terus, jumlah lavanya semakin banyak," katanya. *p,k16

loading...

Komentar