nusabali

Kapolda Temui 10 Warga

  • www.nusabali.com-kapolda-temui-10-warga

Kapolda Bali Irjen Sugeng Priyanto memberikan atensi khusus terhadap kasus kerauhan di Banjar Langkan, Desa Landih, Kecamatan Bangli yang berbuntut diungsikannya 10 warga akibat dituding punya ilmu hitam.

Kapolda juga meminta 10 warga yang mengungsi ini supaya bersabar dan menyerahkan sepenuhnya penyelesaian kasus mereka kepada jajaran Polres Bangli dan Tim Penanganan Konflik Sosial Pemkab Bangli. “Jika Bapak dan Ibu ikutan-ikutan terprovokasi, maka bakal terus terjadi benturan fisik. Tentu hal ini bisa kian memperkeruh situasi,” pesan kapolda Sugeng Priyanto di hadapan 10 warga pengungsi di Mapolres Bangli.
Selaku Kapoldsa Bali, Sugeng Priyanto tidak mau kasus 10 warga dari 10 KK asal Banjar langkan, Desa Landih yang dituding punya ilmu hitam ini berimbas terhadap kondusivitas Bali secara keselurtuhan. Sebab, taruhannya adalah sektor pariwisata. 

“Kalau wisatawan sampai enggan datang ke Bali, tentu dampaknya ke perekonomian masyarakat. Makanya, semua pihak kami minta agar bersabar, jangan malah memperkeruh suasana,” pinta mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Mabes Polri yang baru sebulan dialihkan menjadi Kapolda Bali, menggantikan Ronny F Sompie ini.
Kapolda Sugeng Priyanto percaya kalau lembaga adat di Bali sangat kuat. Karena itu, warga harus mempercayakan permasalahan ini ditangani lembaga adat dengan intansi terkait lainnya. Masalah ini supaya dicarikan solusi terbaik, sehingga bisa diterima keduabelah pihak. “Polri akan selalu memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” katanya.

Dalam pertemuan kemarin, perwakilan dari 10 warga pengungsi asal Banjar Langkan, Desa Landih, I Ketut Dipta, menyatakan berterima kasih atas upaya pihak kepolisian yang memberikan pengamanan kepada warganya. Menurut ketut Dipta, selama sepekan mengungsi di kantor polisi, dia dan rekan-rekannya sudah mendapatkan rasa aman dan nyaman. 

“Terimakasih, kami di sini (kantor polisi) sudah diberikan keamanan dan kenyamanan,” ujar Ketut Dipta di hadapan Kapolda Sugeng Priyanto dan Kapolres Danang Benny. Selanjutnya, dia berharap pihak kepolisian segera mencarikan solusi supaya 10 warga yang mengungsi bisa kembali dengan nyaman dan aman ke kampung halamannya di Banjar Langkan, Desa Landih.

Dalam kesempatan itu, dua dari 10 warga pengungsi yang notabene merupakan kakak adik, Ni Wayan Candri, 75, dan I Nengah Degeng, 73, juga sempat menceritakan kekerasan fisik yang dialami saat peritiwa kerauhan. Menurut Wayan Candri, dirinya menderita luka akibat disulut api dupa daha yang kesurupan. Luka bekas sulutan api dupa itu dialami di bagian punggung dan leher. 

Sedangkan adik kandungnya, Nengah Degeng, mendapatkan perlakuan kasar dari seorang krama yang ikut kerauhan. Kala itu, Nengah Degeng awalnya dijemput pecalang di tegalan. Sesampainya di rumah, dia langsung disiram air garam bercampur abu di matanya. Nengah Degeng merasa sangat perih di mata dan tidak bisa melihat. “Bukan hanya itu, bokong saya juga ditendang hingga memar,” kenang Nengah Degeng.
Nengah Degeng menambahkan, ketika prajuru adat dan krama banjar menggeledah rumahnya, memang sempat ditemukan benang Tridatu. Celakanya, benang Tridatu itulah yang dikatakan sebagai sarana ilmu hitam alias pengleakan. Padahal, benang Tridatu itu dia dapatkan saat tangkil ke Pura Basakih, Desa Pakraman Besakih, Kecamatan Rendang, Karangase. “Bahkan, surat akte perkawinan dan cacatan hasil panen di rumah saya juga dibakar,” keluh Nengah Degeng.

Selanjutnya...

Komentar