nusabali

Tetap Mepayas Aeng, Peserta Dibatasi karena Pandemi

Ritual Ngerebeg di Desa Adat Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar

  • www.nusabali.com-tetap-mepayas-aeng-peserta-dibatasi-karena-pandemi

GIANYAR, NusaBali
Desa AdaT Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, Gianyar kembali menggelar tradisi ritual ngerebeg serangkaian karya pujawali di Pura Duur Bingin, pada Buda Kliwon Pahang, Rabu (19/5).

Seperti biasa, ritual ini melibatkan krama dari 7 banjar adat, yang semuanya mepayas aeng (menghias wajah dengan aneka motif menyeramkan) saat prosesi arak-arakan keliling desa. Namun, pesertanya dibatasi hanya sekitar 200 orang dengan protokol kesehatan yang ketat, karena situasi pandemi Covid-19.

Berbeda dibanding pelaksanaan sebelum pandemi Covid-19, tradisi ritual ngerebek di Desa Adat Tegallalang, Rabu kemarin, dilakukan dengan protokol kesehatan. Jumlah peserta ngerebeg pun dibatasi, rute jalan kaki dipersingkat. Menurut Bendesa Adat Tegallalang, I Made Kumara Jaya, dari 7 banjar adat yang ada, masing-masing hanya mengutus 8 orang ikut prosesi ritual ngerebeg.

“Selain itu, krama dari 7 banjar adat (Banjar Gagah, Banjar Pejeng Aji, Banjar Tegal-lalang, Banjar Tegal, Banjar Tengah, Banjar Penusuan, dan Banjar Tri Wangsa) yang ikut tradisi ritual ngerebeg kali ini juga diwajibkan dalam kondisi sehat. Mereka harus memakai masker dan menjaga jarak fisik,” jelas Made Kumara Jaya.

Kalau dalam kondisi normal sebelum pandemi Covid-19, kata Kumara Jaya, peserta ritual ngerebeg bisa mencapai ribuan orang. Peserta juga tidak perlu mengenakan masker, juga tak ada aturan jaga jarak.

Tradisi ritual ngerebeg sendiri dilaksanakan 6 bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali) serangkaian karya pujawali di Pura Duur Bingin pada Buda Kliwon Pahang. Prosesi ritual ngerebeg ini bermakna untuk membersihkan pikiran dalam bhuwana alit (tubuh manusia) dan bhuwana agung (alam semesta) secara niskala.

Tradisi ritual ngerebeg Rabu kemarin dilaksanakan sejak siang pukul 11.00 Wita hingga sore pukul 15.00 Wita. Prosesi diawali dengan upacara pecaruan di Pura Duur Bingin. Setelah pecaruan, dilanjut menghaturkan paica alit yakni krama nunas ajengan berupa nasi berisi lawar yang langsung dinikmati bersama di halaman Pura Duur Bingin.

Setelah itu, krama lanjutkan ritual ngamedalang Ida Sasuhunan Pura Duur Bingin. Barulah kemudian peserta ngerebeg yang didominasi ABG lanang (laki-laki) melakukan ritual jalan kaki keliling desa, dengan payas aeng (hiasan tubuh menyeramkan). Pada saat bersamaan, kalangan krama dewasa menghaturkan sesaji di setiap pura dan setra (kuburan) yang dilewati dalam prosesi ngerebeg. Setelah keliling desa, perjalanan kembali ke areal Pura Duur Bingin.

Prosesi ritual ngerebek di tengan pandemi ini mendapat pengawasan ketat petugas kepolisian, TNI, dan pecalang desa adat. Menurut Kumara Jaya, berdasarkan hasil paruman, saat prosesi negerebeg keliling desa, setiap banjar perlu ada pecalang atau polisi yang mendampingi.

“Hal teknis lainnya yang diatur dalam prosesi ngerebeg kali ini adalah pemangkasan jarak tempuh. Karena situasi pandemi, kami hanya gunakan jalur 25 persen saja. Kalau dulu, jalur yang dilewati sampai ke objek wisata Terasering Cekking. Nah, kali ini hanya dekat sini saja," tandas Kumara Jaya.

Kumara Jaya menyebutkan, tradisi ritual ngerebek ini dilaksanakan untuk menetralisasi kekuatan negatif, sehingga krama Desa Adat Tegallalang bisa hidup sejahtera dan nyaman. Ritual ini juga dipercaya sebagai upaya untuk menetralkan sifat negatif manusia yang disebut Sad Ripu (enam musuh dalam diri).

Enam jenis musuh dalam diri manusia yang harus dinetralkan itu terwakili dalam kreasi hiasan wajah menyeramkan para peserta ritual Ngerebeg. Nah, hiasan bermotif menyeramkan pada tubuh peserta ritual ngerebeg itu sendiri sebagai simbol sifat buruk manusia.

Ada pun enam musuh dalam diri manusia yang disebut Sad Ripu itu terdiri dari pertama, Kama (hawa nafsu yang tidak terkendali), yang diekspresikan dengan gadis hamil. Kedua, Loba (rakus) yang digambarkan dengan selalu ingin memiliki lebih dari haknya). Ketiga, Kroda (pemarah) yang diekspresikan dengan wajah yang babak belur sebagai akibat orang yang suka terlibat perkelahian).

Keempat, Moha (bingung), yang digambarkan dengan perwajahan mirip orang meninggal lantaran bunuh diri). Kelima, Mada (mabuk) yang digambarkan dengan tampilan wajah buruk akibat suka mabuk-mabukan dan suka mengkonsumsi narkoba. Keenam, Matsarya (iri hati), yang disimbolkan pada perwajahan seorang penjahat dengan pakaian berdasi.

Selain itu, kata Kumara Jaya, ritual ngerebeg ini juga diharapkan secara niskala bisa mengusir gering agung yakni pandemi Covid-19. “Kami meyakini berbagai upaya sekala niskala. Secara sekala, cegah Covid-19 dengan disiplin protokol kesehatan. Sedangkan secara niskala, dengan digelarnya tradisi ngerebeg ini," katanya.

Sementara itu, Kapolsek Tegallalang, AKP I Ketut Sudita, mengatakan pihaknya menerjunkan sejumlah personel untuk memastikan penerapan protokol kesehatan dalam prosesi ritual ngerebeg kemarin. Polisi pun dikerahkan siaga dan ikut jalan kaki di masing-masing kelompok barisan.

Menurut AKP Ketut Sudita, pihaknya juga berusaha menekan jumlah krama yang mengikuti tradisi ngerebeg ini. "Kalau biasanya yang ikut ribuan orang, tapi kali ini peserta ngerebeg hanya sekitar 200-an orang. Itu pun kami pastikan Prokesnya, peserta pakai masker, dan jaga jarak," tegas AKP Sudita. *nvi

Komentar