nusabali

MUTIARA WEDA: Beda Sadhu dan Kita

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-beda-sadhu-dan-kita

Sang Sadhu tidak memikirkan cacat orang lain, tidak pula mencela. Hanya kebajikan dan perbuatan baik orang lain yang dipikirkannya. Beliau tetap berperilaku arif dan teguh memegang susila.

Na smarantyaparaddhani smaranti sukrtanica,

Asambhinnaryamaryadah sadhavah purusot tamah.
(Sarasamuuchaya, 307)

SECARA naluri, manusia lebih sering melihat keluar dan jarang ke dalam dirinya. Apa yang ada di luar dirinya sangat jelas, sementara apa yang ada di dalam hampir tidak pernah tampak. Bahkan, tidak sedikit karena sepenuhnya melihat ke luar, semua yang tampak di luar itu diaplikasikan sepenuhnya untuk dirinya. Ukuran dirinya ditentukan dengan apa yang dilihatnya, terutama dalam konteks penampilan. Seperti misalnya masalah mode pakaian, peralatan kecantikan, dan yang sejenisnya. Orang mengenakan pakaian lebih pada mengikuti mode oleh karena sedang trend di luar sana dan bukan sekadar menutupi tubuh. Dirinya akan merasa nyaman ketika hal itu mampu ditiru sepenuhnya. Demikian juga barang bawaan seperti tas tenteng, aksesoris seperti jam tangan, kalung, gelang, dan yang lainnya mesti selaras dengan iklan-iklan yang ada.

Sementara dalam hal perilaku, orang lebih lihai menilai orang lain ketimbang dirinya, khususnya yang negatif. Cacat orang, sekecil apapun bisa ditemukan dan dideskripsikan dengan sangat jelas dan bahkan bombastis. Sebagian besar orang merasa senang dan bersemangat dalam hal menarasikan atau mengabarkan keburukan orang lain. Mereka merasa senang kalau ada teman lainnya tampak berperilaku buruk. Rasa bangga itu mungkin tidak ditampakkan karena ingin bersimpati, tetapi rasa itu tidak bisa disembunyikan tatkala menceritakannya kepada orang lain. Seperti itulah, naluri manusia, dengan melihat apapun yang ada di luar dirinya, yang tidak sejalan dengan dirinya akan tampak jelek. Bahkan ketika dia belum mampu menunjukkan kejelekannya, maka yang muncul lebih awal adalah iri hati. Setelah rasa itu tumbuh subur, maka pikirannya akan secara aktif mencari kelemahan orang itu. Dan, ketika menemukannya, dia pasti tertawa dan siap untuk menyiarkannya.

Namun, hal yang tampak umum ini tidak berlaku bagi seorang sadhu. Sebagaimana teks di atas sebutkan bahwa orang sadhu tidak pernah melihat kelemahan atau keburukan orang lain. Dia senantiasa melihat kebaikannya. Sekecil apapun kebaikan yang telah dilakukannya akan tampak dan sebesar apapun kesalahannya, dia akan abaikan dan bisa tidak tampak bagi beliau. Sepertinya, hanya orang-orang spesial yang mampu melihat seperti ini. Orang ini tidak ubahnya magnet. Ketika sebuah magnet didekatkan pada berbagai jenis benda, magnet akan mampu mengenali yang mana logam dan yang mana benda bukan logam. Orang Sadhu akan mengabaikan bentuk keburukan orang lain, seperti magnet tersebut mengabaikan benda yang bukan logam. Hanya kebaikan saja yang tampak baginya.

Namun, jika ditelaah secara objektif, apakah itu memungkinkan? Perbuatan buruk maupun baik keduanya kelihatan. Mengapa kelihatan, karena kedua-duanya memang ada, sehingga bisa dibedakan mana kategori perilaku baik dan mana perilaku buruk. Jika orang secara umum lebih sering mampu melihat keburukan saja, bukankah orang ini tidak sehat atau bisa dikatakan setengah buta? Juga seorang sadhu, jika hanya melihat kebaikan saja, bukankah dirinya juga setengah buta? Mengapa yang jelek saja dilihat dan/atau mengapa yang baik saja dilihat, sementara keduanya itu ada berdampingan? Mengapa hanya setengah-setengah saja?

Kasus yang pertama, orang yang lebih sering melihat keburukan orang lain itu sebenarnya bukan buta, karena dia secara terus-menerus menyandingkan sesuatu yang ada di luar dirinya dengan dirinya sendiri. Dirinya sendiri adalah representasi kebaikan itu sendiri. Artinya, ukuran kebaikan itu ada pada dirinya. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan dirinya dinyatakan tidak baik. Itulah mengapa sebagian besar orang lebih bisa melihat keburukan orang lain. Sementara bagi Sang Sadhu, ketika beliau dikatakan hanya melihat kebaikan orang lain bukan berarti tidak melihat keburukannya. Seorang Sadhu hanya tidak melihat dirinya sebagai poros kebenaran, sehingga yang lain menjadi salah. Dirinya melihat kebenaran di mana-mana dan melihat segala sesuatunya as it is. *

I Gede Suwantana
Direktur Indra Udayana Institute of Vedanta

loading...

Komentar