nusabali

MUTIARA WEDA: Hanya Ekspresi

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-hanya-ekspresi

yadi dahaty analo'tra kim adbhutaṃ yadi ca gauravam adriṣu kiṃ tataḥ |lavaṇam ambu sadaiva mahodadheḥ prakṛtir eva satām aviṣāditā ||(Kāvya-prakāśa, 454)

Jika api membakar kayu, apa yang menakjubkan dari hal itu? Dan jika ada beban berat di pegunungan, lalu bagaimana? Lautan selalu memiliki air asin. Secara alami, orang baik tidak pernah merasa putus asa. 

BISA dikatakan bahwa semua kejadian adalah ekspresi dari prakrti-nya, nature-nya. Mengapa api membakar? Karena memang sifat api seperti itu. Mengapa air lautan asin? Karena sifat garam di dalamnya memang seperti itu. Tidak ada sesuatu yang aneh sejatinya. Dengan cara yang sama, mengapa ada korupsi, mengapa ada pencurian? Karena nature koruptor adalah korupsi, nature dari pencuri ya mencuri. Maraknya korupsi, maraknya pencurian di Indonesia bukan hal yang aneh meskipun tampak religius. Korupsi, mencuri, dan sejenisnya hanyalah ekspresi dari apa yang ada di dalam. Sehebat apapun membuat aturan hukum, koruptor dan pencuri akan mencari jalannya untuk tetap berekspresi. 

Hukum hanya mampu menyentuh ekspresinya dan tidak pernah sampai pada esensinya. Bukan hukumnya yang salah karena batasnya hanya sampai di sana. Mungkin saja hukum memberikan efek jera, namun itu tidak cukup untuk mencabut sampai ke akarnya. Efek jera hanya membuat orang takut korupsi, sementara nafsu korup masih menyala di dalam. Seperti api dalam sekam, setiap saat mencari peluang untuk mengelabuhi hukum. Ketika hukum mampu meneror para pencuri, sementara mereka diam. Nanti, ketika situasi memungkinkan, mereka berekspresi kembali. 

Teks di atas telah mengindikasikan ini. Apapun yang terjadi, baik atau buruk, keras atau lembut hanyalah ekspresi dari struktur alami yang ada di dalamnya. Makanya teks menyatakan, orang baik tidak pernah putus asa. Mengapa? Karena kebaikan yang dilakukan adalah ekspresi dari kedalaman jiwanya. Memiliki kesempatan untuk mengekspresikannya saja sudah membuatnya senang. Dia akan terus seperti itu. Mungkinkah orang baik bisa menjadi jahat? Bisa saja, alasannya ada dua. Struktur nature kebaikan di hatinya telah tergantikan oleh yang lain, atau ekspresi kebaikannya bukahlah ekspresi murni tetapi politis, ekspresi kebaikan yang menuntut imbalan kebaikan lain dari luar. Jika memang kebaikannya alami, dipastikan mereka tidak akan berubah. 

Atas dasar ini, korupsi, perampokan, pencurian, dan sejenisnya bisa dihilangkan, tetapi bukan dengan hukum, ketakutan, dan sejenisnya. Lalu dengan cara apa? Korupsi adalah permukaan, sementara arus yang sejatinya ada di dalam. Struktur dasar berpikir orang mesti diubah. Agar lantai tidak dingin, tegel-nya harus diganti dengan papan. By nature, tegel itu dingin. Kalaupun ditutupi karpet, dingin tegelnya tidak hilang. Kapanpun karpet dibuka, dingin itu kembali lagi. Lain halnya jika diganti dengan kayu atau papan, ekspresi dingin tidak ada lagi. Jadi, struktur berpikir orang harus diubah dari yang koruptif menjadi jujur. 

Bagaimana caranya? Ini tidak sederhana. Upaya-upaya spiritual sebenarnya mengarah pada problem ini. Upaya-upaya ini tidak dalam rangka menutupi sifat aslinya agar kelihatan seperti yang kita inginkan, melainkan mengubah nature yang ada di dalam agar secara radikal mengalami perubahan. Tanpa perubahan struktur berpikir, korupsi, mencuri, dan hal sejenis tidak akan pernah berakhir. Satu upaya yang mungkin bisa dilakukan adalah pendidikan. Pendidikan di sini bukan saja institusi pendidikan, melainkan semua komponen. Sampai saat ini, bahkan institusi pendidikan saja tidak terbebas dari perilaku koruptif, padahal kurikulumnya mengajarkan kejujuran. Seperti misalnya, semua institusi pendidikan mengharuskan agar anak-anak didik tidak ada yang tidak lulus. Lalu, agar sebuah institusi itu tidak jatuh martabatnya, mereka berupaya agar anak-anak tidak ada yang tertinggal. Upaya yang dilakukan adalah dengan memberikan kunci jawaban saat ujian. 

Kondisi ini menjadikan benih-benih korupsi itu tumbuh subur. Pertama, dari dalam diri setiap orang telah memiliki tabiat untuk greedy, ingin lebih, kemudian dipupuki oleh kondisi pendidikan, lingkungan, dan lainnya sehingga menjadi struktur berpikir korup yang besar. Ketika nanti masanya memegang kekuasaan. Kapan pun korupsi itu memungkinkan, mereka akan melakukannya. Dan bahkan, mereka secara terstruktur membangun situasi agar korupsi bisa dilakukan. 7

I Gede Suwantana
Direktur Bali Vedanta Institute

Komentar