nusabali

Kasus DBD Mengalami Peningkatan

Kadiskes Minta Masyarakat Gencarkan Pemberantasan Sarang Nyamuk

  • www.nusabali.com-kasus-dbd-mengalami-peningkatan

DENPASAR, NusaBali - Jumlah kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Provinsi Bali meningkat signifikan pada awal tahun ini. Masyarakat diminta untuk waspada dan meningkatkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk yang menjadi vektor (penyebab) penyakit DBD.

Data Dinas Kesehatan (Diskes) Provinsi Bali menunjukkan peningkatan jumlah kasus DBD meningkat tajam pada bulan Januari 2024. Beruntung sejauh ini tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Penyakit DBD telah mengakibatkan jumlah korban meninggal dunia yang cukup besar tahun 2019 lalu, yakni sebanyak 19 korban meninggal dunia.

Kasus DBD empat bulan terakhir di tahun 2023 sempat menurun di angka 200 kasus per bulan. Namun, pada bulan pertama tahun ini tercatat 709 kasus DBD di seluruh Bali. Meningkat tajam jika dibandingkan jumlah kasus di bulan Desember 2023 yakni sebanyak 267 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Pemprov Bali, Dr dr I Nyoman Gede Anom, MKes, Kamis (29/2) mengatakan kasus DBD mengalami tren peningkatan yang berkorelasi dengan musim hujan. “Pada Januari kasus DBD memang menunjukkan tren peningkatan. Hal ini berkorelasi dengan mulainya musim hujan, sehingga tempat perindukan vektor semakin banyak dan kepadatan vektor Aedes aegypti  semakin tinggi dan siklus penularan DBD juga semakin tinggi,” ujar Anom.

Informasi yang dihimpun NusaBali, Kabupaten Gianyar tahun lalu menjadi salah satu kabupaten dengan jumlah kasus tertinggi, disusul Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Pada Januari tahun ini, Gianyar menunjukkan peningkatan tertinggi kasus DBD sebanyak 294 kasus. Sementara  Kota Denpasar dan Kabupaten Badung justru masih melaporkan jumlah di bawah 100 kasus, masing-masing 34 dan 97 kasus.

Anom menegaskan, peningkatan kasus DBD khususnya di Kabupaten Gianyar perlu diikuti dengan upaya pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti. Sementara Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, menurutnya mengalokasikan anggaran yang cukup untuk juru pemantau jentik (Jumantik).

Diskes Bali sendiri telah meningkatkan surveilans kasus dan surveilans vektor, serta meningkatkan sistem kewaspadaan dini (SKD) dengan membuat Surat Edaran SKD pada 16 Februari 2024 lalu. Anom mengajak masyarakat ikut mengendalikan kasus DBD dengan  meningkatkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menjadi Jumantik di rumah sendiri, melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik. “Waspada bila mengalami demam yang mendadak dan tinggi untuk segera ke Fasyankes (fasilitas layanan kesehatan,red),” ujar birokrat asal Gianyar ini.

Terkait upaya pengendalian kasus DBD dengan menyebarkan nyamuk wolbachia, Anom menyebut pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Diketahui, program nyamuk wolbachia ditunda oleh Pemerintah Provinsi Bali sembari menunggu kajian yang lebih komprehensif. “Perkembangan (program nyamuk) wolbachia  sementara ini masih tetap melakukan koordinasi dengan Kemenkes,” ungkap Anom. a.

Komentar