nusabali

Seni Lukis Telur Makin Diminati Wisatawan

Sempat Terpuruk saat Dihantam Pandemi

  • www.nusabali.com-seni-lukis-telur-makin-diminati-wisatawan
  • www.nusabali.com-seni-lukis-telur-makin-diminati-wisatawan

Harga lukisan telur tergantung pada jenis dan detail lukisannya. Untuk lukisan telur bebek harganya antara Rp 50.000 hingga Rp150.000.

DENPASAR, NusaBali
Menjadi tujuan wisata dunia, Bali sekaligus menjadi sentra berkembangnya kreativitas aneka kerajinan suvenir atau cendera mata. Salah satunya eggs painting atau lukis kulit telur. Sempat ‘jeda’ waktu pandemi Covid-19, kini kerajinan lukis telur mulai bangkit dan banyak diburu para wisatawan.

“Astungkara, sudah mulai membaik,” ujar I Wayan Sadra salah seorang perintis lukisan telur dari Banjar Gerih, Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, Jumat (27/10).

Sadra mengatakan mengawali membuat suvenir lukisan telur sejak 1997. Awalnya hanya mencoba melukis pada tujuh butir telur. “Tiyang (saya) coba tujuh butir, lima butir telur bebek dan dua butir telur angsa,” kenangnya. Lukisan telur yang mengangkat cerita Mahabhrata dan Ramayana serta flora dan fauna sempat dititipkan pada I Ketut Edi, kakak kandungnya yang berjualan ukiran dan aneka suvenir di kawasan wisata Sanur. Ternyata karya Sadra menarik minat wisatawan. Bahkan hasil kerajinanya laku tak lama setelah dititipkan. “Dari tujuh butir yang laku, masing-masing tiga lukisan telur bebek dan satu butir lukisan telur angsa,” ucap pria yang kini berusia 62 tahun itu.

Diawal merintis, lanjut Sadra, media lukis telur sepenuhnya menggunakan media cangkang telur yang asli. Isi telur dikeluarkan dengan cara disedot, sehingga tinggal cangkangnya saja. Yang paling banyak dilukis cangkang telur bebek dan angsa. Namun kadang juga telur burung kasuari dan burung unta. Sayangnya kini cangkang burung kasuari dan burung unta semakin jarang. Hal itu bertalian dengan keberadaan status kedua satwa itu. Untuk burung kasuari, karena merupakan hewan yang dilindungi, sehingga yang boleh atau dapat dilukis adalah cangkang telur yang semuuk, yakni tidak terjadi pembuahan/tidak menetas. “Telur kasuari yang sehat, dilarang diperjual belikan, sehingga sulit untuk memperoleh cangkang telur kasuari sekarang ini,” kata Sadra.

Sedangkan untuk telur burung unta juga sulit diperoleh. Apalagi, menurut Sadra, Australia dan New Zeeland, dua negara habitat burung raksasa ini melarang pengiriman telur atau cangkang telur ke luar negeri.

Lantaran kesulitan memperoleh cangkang telur kasuari dan telur unta itu lah, sehingga kini banyak menggunakan telur ‘buatan’ atau tiruan sebagai pengganti. Telur tiruan dibuat dari kayu, kemudian dicat sedemikian rupa sehingga menyerupai telur asli.

Telur kayu itu dibuat perajin di Tegallalang, Gianyar. Kayu albesia salah satu jenis kayu yang paling banyak dipakai. Telur kayu itulah yang dilukis, sebagai pengganti cangkang telur yang asli. Memang tidak asli telur, namun telur kayu lebih aman. Terutama tidak rawan pecah, kalau dipindah-pindahkan. Misalnya saat dikirim.

Namun demikian, Sadra mengatakan tetap juga melukis cangkang telur asli, antara lain cangkang telur angsa dan bebek. “Cangkang telur angsa misalnya dari Lamongan, melalui teman dari Kediri,” ungkap Sadra.

Sadra mengatakan tidak bisa menyebutkan persis berapa rata-rata penjualan sebulan. Namun, dikatakan untuk lukisan telur bebek dari kayu sekitar 200 an butir. Telur angsa dari kayu sekitar 100 an butir dan telur unta dari kayu sekitar 10 butir dan telur unta dari kayu sekitar 5 butir. “Lebih banyak pesanan,” ujar mantan Bendesa Adat Gerih.

Permintaan telur lukis, lanjut Sadra, biasanya bertambah jelang Hari Paskah. Telur lukis untuk Paskah biasanya telur asli. “Jelang Paskah pasti pekerjaan meningkat, bahkan sampai lembur,” ucapnya.

Terkait harga, Sadra menyebut harga lukisan telur tergantung pada jenis dan detail lukisannya. Sebagai gambaran untuk lukisan telur bebek harganya antara Rp 50.000 hingga Rp150.000. Lukis telur angsa mulai Rp 100.000 sampai Rp 500.000. Telur kasuari mulai Rp 350.000 sampai Rp 700.000. Dan lukisan telur burung unta,antara Rp 400.000 sampai Rp 900.000. “Semua rata-rata untuk telur yang terbuat dari kayu,” ungkapnya.

Sementara, yang untuk lukisan pada cangkang telur asli lebih tinggi harganya. Bisa bertambah harganya sampai Rp 50.000 atau lebih. “Tergantung juga detail lukisannya,” katanya.

Karena kini semakin banyak dilirik wisatawan, Sadra mengaku ikut senang, itu artinya secara tak langsung ikut sebagai media mempromosikan pariwisata Bali. Dia berharap ke depan suvenir lukisan telur semakin digemari wisatawan. 7 k17

Komentar