nusabali

MUTIARA WEDA: Empat Jenis Pemuja Tuhan

Caturvidhā bhajante mām janāh sukrtino ‘rjuna, ārto jijnāsur arthārthi jnāni ca bharatarsabha. (Bhagavad-gita, VII. 16)

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-empat-jenis-pemuja-tuhan

Orang berbudi luhur yang memuja-Ku ada empat jenis. Orang yang kesulitan, pencari ilmu, pencari kekayaan, dan manusia yang bijaksana, wahai penguasa Bharata.

Menurut Krishna, orang yang memuja Tuhan itu ada empat jenis, tidak ada yang kelima. Pertama adalah orang yang kesulitan. Orang-orang yang menderita, yang kehidupannya serba susah, diliputi oleh berbagai kelemahan, ketidakmampuan, ketakutan dan berbagai kebodohan lainnya pasti memuja Tuhan. Antropolog bahkan menyatakan bahwa sejarah mengapa Tuhan dipuja oleh karena ketidakmampuan manusia menghadapi kerasnya kehidupan. Untuk mengatasi kelemahan dan ketakutannya itu, mereka kemudian berimajinasi dan menaruh harapan akan hadirnya Sang Penyelamat. Mereka pun memimpikan sosok yang memiliki kekuatan, kekuasaan, dan kemampuan dalam segala hal. Dengan memuja Tuhan yang mampu mengatasi segala rintangan tersebut, manusia merasa aman. Untuk mempertahankan rasa aman ini, Tuhan pun di puja dari jaman ke jaman. Krishna menyebut orang memuja Tuhan karena susah. 

Kedua, orang yang sedang mencari ilmu juga memuja Tuhan. Mengapa? Bukankah saat ini banyak ilmuwan yang menyanksikan keberadaan Tuhan? Mereka yang benar-benar rasional kebanyakan agnostic, tidak ingin membahas tentang keberadaan-Nya. Para ilmuwan kan pencari ilmu, tetapi mereka malah banyak yang tidak religius. Apakah Krishna salah? Tentu bukan pencari ilmu yang seperti itu. Pencari ilmu duniawi dan mengetahui banyak pengetahuan duniawi akan mempersepsi Tuhan seperti pengetahuan mereka (duniawi), sehingga mereka banyak yang tidak sepakat dengan keberadaan Tuhan. Sementara pencari ilmu yang dimaksudkan oleh Krishna adalah pencari ilmu tentang Sang Diri. Banyak orang belajar tentang berbagai hal di dunia ini, sehingga pada satu titik dirinya merasa tidak tahu apa-apa. Merasa bingung tentang dirinya, merasa sia-sia, dan tidak tahu siapa sang diri yang merasa sia-sia itu? Pencari ilmu inilah yang dimaksud. Sehingga, oleh karena merasa tidak tahu apa-apa, jalan satu-satunya untuk mencari tahu adalah memuja Beliau Sang Maha Tahu. 

Ketiga, pencari kekayaan juga memuja Tuhan. Seperti misalnya di Bali, adakah Pura Melanting yang sepi dari pengunjung? Para pedagang, pengusaha, juragan, dan orang-orang yang profesinya sejenis pasti taat memuja Tuhan (khususnya Dewi Laksmi) dengan harapan profesinya itu dikaruniai, jualannya selalu laku, kekayaannya bertambah banyak, usahanya lancar, tokonya tambah banyak dan yang lainnya. Orang-orang yang mencari kekayaan pasti takut kehilangan kekayaan atau sumber penghasilannya, sehingga, untuk mengatasi itu, memuja Tuhan adalah satu-satunya solusi. Seorang pencari pengetahuan dan seorang mencari kekayaan mungkin sama ketekunannya dalam memuja, hanya orientasinya berbeda. 

Keempat, orang bijaksana juga memuja Tuhan. Bagaimana kategori orang bijaksana ini? Apa orientasinya? Apakah memohon agar kesusahan hidupnya bisa berubah, atau memohon agar ilmu pengetahuan mengalir kepadanya, atau mencari kekayaan juga? Tentu tidak ketiga-tiganya. Jika tidak ketiga-tiganya, lalu apakah orang bijaksana tidak pernah susah, apakah orang bijaksana tidak mencari pengetahuan, apakah orang bijaksana tidak perlu kekayaan? Bukan itu konteksnya. Orang bijaksana tentu pernah merasa takut, orang bijaksana dipastikan suka belajar, demikian juga orang bijaksana akan berdikari, tidak menggantungkan hidupnya pada orang lain, dengan kata lain mapan secara finansial. Lalu apa maksudnya Krishna?

Orang bijak yang dimaksud adalah orang yang telah paham bahwa kehidupan fana ini bersifat dualitas. Ada susah ada senang, ada sedih ada gembira, ada panas ada dingin, dan seterusnya. Orang yang memohon kepada Tuhan agar terhindar dari kesedihan tidak serta merta sedihnya akan hilang. Demikian juga orang kaya yang tidak memuja Tuhan serta-merta akan miskin karena diambil kekayaannya oleh Tuhan. Orang bijak memahami proses dunia ini dengan baik, sehingga dirinya memuja Tuhan oleh karena merasa tidak ada tindakan lain yang lebih tinggi yang bisa dilakukannya. Alam semesta ini begitu luas, dan jika memang Tuhan adalah pencipta alam yang maha luas ini, betapa kekuasaan Beliau? Orang bijak memuja Tuhan oleh karena terkesima dengan keberadaan semesta ini beserta dengan kedalaman misterinya.n7


I Gede Suwantana
Bali Vedanta Institute

Komentar