nusabali

Ada Palinggih Ratu Wayan, Diyakini Bisa untuk Nunas Kewibawaan

Mengenal Pura Pekiyisan Beji Agung Sad Kahyangan Jagat Bali Luhur Batukaru di Babahan, Penebel

  • www.nusabali.com-ada-palinggih-ratu-wayan-diyakini-bisa-untuk-nunas-kewibawaan

Kendati jadi tempat nunas kewibawaan, namun desa adat tidak mempromosikannya seperti itu, pamedeklah yang mengetahuinya sendiri tentang hal itu

TABANAN, NusaBali
Keberadaan Pura Luhur Pekiyisan Beji Agung Sad Kahyangan Jagat Bali Luhur Batukaru di Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Tabanan memiliki keunikan tersendiri. Selain difungsikan sebagai tempat mapehening atau melasti Ida Bhatara Pura Luhur Batukaru, juga difungsikan sebagai tempat nunas kewibawaan. Sebab di kawasan ini terdapat Palinggih Ratu Wayan atau yang sering disebut Ratu Malen. Konon dari fungsinya Palinggih Ratu Wayan banyak pejabat di Bali yang sering tangkil.

Palinggih Ratu Wayan adalah bagian dari Pura Luhur Pekiyisan. Palinggih Ratu Wayan ini berada di barat Pura utama atau sebelah timur Sungai Yeh Ho. Bila ingin sembahyang pamedek dipersilakan datang dengan membawa sarana upakara pejati. Sebelum sembahyang di Palinggih Ratu Wayan terlebih dahulu sembahyang di Pura Luhur Pekiyisan.

Di Palinggih Ratu Wayan ini wastra (busana) yang dipasang berwarna poleng (putih hitam). Di bagian utama Palinggih terdapat Patung Malen. Sesuai cerita pewayangan Malen ini adalah orang bijaksana. Keberadaan Pura Pekiyisan memang belum banyak orang yang mengetahui. Padahal jaraknya hanya sekitar 15 kilometer arah utara kota Tabanan. Terlebih saat ini Desa Adat Babahan akan membuat tempat panglukatan yang bersumber dari mata air bernama Toya Tabah ini.


Foto: Palinggih Ratu Wayan atau sering disebut Ratu Malen di Pura Pekiyisan, Desa Adat Babahan, Kecamatan Penebel. -DESAK SUMBERWATI

Sabha Desa Adat Babahan, I Nyoman Rai Dana mengatakan keberadaan Palinggih Ratu Wayan berbarengan dengan berdirinya Pura Pekiyisan. Palinggih Ratu Wayan selama ini ada kaitannya dengan nunas kewibawaan. Sejalan dengan itu memang sejumlah pejabat di Bali sering datang sembahyang. Kendati difungsikan sebagai tempat nunas kewibawaan, namun desa adat tidak mempromosikannya seperti itu. Menurut Rai Dana, pamedeklah yang mengetahuinya sendiri. Tapi di mana pun sembahyang kalau sudah tulus ikhlas apapun permintaannya pasti terkabul.

"Kita orientasinya tidak mempromosikan hal ini, karena pamedek langsung datang sendiri," ujar Rai Dana sekaligus Mantan Bendesa Adat Babahan ini saat ditemui, Kamis (10/8). Disebutkan, terkait dengan berdirinya Pura Pekiyisan ini tahun berdirinya tidak pasti. Sebelum dibangun seperti sekarang dulunya terdapat kumpulan bebatuan saja. "Nama dari Pura Pekiyisan ini dulunya juga bernama Pura Pakerisan. Nama Pakerisan diambil dari adanya sungai yang berliku-liku. Namun setelah dikirimkan proposal ke Pura Luhur Batukau ditolak namanya Pakerisan, namun yang benar adalah Pakiyisan," bebernya.

Sementara itu ditambahkan oleh Panglingsir sekaligus Budayawan Mekel Gede Ketut Sulasa didampingi Bendesa Adat Babahan I Made Sukawana diperkirakan Pura Pekiyisan ini berdiri tahun 352 M. "Pura Pekiyisan ini adalah tempat Mapehening Ida Bhatara Luhur Batukaru. Ada dua tempat Mapehening satunya lagi di Pura Tanah Lot sesuai dengan konsep Nyegara Gunung," ujar Sulasa.

Disebutkan Ida Bhatara Luhur Batukaru jika Mapehening ke Pura Pekiyisan ini waktunya tidak tentu.

Sesuai dengan kondisi jagat (dunia). Bisa saja 10 tahun sekali ataupun lebih sesuai dengan kehendak Ida Bhatara Luhur Batukaru. "Sebelum dibangunnya Pura seperti sekarang, dulu Pura ini adalah hutan," imbuh Sulasa. Sementara itu ditambahkan Made Sukawana, pangempon Pura Pekiyisan ini ada tiga banjar, yakni Banjar Babahan Kawan, Babahan Tengah dan Banjar Babahan Kanginan dengan jumlah warga pangempon 560 KK. "Panganceng dari Pura Pekiyisan adalah Ida Cokorda Tabanan serta pujawali di Pura Pakerisan tepatnya saat Hari Raya Kuningan atau Saniscara Kliwon Kuningan," jelasnya.

Sementara sekarang seiring dengan perkembangan zaman, Desa Adat juga telah membangun beji panglukatan. Beji dibangun sesuai dengan bantuan yang didapat melalui Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta. Rencana ke depannya memang dirancang menjadi wisata spiritual. "Masih dilakukan penataan terlebih dahulu," katanya. 7 des

Komentar