nusabali

Sosok Profesor Unud Jadi Parekan Keluarga I Gusti Ngurah Rai karena Janji Orangtua

  • www.nusabali.com-sosok-profesor-unud-jadi-parekan-keluarga-i-gusti-ngurah-rai-karena-janji-orangtua

MANGUPURA, NusaBali.com – Prof Dr Ir I Wayan Windia SU, 74, adalah akademisi Universitas Udayana yang menjadi parekan (abdi) keluarga pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai karena janji orangtuanya dengan sosok pahlawan pejuang itu.

Ayahanda Prof Windia adalah bawahan setia pimpinan militer berpangkan Brigjen TNI (Anumerta) itu. Oleh karenanya, ikatan itu harus tetap dilanjutkan hingga ke generasi anak dan cucu.

“Kamu harus jadi parekan keluarga Pak Ngurah Rai, begitu kata ayah saya. Bayangkan saya seorang profesor disuruh menjadi parekan,” kata Windia ketika dijumpai usai upacara penghormatan terakhir kepada mendiang I Gusti Ngurah Alit Yudha, putra bungsu sang pahlawan sekaligus sahabat karibnya di Setra Desa Adat Carangsari.

Meskipun mendapat pesan dari sang ayah untuk menjadi parekan keluarga pahlawan asal Puri Agung Carangsari, Kecamatan Petang itu, Windia baru menjalin hubungan intensif dengan Alit Yudha sejak 1971. Selama perjalanan, keduanya mendirikan organisasi Pemuda Panca Marga, sebuah organisasi yang menyatukan keturunan pahlawan pejuang dan pembela di Bali.

Lambat laun, istilah parekan hanya sekadar kosa kata sebab dibandingkan benar-benar menjadi abdi, pria asal Sukawati, Gianyar ini malah menjadi sahabat sejati. Kata Windia, hanya Alit Yudha yang berani memanggilnya nama dan berkata kepara kepadanya.

Meskipun pada kala itu, seorang akademisi dan profesor sangat dihormati. Akan tetapi, Alit Yudha biasa memanggilnya dengan nama sapaan biasa seperti ‘Ndia’. Bahkan berucap kata-kata seperti ‘sakit gede ci’ atau ‘sialan kau’.

“Tidak ada yang berani memanggil saya Ndia. Apalagi mamisuh menyebut saya sakit gede ci mara cai teka (sialan kau baru datang). Tidak ada yang berani begitu. Tetapi itulah bukti kedekatan kami,” tutur akademisi Fakultas Pertanian Unud ini.

Sebagai sahabat apalagi akademisi, Windia sering dipanggil ke puri atau diajak bertemu oleh mendiang Alit Yudha. Putra bungsu pasangan I Gusti Ngurah Rai dan Desak Putu Kari ini dikenal oleh Windia sebagai sosok pemendam permasalahan, apa-apa dipendamnya sendiri.

Namun dengan Windia, Alit Yudha menjadi sosok blak-blakan, terbuka, dan meluapkan permasalahannya kepada lulusan magister Institut Pertanian Bogor ini. Windia pun sangat merasakan kehilangan seorang sahabat yang sering ia temui ketika sosok itu berpulang pada Senin (12/12/2022) lalu.

“Sekarang ya rasanya sangat kehilangan karena sudah tidak ada lagi yang akan memanggil saya untuk bertemu sebab Beliau sudah tidak ada,” ujar profesor berusia kepala tujuh ini.

Terlepas dari penyebab Alit Yudha berpulang karena komplikasi pada jantung, Windia juga berfirasat bahwa sahabatnya itu sakit karena terlalu banyak permasalahan dipendamnya sendiri. Oleh sebab itu, Alit Yudha terbebani dan akhirnya terlalu memaksakan diri untuk menutup diri.

Menurut Windia, persahabatannya dengan Alit Yudha pun tidak akan berhenti hanya karena sosoknya sudah tiada. Sebab, ia masih mempunyai keponakan yang menyebut dirinya ‘om’ yakni anak-anak mantan Anggota DPR RI Fraksi Golkar dua periode itu.

“Karena begitu respect-nya ayah saya dengan sosok I Gusti Ngurah Rai, saya pun melanjutkan warisan itu dengan memberikan respect saya kepada keturunannya,” tandas profesor yang masih diperpanjang masa akademiknya ini. *rat

Komentar