nusabali

Bisnis Motor Bekas Dinilai Semakin Menjanjikan

  • www.nusabali.com-bisnis-motor-bekas-dinilai-semakin-menjanjikan
  • www.nusabali.com-bisnis-motor-bekas-dinilai-semakin-menjanjikan
  • www.nusabali.com-bisnis-motor-bekas-dinilai-semakin-menjanjikan

DENPASAR, NusaBali.com – Pelaku bisnis motor bekas dinilai semakin menjanjikan pasca pandemi Covid-19 ini. Kelangkaan semikonduktor untuk chip motor dan dorongan sistem inden menyebabkan konsumen semakin melirik showroom motor bekas.

Pada saat pandemi, pergerakan orang sangat terbatas sehingga sebagian besar masyarakat menjual kendaraan mereka. Entah kendaraan tersebut dijual karena jarang terpakai atau untuk ‘uang cepat’ demi menutupi kebutuhan.

Maraknya orang yang menjual motor menyebabkan harga pasar untuk motor bekas menurun. Bagi pelaku bisnis motor bekas yang jeli memanfaatkan situasi dan berani mengambil risiko, harga pasar yang turun ini dijadikan ladang menjaring motor dengan harga rendah. Motor-motor bekas dengan harga rendah tersebut kini merangsek naik.

Contoh saja I Ketut Sutama, 52, pemilik showroom motor bekas Candi Sari Motor di Jalan Hayam Wuruk nomor 111 (sebelah barat traffic light Bale Banjar Bengkel) Denpasar. Pria yang sudah menggeluti bisnis motor bekas sejak 2004 ini belakangan mampu menjual motor bekas Yamaha NMax keluaran 2020 ke bawah mendekati harga barunya.

“Harga baru Yamaha NMax ini di pasaran sekitar Rp 30 juta. Saya baru-baru ini bisa jual bekasnya di angka Rp 32 juta,” kata Ketut kepada NusaBali.com, Sabtu (5/11/2022) sore.

Kata Sutama, ada dua faktor mengapa orang berani beli motor bekas dengan harga cukup fantastis saat ini. Pertama adalah sistem inden yang diterapkan untuk beberapa model motor untuk merek tertentu sehingga konsumen harus menunggu di saat sedang memerlukan motor dengan cepat.

Kedua, ekonomi mulai pulih sehingga masyarakat yang awalnya menjual motor saat ini justru sedang mencari banyak unit motor.

Akibatnya, Ketut mengakui saat ini dirinya tengah kesulitan mencari unit motor lantaran kebutuhan pasar meningkat sedangkan semakin jarang orang menjual motornya.

Kondisi semacam ini bisa bermata dua. Di satu sisi para pelaku bisnis motor bekas tengah sulit mencari unit, di lain sisi harga unit motor bekas semakin tinggi.

“Saya berani bilang, melihat situasi dan kondisi semacam ini, bisnis motor bekas memang menjanjikan. Tetapi ini tergantung lagi pada diri sendiri, pebisnis ini mau disiplin atau tidak ketika sudah memegang uang,” ujar pria yang pernah menjadi makelar motor bekas di Kreneng pada era 1998 ini.

Disiplin dalam memegang uang yang dimaksud Ketut adalah dalam hal mengontrol diri. Pada masa pandemi, harga motor bekas memang menurun namun tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah konsumen. Oleh karena itu, penghasilan sudah pasti menurun.

Namun, ketika masa pasca pandemi ini, harga motor bekas tinggi dan cukup banyak pula yang sedang mencari kendaraan dengan cepat tanpa harus menunggu proses inden. Dengan demikian, kebanyakan konsumen akan melirik showroom motor bekas dan berkontribusi terhadap pemasukan pebisnis bidang ini.

“Jadi mereka (pebisnis motor bekas) mulai banyak pegang uang. Kalau sudah seperti ini harus bisa disiplin, jangan uang itu sedikit-sedikit dipakai ngibur. Ya kalau begitu, tidak akan maju-maju apalagi menjanjikan,” tegas Ketut.

Saat ini, usaha dagang Candi Sari Motor milik Ketut yang mengoleksi 61 motor bekas berbagai merek dan jenis, sedikitnya mampu menghasilkan laba Rp 15 juta per bulan. Laba ini jauh meningkat dibandingkan pada masa pandemi yang hampir nihil. *rat

Komentar