nusabali

Sering Hujan, Panen Kopi Anjlok

  • www.nusabali.com-sering-hujan-panen-kopi-anjlok

DENPASAR, NusaBali
Produksi atau panen kopi Kintamani turun sampai 40 persen.  Pemicunya cuaca yakni sering turun hujan ketika kopi mulai berbunga.

Akibatnya panen per hectare yang biasanya mencapai sekitar 5 ton perhektare  kini hanya meraup 3 ton perhektare. I Gusti Ngurah Rupa,  petani kopi asal Desa Catur menuturkan, Selasa (20/7). Dikatakan hujan, yang sering turun menyebabkan pembuahan tidak maksimal, sehingga produksi buah kopi menyusut.

Masa panen kopi juga menjadi lebih pendek. Gusti Ngurah Rupa atau Gusti Mangku Rupa menyebut masa panen tahun 2022 ini. Biasanya musim panen sampai 4 bulan sejak April lalu, tetapi kini hanya sampai berlangsung 3 bulan.  "Juni -Juli ini sudah berakhir, " ujarnya.

Beruntung harga kopi tetap lumayan bagus.  Untuk saat ini harga kopi merah gelondongan Rp 15 ribu perkilo. Sedang tahun lalu sekitar Rp 10 ribu per kilo.

Harga kopi Rp 15 ribu sekilo membantu   mengurangi kerugian akibat panen yang produksinya mengalami penurunan. "Akhirnya sama dengan penghasilan panen tahun lalu,  " ucap Gusti Mangku Rupa yang juga Ketua Masyarakat Indikasi Geografis Kopi Arabica Kintamani.

Pemasaran kopi Kintamani selain mengandalkan pasar lokal juga pasar luar daerah. Adapun pasar luar daerah diantaranya Purbolinggo,  Surabaya dan Malang serta daerah lainnya. Biasanya sudah dalam bentuk produk jadi (bubuk)  ada yang green bean (biji kopi mentah yang belum disangrai.

Demikian juga pemasaran yang ada di Bali. Gusti Mangku Rupa mengiyakan kehadiran coffee shop yang marak seiring membaiknya pariwisata Bali,  juga merupakan potensi pasar.  Hanya saja serapan dari coffee shop tidak banyak. Hal itu karena coffee shop juga menjual dan menyediakan produk kopi lain. "Petani merasakan serapan dari coffee shop -coffee shop yang ada di Bali belum optimal,”ujar Gusti Mangku Rupa. *K17

Komentar