nusabali

3 Sulinggih Muput Tawur di Besakih

  • www.nusabali.com-3-sulinggih-muput-tawur-di-besakih
  • www.nusabali.com-3-sulinggih-muput-tawur-di-besakih

AMLAPURA, NusaBali - Karya Tawur Tabuh Gentuh di Bencingah Agung Pura Besakih, Banjar Besakih Kangin, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Karangasem, Tilem Kasanga, Redite Umanis Langkir, Minggu (10/3).

Dipuput tiga sulinggih. Ketiga sulinggih tersebut, Ida Pedanda Gede Manu Singaraga dari Geria Taman Sari, Banjar/Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Ida Pedanda Gede Wayan Datah dari Geria Pesawan, Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem dan Ida Rsi Bujangga Waesnawa Hari Dantam dari Geria Tumbak Bayuh, Denpasar. 

Hadir juga Wiku Tapini Ida Pedanda Istri Karang dari Geria Suci, Banjar Brahmana, Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem. Puncak dari Karya Tawur Tabuh Gentuh itu, meruwat Bhuta Kala, diakhiri membagikan adonan nasi tawur sembilan warna dan tirta tawur sebagai wujud anugerah Sang Maha Pemurah, simbol kesejahteraan berasal dari alam semesta. 

Prosesinya diawali segenap pamangku melakukan pabersihan keliling mandala upacara, disertai puja sulinggih. Saat prosesi, disertai mementaskan tari wayang kulit dengan dalang I Wayan Suparwita dari Banjar Tihingan, Desa/Kecamatan Bebandem, baris gede dan rejang dewa dari Desa Besakih, serta tabuh selonding dari Sekaa Eka Cita Suara Kanti dari Banjar/Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung.

Saat melakukan persembahan banten pacaruan, pemedek ngayab banten caru, kemudian nyarub banten caru dikoordinasikan Ida Pedanda Istri Karang selaku wiku tapini Karya Tawur Agung. Seluruh isi banten caru agung dikumpulkan terutama nasi sembilan warna. Kemudian diaduk di Yama Raja. 

Nasi tawur itu juga diperciki darah kurban kucit butuan (anak babi hitam belum dikebiri) dan ayam selem (hitam), yang disembelih di atas nasi tawur. Proses itu menjadikan unsur bhuta menjadi Bhuta Hitha. 

Prosesi mengaduk nasi tawur dikoordinasikan I Gusti Mangku Jana, Pamangku di Pura Penataran Agung Besakih. Nasi tawur yang diaduk, kemudian dijadikan lima bagian, sebagai lambang Panca Maha Bhuta, pembentuk alam: pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (cahaya), bayu (angin), dan akasa (ether). Dan kelima unsur itu dibentuk unsur yang lebih halus, Panca tan Matra.

Selanjutnya diaduk kembali menjadi satu, terus menjadi tiga bagian dan terakhir jadi dua. Setiap pembagian nasi tawur itu, disucikan puja sang sulinggih.

Selanjutnya seluruh nasi tawur dimasukkan ke dalam cobek yang telah dirajah bergambar senjata Dewata Nawasanga, cobek (tempayan) ditempatkan di panggungan. Nasi tawur kembali diupacarai melalui puja sang sulinggih, saat itulah unsur Bhuta Kala yang telah disomiakan menjadi Bhuta Hitha.

Prosesi berikutnya, melakukan pamuspaan 11 kali, berlanjut pemedek mohon nasi tawur, dibawa pulang untuk kasuburan semesta. "Karya Tawur ini kan, menyupat Bhuta Kala menjadi Bhuta Hita, melalui puja sulinggih, untuk kesejahteraan dan kemakmuran umat sedharma," jelas I Gusti Mangku Jana.

Karya Tawur itu rangkaian Karya Agung Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Penataran Agung Besakih yang puncaknya, Purnama Kadasa, Redite Kliwon Pujut, Minggu (24/3), Ida Bhatara nyejer, selama 21 hari dan nyineb, Redite Umanis Merakih, Minggu (14/4).

Hadir di upacara Karya Tawur, Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya, Sekprov Bali I Dewa Made Indra, Bupati Karangasem I Gede Dana, Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa, Ida Dalem Semaraputra dari Puri Agung Klungkung.7k16

Komentar