nusabali

Perkuat Alam Bali Sebagai Gumi Banten

Makna Terdalam Lontar Dharma Kauripan

  • www.nusabali.com-perkuat-alam-bali-sebagai-gumi-banten

DENPASAR, NusaBali - Pemaknaan tentang kesucian diri manusia dan alam semesta begitu luas dibahas dalam karya sastra Lontar Dharma Kauripan. Sastra kuno ini secara tidak langsung mengajak untuk menjaga alam sebagai sumber bebantenan.

Eksistensi lontar Dharma Kauripan ini dibahas tuntas dalam acara Widyatula (Sarasehan) Bedah Lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali (BBB) VI di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Jumat (23/2).

Materi bedah lontar ini berlangsung menarik, para peserta yang hadir adalah para guru, dosen, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bali yang begitu antusias mengikuti sarasehan sejak awal hingga akhir. Selaku narasumber adalah penekun sastra, dosen, sekaligus penulis muda I Gede Agus Darma Putra yang tak asing lagi kiprahnya di kalangan sastra di Bali.

Darma Putra menyajikan materi berjudul ‘Lontar Dharma Kauripan: Sepat Siku-siku Ngulati Jana Kerthi’ yang lebih banyak mengungkap pemaknaan bebantenan yang diaplikasikan dalam pemahaman generasi muda. Ia menekankan pentingnya mengetahui unsur-unsur atau bahan bebantenan (sesajen) di alam yang harus dijaga dan dilindungi.

Darma Putra mengatakan, membaca lontar itu sama halnya seperti membuka dunia. Ada banyak hal yang belum bisa diketahui maksudnya, terutama pemaknaan-pemaknaannya.

“Paling penting dari lontar itu, kita belajar bagaimana hubungan antara manusia dengan alam. Menjaga manusia sama dengan menjaga alam semesta, sehingga kita mempunyai kepekaan interpersonal dengan alam semesta,” kupas Darma Putra.

Dalam pandangan Hindu Bali alam sangat erat kaitannya dengan bebantenan.

Selain memahami banten secara visual juga diperlukan pengetahuan sastra dan mengenal alam sebagai penyuplai bahan banten. Caranya, yaitu dengan tetap menjaga kelestarian alam.

Misalnya banten prayascita, dengan tetandingannya berupa sesayut, yang terbuat dari daun kelapa, sehingga harus mampu menjaga keberadaan pohon kelapa. Contoh lainnya dalam pejati terdapat tetandingan pangi, maka harus ada pengetahuan-pengetahun tentang sumber pangi itu di alam.

“Makanya, harus ada gerakan taman gumi banten, yaitu taman yang disediakan untuk belajar dan menyediakan kebutuhan untuk banten, dan pengetahuan itu banyak ditemukan dalam lontar-lontar kita, ” paparnya.

Menurutnya, di tengah arus modernisasi saat ini masih ada generasi muda yang mampu dan ingin membaca lontar. Oleh karena itu perlu belajar membaca aksara dan bahasa Bali yang bagus, bahasa Bali kuno, bahasa Jawa kuno dan dilengkapi dengan Sansekerta. “Bahasa lain juga perlu untuk belajar sumber-sumber sekunder, seperti bahasa Belanda, Perancis, Inggris dan bahan lainnya,” bebernya.

Dalam kesempatan tersebut Darma Putra juga menyinggung terkait penglukatan atau pembersihan diri yang menggunakan sarana air, banten, dan mantra. “Saat ini penglukatan sangat tren, bahkan sering dijadikan paket wisata. Melukat itu beda dengan mandi. Melukat harus ada mantranya. Walau demikian, ada pula yang mempercayai melukat itu tidak perlu ada mantra. Melukat itu karang keneh (keinginan). Menurut saya, melukat itu dijadikan paket pariwisata sah-sah saja, asalkan tidak menggangu orang yang benar-benar ingin melukat,” imbuhnya.

Lanjut dia, para wisatawan yang membeli paket melukat harus menghormati tata cara di tempat melukat itu sendiri. Masing-masing tempat melukat pun memiliki tata cara tersendiri, sehingga harus dipatuhi. “Nah, kalau untuk melukat itu harus ada dan dijaga tempatnya seperti sumber air, danau, sungai dan sebagainya, maka kita harus menjaga sumber air itu sendiri. Pemeliharaan itu yang harus kita galakkan. Kalau itu dijadikan paket pariwisata itu bonus dari pemeliharaan sumber air yang kita lakukan,” tegasnya.

Darma Putra mengatakan beberapa desa di Bali sekarang banyak mengembangkan penataan pengelutan dengan taman yang indah, pohonnya dijaga, airnya bersih. Tetapi, indah di Bali itu harus dibarengi dengan suci dan benar. Sesuai dengan Satyam Siwam Sundaram. “Karena itu penting dan bagus kita untuk belajar kembali tentang tumbuh-tumbuhan itu, juga tentang proses penglukatan itu sendiri. Intinya, kita tidak boleh melupakan yang digunakan untuk menjaga keseimbangan itu,” ujarnya.

Beberapa usulan disampaikan para peserta terhadap keberadaan lontar-lontar di Bali. Mereka berharap agar lontar-lontar yang ada di Bali daoat terus dikonservasi atau dialihaksarakan. Sehingga semakin banyak pengetahuan yang ada dalam lontar bisa dimanfaatkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. ”Perlu upaya serta kebijakan pemerintah agar melakukan penyelamatan lontar-lontar dan identifikasi lontar di seluruh pelosok Bali, sehingga pengetahuan yang ada dalam lontar semakin banyak orang mengetahui,” kata Ni Wayan Ariani, salah seorang peserta.7a

Komentar