nusabali

‘Stand Up Comedy’ Bahasa Bali Pancing Tawa

  • www.nusabali.com-stand-up-comedy-bahasa-bali-pancing-tawa

DENPASAR, NusaBali - Peserta Wimbakara (lomba) Babanyolan atau ‘stand up comedy’ Bulan Bahasa Bali (BBB) VI tampil percaya diri di Kalangan Ayodya, Taman Budaya (Art Centre) Provinsi Bali, Denpasar, Selasa (20/2). Sepuluh peserta sukses membuat penonton dan juri tertawa.

Mereka dinilai oleh tiga dewan juri kawakan di bidang bebondresan, Prof Dr I Wayan Sugita, Dr I Ketut Kodi, dan I Ketut Suanda (Cedil). Para peserta tampil dengan baik dan mampu membawakan gaya atau versi masing-masing daerah. 

Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali menggelar babanyolan sebagai upaya untuk lebih membumikan bahasa Bali di masyarakat. Lomba babanyolan mengangkat tema ‘Jana Kerthi Dharma Sadhu Nuraga’ yang bermakna Bulan Bahasa Bali merupakan altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai sumber kebenaran, kebijaksanaan, dan cinta kasih untuk memperkuat jati diri krama Bali.

Prof I Wayan Sugita mengakui pelaksanaan lomba babanyolan kali ini patut diapresiasi terutama kepesertaan anak-anak atau pemuda dari berbagai daerah di Bali. Mereka luar biasa berani tampil di atas panggung untuk melahirkan kelucuan. 

“Jadi antusias anak-anak, pemuda yang mau menekuni babanyolan cukup merata dan penuh semangat. Saya amati ada pengembangan yang cukup baik, bagi dunia babanyolan di Bali, dalam membumikan Bahasa Bali,” kata Prof Sugita yang juga seniman drama gong.

Dikatakannya, kriteria yang dinilai adalah bahasa, anggah ungguhin bahasa, kemudian sesuai dengan tema, selanjutnya kemampuan untuk menampilkan kelucuan mampu disajikan dengan baik. “Dari penampilan anak-anak, saya merasakan ada kemampuan untuk menampilkan kelucuan, namun ada pula peserta yang susah untuk  mengeluarkan kelucuan. Mereka belum mampu menyajikan cara-cara untuk memancing audiens untuk tertawa serta penguasaan materi yang disiapkan sebelumnya,” kata Prof Sugita.


Yang menarik menurut Prof Sugita adalah kepesertaan, dari 10 peserta 4 orang di antaranya mewakili Kabupaten Buleleng. “Kita tahu gaya bahasa Buleleng sangat komunikatif, kemudian kemampuan penguasaan panggung juga cukup baik. Memang kalau lomba babanyolan kali ini nuansa Buleleng lebih banyak, dan saya senang dalam improvisasi mereka tidak berlebihan. Syukur dalam konteks babanyolan kali ini tidak ada yang mengungkapkan kelucuan dengan menggunakan bahasa jorok atau jaruh,” tandasnya.

Terkait dengan bibit babanyolan di Bali, menurut Prof Sugita semakin merata, terlebih kekhasan masing-masing daerah beragam. “Mulai muncul versi Negaroa, versi Buleleng semakin merata, dan sangat bagus kita nikmati. Ini mencerminkan potensi ke depan kesenian bebondresan semakin ajeg dan lestari,” tuturnya.

Dalam ajang tersebut tim dewan juri menetapkan tiga juara. Juara I adalah I Kadek Yoga Satria Wardana (Buleleng), juara II adalah I Gede Dika Agastya Ermawan ( Tabanan), dan juara III Gede Candra Gupta (Buleleng).

Sama seperti tahun sebelumnya, pelaksanaan BBB VI meliputi 6 agenda, yakni, wimbakara (lomba), sasolahan (seni pertunjukan), widyatula (seminar), kriyaloka (workshop), reka aksara (pameran), dan penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama. 

Dari 6 agenda tersebut, kegiatan lomba akan mendominasi. Total ada 20 lomba yang dapat dibagi menjadi 2 kategori, yakni lomba yang pesertanya adalah perwakilan kabupaten/kota sebanyak 6 lomba dan lomba yang diikuti oleh masyarakat umum sebanyak 14 lomba.

Adapun 14 lomba dengan peserta masyarakat umum, meliputi Lomba Ngripta Prasi, Lomba Opini, Lomba Ngwacen Puisi Bali Anyar, Lomba Ngripta Puisi Bali Anyar, Musikalisasi Puisi, Lomba Mewarnai, Lomba Menggambar Satua Bali, Lomba Membuat Komik Online, Lomba Gending Rare, Lomba Foto dengan Caption Berbahasa Bali, Lomba Drama Bali Modern, Lomba Ngripta Cerpen, Lomba Baligrafi, dan Lomba Babanyolan Tunggal. 7 a 

Komentar