nusabali

Setelah Disucikan, Roh Manusia Purba Gilimanuk akan Dibuatkan Gedong

Puncak Upacara Ngaben Kusa Prenawa, Penyucian Kerangka Manusia Purbakala di Gilimanuk

  • www.nusabali.com-setelah-disucikan-roh-manusia-purba-gilimanuk-akan-dibuatkan-gedong

Ngaben Kusa Prenawa ini adalah pengabenan dengan menggunakan simbol daun alang-alang dengan aksara suci yang dijadikan simbolis pengawak atau badan manusia

NEGARA, NusaBali
Puncak upacara ngaben Kusa Prenawa untuk penyucian kerangka manusia prasejarah atau manusia purbakala di Museum Manusia Purba Gilimanuk, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Jembrana, digelar pada Wraspati Pon Wariga, Kamis (1/2). Setelah disucikan, Bupati Jembrana I Nengah Tamba berencana akan membuatkan sebuah gedong sebagai linggih (tempat) roh manusia purba di museum setempat.

Hal itu diungkapkan Bupati Tamba saat menghadiri acara Uleman Manggala Praja dan Guru Saksi yang juga menjadi salah satu rangakaian dalam ngaben massal tersebut, Rabu (31/2) petang. Dalam acara itu, juga hadir Wakil Bupati Jembrana I Gede Ngurah Patriana Krisna, Sekda Jembrana I Made Budiasa, Pj Gubernur Bali yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kapolda Bali yang diwakili Kabid Labfor Polda Bali, Asisten Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sejumlah undangan lainnya.

Ngaben Kusa Prenawa ini adalah pengabenan dengan menggunakan simbol daun alang-alang dengan aksara suci yang dijadikan simbolis pengawak atau simbolis badan manusia. Artinya, kerangka manusia purba yang menjadi benda bersejarah tidak dibakar seperti pengabenan pada umumnya. Selain kerangka manusia purba yang ada di Museum Manusia Purba Gilimanuk, juga sekalian dilakukan penyucian terhadap kerangka manusia purba Gilimanuk yang tersimpan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

Foto: Prosesi ngeseng yang menjadi puncak upacara ngaben Kusa Prenawa di Museum Manusia Purba Gilimanuk, Kamis (1/2). -IST

Untuk simbolis manusia purba itu, dijadikan dua sekah/puspa lingga (simbol roh), yakni lanang dan istri (laki-laki dan perempuan). Di samping penyucian kerangka manusia prasejarah, upacara ngaben Kusa Prenawa yang digelar bersama ngaben massal atau ngaben kolektif gratis itu juga diikuti masyarakat Kabupaten Jembrana. Di antaranya ada yang ikut mamungkah sebanyak 7 sawa, mamukur sebanyak 12 sawa, dan ngelungah sebanyak 26 sawa.

Bupati Jembrana I Nengah Tamba mengatakan, sebelumnya telah mencari informasi dan data-data terkait dengan apakah diperbolehkan untuk dilaksanakan upacara pengabenan Kusa Prenawa bagi kerangka manusia prasejarah Gilimanuk. Menurutnya, memang tidak diketahui secara pasti siapa yang memiliki luhur manusia prasejarah itu. Namun manusia prasejarah itu sudah jelas adalah manusia dan perlu disucikan.

"Saya tidak tahu ini kawitannya (leluhurnya) siapa. Tapi ini kan kerangka manusia prasejarah yang ada di Kabupaten Jembrana. Mungkin jika ini binatang prasejarah saya tidak ambil pusing. Tapi karena ini manusia menjadi beban pikiran saya. Wajib saya sebagai Bupati untuk melaksanakan penyucian terhadap kerangka-kerangka manusia yang ada di Gilimanuk ini," ujar Bupati Tamba. Dia mengatakan, pengabenan Kusa Prenawa ini juga menyertakan roh-roh dari kerangka manusia purba Gilimanuk yang tersimpan di UGM Jogjakarta. Di mana untuk pelaksanaan penyucian kerangka manusia yang ada di UGM itu sebelumnya telah dilakukan prosesi ngulapin (pemanggilan roh) di Gilimanuk.

"Ternyata dalam perjalanannya, kami menemukan kerangka yang ada di sini, ada juga di lab UGM. Sebanyak 275 ada kerangka di situ yang diteliti oleh para ahli di UGM. Secara niskala, seluruh kerangka atau roh yang ada di situ sudah kita panggil untuk pulang ke tanah Gilimanuk. Hari ini kita sucikan dengan kita sebut sebagai pengabenan Kusa Pranawa," kata Bupati Tamba.

Bupati Tamba juga menyampaikan terima kasih kepada Menparekraf yang telah memberikan dukungan serta dari Pemprov Bali, Polda Bali, dan kabupaten/kota lainnya di Bali yang telah bisa hadir untuk mendukung pelaksanaan upacara pengabenan Kusa Pranawa ini. Termasuk apresiasi kepada seluruh Bendesa Adat dan masyarakat baik yang terlibat langsung maupun yang memberikan dukungan sehingga upacara pengabenan ini dapat terlaksana dengan baik.

Setelah upacara pengabenan Kusa Pranawa selesai dilaksanakan, Bupati Tamba menyampaikan untuk sementara roh manusia prasejarah yang telah disucikan itu akan dikembalikan ke laut. Nantinya, dirinya mengaku akan membuatkan bangunan untuk linggih (tempat) roh manusia prasejarah itu.

"Di anggaran perubahan tahun ini kita akan membangun Gedong Purba. Untuk saat ini, setelah maajar-ajar yang akan dilaksanakan, Sabtu (3/2) nanti, kita larung dulu di segara (laut). Dan nanti pada saatnya kita akan kembali gelar prosesi ngulapin, baru kita linggihkan di Gedong Purba," ucap Bupati asal Desa Kaliakah, Kecamatan Negara ini.

Foto: Bupati Jembrana I Nengah Tamba hadiri rangkaian upacara ngaben Kusa Prenawa. -IST

Sementara Asisten Laboratorium Bioantropologi dan Paleoantropologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Dismas Rienthar Adhyaksa mengatakan kerangka manusia prasejarah Gilimanuk yang tersimpan di UGM diperkirakan berumur 2000-an tahun. Selain disimpan, kerangka tersebut digunakan sebagai objek penelitian. Adapun jumlah individu kerangka yang tersimpan di UGM, itu mencapai sebanyak 275 individu.

"Yang kami lakukan, selain menyimpan dan mengkonservasi, kami juga melakukan penelitian terutama yang berkaitan dengan Paleoantropologi, yaitu semacam studi ilmu yang mempelajari penyakit-penyakit yang ada di manusia-manusia purba," ucap Dismas.

Menurut Dismas, kerangka manusia prasejarah Gilimanuk itu tidak hanya terdiri dari satu kelompok masyarakat. Namun ditemukan sejumlah ciri-ciri berbeda pada kerangka yang diteliti. Hal itu pun mengindikasikan bahwa manusia-manusia purba yang dikuburkan di Gilimanuk itu juga berasal dari berbagai wilayah di luar Gilimanuk.

"Dari indikasi itu, kami menginterpretasikan bahwa situs Gilimanuk itu boleh dibilang spesial. Istimewa itu bisa karena kerangka-kerangka manusia purba itu sengaja disucikan atau memang cocok untuk penguburan di Gilimanuk," jelas Dismas. Terkait dengan Upacara Ngaben Kusa Prenawa yang diadakan untuk manusia prasejarah Gilimanuk, Dismas mengatakan sangat mengapresiasi apa yang dilaksanakan oleh Pemkab Jembrana. Hal ini menurutnya sebagai wujud penghormatan terhadap kerangka manusia prasejarah sebagai leluhur masyarakat di Gilimanuk.

"Jasad-jasad mereka yang telah meninggal, membantu kita belajar berbagai hal tentang evolusi, migrasi, forensik hingga status kesehatan masa lalu yang dapat menjadi rujukan kita untuk membangun masyarakat yang lebih baik. Sudah selayaknya kita menghormati dan memperlakukan jasad-jasad tersebut seperti manusia yang masih hidup," ucap Dismas. 7 ode

Komentar