nusabali

Masih Terkenang Kontak Senjata Operasi Seroja 1975

Kisah Veteran Ketut Sujana, Ketua LVRI Kabupaten Gianyar

  • www.nusabali.com-masih-terkenang-kontak-senjata-operasi-seroja-1975

GIANYAR, NusaBali - Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Gianyar, I Ketut Sujana, 67, terkenang masa berjuang setiap kali memperingati Hari Kemerdekaan RI. Veteran asal Banjar Sampiang, Kelurahan/Kecamatan Gianyar ini belum bisa melupakan suasana kontak senjata saat Operasi Seroja Tahun 1975 di Timor Timur.

Saat itu, Sujana bertugas sebagai Brimob dan bertempur memperjuangkan kemerdekaan dari penjajahan Portugal di Timor Timur. “Kami selama 1 tahun bertugas termasuk pengamanan perbatasan,” ungkap Sujana, Selasa (15/8). Meskipun seorang Brimob dan sudah bergabung menjadi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) sejak muda, saat bertempur ada rasa takut. Berbekal tekad dan keyakinan yang kuat, akhirnya percaya diri bertempur demi Indonesia. “Hambatan dan tantangan pasti ada, tapi kita tetap semangat demi persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, satu komando kita kalahkan penjajah,” imbuhnya.

Menurutnya, saat itu ada tiga kelompok yang berperang yakni UDT yang ingin merdeka di bawah Portugis, Fretilin yang ingin merdeka sendiri, dan Apodeti yang ingin bergabung dengan Indonesia. Sujana bersyukur karena dapat menunaikan tugasnya dengan baik dan bisa kembali berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat. Tak sedikit rekannya yang gugur dalam bertugas dan pulang hanya nama. “Setiap hari berperang, bertempur. Kontak senjata hampir setiap hari, ada di antara hidup dan mati,” ceritanya.

Keanggotaan LVRI Gianyar saat ini sebanyak 51 veteran. Terdiri dari 6 veteran pejuang dan 45 veteran pembela. Sujana menerangkan, veteran pejuang adalah mereka yang melakukan pergerakan dalam merebut kemerdekaan. Veteran pembela adalah mereka yang ikut angkat senjata merebut kemerdekaan di suatu wilayah. Veteran pembela ada tiga jenis yakni veteran pembela Trikora yang berjuang pada periode 1961-1963, veteran pembela Dwikora yang berjuang pada periode 1964-1966, dan veteran pembela Seroja yang berjuang pada periode 1975-1976. “Saya masuk veteran pembela Seroja yang ditugaskan di Timor Timur, namanya Operasi Seroja,” beber Sujana.

Veteran pembela Trikora berjuang merebut kemerdekaan di Irian, veteran pembela Dwikora merebut kemerdekaan di Kalimantan. Menurut ayah dua orang anak dan empat cucu ini, kesejahteraan para veteran sudah cukup diperhatikan oleh pemerintah. Dibuktikan dengan hak tunjangan veteran dan dana kehormatan oleh pemerintah. Sujana menerima dana Rp1,8 juta per bulan, bisa diambil di Kantor Pos terdekat. “Tunjangan lain tergantung kebijakan di daerah masing-masing. Dari Pemerintah Provinsi akan memberikan dana kematian Rp 10 juta,” jelasnya.

Sujana dengan pangkat terakhir AKBP dan bertugas di Polda Bali ini mengatakan, cukup atau tidak cukup dana yang didapat tergantung dari veteran sendiri. Terpenting adanya perhatian dari pemerintah. “Sudah diperhatikan saja kami sangat berterima kasih. Mudah-mudahan pemerintah ke depannya punya kebijakan lain untuk mensejahterakan veteran,” harap suami Ni Nyoman Sukerti ini. Sebagai pejuang kemerdekaan, dia berharap generasi muda dapat meneladani nilai-nilai luhur perjuangan. “Dulu kami berjuang merebut kemerdekaan, sekarang generasi muda melanjutkan dengan mengisi kemerdekaan menuju masyarakat adil dan makmur berlandaskan Pancasila,” ujar Sujana. 7 nvi

Komentar