nusabali

Mengubah Cara, Mencapai Tujuan

  • www.nusabali.com-mengubah-cara-mencapai-tujuan

Orang cerdas berbeda dengan orang pintar. Dalam KBBI, cerdas adalah ciri seseorang yang menggunakan ketajaman berpikir untuk memahami situasi menggunakan akal budi secara tajam.

Dalam situasi yang tidak memungkinkan ia berjalan lurus, maka ia segera mencari dan menemukan alternatif.  Ia tidak berpikir dan bertindak atas dasar kebiasaan. Ia tidak menentang sistem sosial atau religi apapun. Ia hanya mengubah cara untuk bisa mencapai tujuan. Menurut Edward Anthony, salah seorang pakar pembelajaran, pendekatan dipahami sebagai asumsi atau aksioma. Pendekatan ini selanjutnya menurunkan metode. Metode merupakan langkah-langkah pokok dalam mencapai tujuan. Metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu meta hodos, jalan yang ditempuh untuk sampai pada tujuan.

Ada banyak jalan menuju Roma! Pilihan jalan amat bergantung situasi dan kondisi.  Apabila situasi dan kondisi tidak normal, maka seseorang harus cerdas memilih jalan yang akan ditempuh. Roma adalah tujuan, tetapi karena alasan operasional, maka penerbangan diundur (delayed flight). Demikian juga dalam situasi pandemi, maka pencapaian tujuan ditunda (delayed objective). Penundaan penerbangan merupakan pilihan yang cerdas. Kalau ini dipaksakan, akibat yang lebih buruk bisa terjadi. Keluhan, gerutu, dan bahkan cacian bisa terlontar dari penumpang. Demikian juga, keharusan untuk tidak bepergian atau berdekatan secara fisik merupakan pendekatan paling aman untuk memotong penyebaran virus dan dampak negatif. Semua harus menahan diri, hati, dan ambisi. Menahan diri adalah cara untuk menyayangi orang lain!

Orang pintar adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Orang pintar belum tentu cerdas. Kepintaran selalu dikaitkan dengan prestasi akademik. Orang pintar kadang ditengarai hanya bisa menjawab hal-hal yang dipelajari, hafalan bukan pengertian. Banyak orang terpelingsut menyamakan antara pintar dan cerdas. Orang yang pintar dan cerdas adalah idaman. Orang pintar akan menggunakan ilmu pengetahuan secara cerdik dan cermat dalam memahami atau memilih cara yang paling aman, nyaman, dan sehat. Orang pintar mengandalkan ilmu pengetahuan. Sedangkan, orang cerdas bersandar pada logika, etika, dan estetika.

Orang pintar mungkin disiplin dan sistematis; orang cerdas lebih kreatif berinovasi menemukan cara atau teknik jitu mencapai tujuan. Orang pintar bisa dibenci karena salah mengaplikasikan ilmu pengetahuan; sedangkan orang cerdas cenderung dicintai karena kebajikan dan kebijakannya. Orang pintar berpikir panjang dan jelimet karena kehati-kehatian, reliabilitas, dan/atau validitas; sedangkan, orang cerdas berpikir efisien, bijak, dan/atau toleran.

Orang pintar selalu menggunakan otak untuk berpikir; sedangkan orang cerdas lebih mengedepankan upaya inovatif, kreatif dan produktif. Dalam situasi kaotik, karena pandemi seperti saat ini, diperlukan orang cerdas yang selalu berupaya untuk bangkit dari keterpurukan, kegagalan, dan sejenisnya. Siapa saja orangnya, warga negara yang berbudi, harus berpikir, berkata, berbuat secara cerdas untuk mengupayakan cara inovatif dan kreatif dalam mencegah bencana tanah ini, seperti gending Ebiet G Ade. Orang cerdas dan kreatif tidak menggunakan suku, agama, atau ras, sebagai upaya kreatif pencegahan bencana ini.

Upaya-upaya sederhana, seperti mencuci tangan sesering mungkin, tidak keluar rumah untuk sesuatu keperluan, menjaga jarak fisikal aman dua meter, memakai penutup hidung dan mulut yang bersih, berjemur cukup limabelas menit, makan makanan bergizi seimbang, menjaga badan sehat dan bugar, berdoa secara teratur, dan lain sebagainya. Orang cerdas seperti inilah yang diperlukan saat ini. Orang pintar akan diwakili oleh dokter, relawan, Polri, TNI, pemerintah atau yang lainnya untuk mencari jalan medis dan non-medis untuk pencegahan maupun menyembuhan. Sinergi demikianlah yang diharapkan terjadi antara kecerdasan dan kepintaran saat ini agar bencana ini cepat tertangani dengan sempurna. Semoga. *

Prof.Dewa Komang Tantra,MSc.,Ph.D.
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya

loading...

Komentar