nusabali

Rela Tinggalkan Jabatan di Bank Demi Merintis Usaha Obat Herbal

Drs I Dewa Agung Made Suryawan S Kes A, Peracik Obat Herbal Asal Desa Jehem, Kecamatan Tembuku

  • www.nusabali.com-rela-tinggalkan-jabatan-di-bank-demi-merintis-usaha-obat-herbal

Sang istri sempat shock saat Dewa Agung Made Suryawan bikin keputusan drastis beralih ke obat herbal, hingga tinggalkan jabatan Manajer Marketing BPR di Ubud dengan gaji Rp 15,1 juta plus fasilitas tunjangan wah tahun 2013

DENPASAR, NusaBali

Suara hati menyebabkan orang bisa melakukan hal-hal yang sepertinya tidak masuk akal. Tetapi, itulah yang dialami Drs I Dewa Agung Made Suryawan S Kes A, 57, peracik dan pengusaha obat-obatan herbal asal Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Bangli. Sempat menduduki jabatan empuk di bank dengan segala fasilitas yang wah, Dewa Agung Suryawan justru pilih banting setir merintis dan membuat obat herbal.

Dewa Agung Suryawan dulunya adalah karyawan sebuah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di kawasan wisata Ubud, Desa/Kecamatan Ubud, Gianyar. Jabatan terakhirnya di bank tersebut adalah sebagai Direktur Marketing, dengan gaji lumayan besar dan fasilitas oke. Namun, alumnus Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar ini pilih mengundurkan diri dari BPR tersebut pada 2013 lalu.

Dewa Agung Suryawan rela meninggalkan jabatan empuk di BPR tersebut karena rasa keterpanggilan untuk menolong orang lain melalui obat herbal. Sejak keluar dari bank tahun 2013 silam, dia merintis usaha obat herbal. Dia sendiri yang meracik obat herbal tersebut.

“Tentu saja tidak mudah mengawali usaha obat herbal dari nol. Padahal, saya di bank bergaji Rp 15,1 juta, plus berbagai fasilitas yang membuat nyaman. Istri saya sampai drop, karena stres,” kenang Dewa Agung Suryawan saat ditemui NusaBali di rumahnya kawasan Banjar Biaung, Desa Kesiman Kertalangu, Kecamatan Denpasar Timur, beberapa waktu lalu.

Maklum, karena berhenti kerja di bank, Dewa Agung Suryawan harus kehilangan pendapatan untuk menopang hidup keluarganya. Ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Anak Agung Ayu Kertiningsih ini kehilangan gaji Rp 15,1 juta per bulan. Belum termasuk tunjangan kesehatan dan fasilitas wah lainnya, seperti mobil.

Padahal, kondisi keluarganya saat itu sangat membutuhkan penghasilan tetap, mengingat dua dari tiga anaknya sedang kuliah. Selain itu, Dewa Agung Suryawan sendiri juga sedang menyusun skripsi untuk menyelesaikan kuliahnya di Unhi Denpasar.

Menurut Agung Suryawan, bukan hanya sang istri, ketiga anak, dan saudara-saudaranya yang amat menyayangkan keputusannya berhenti kerja di bank dan banting haluan merintis usaha obat herbal. Manajemen BPR tempatnya bekerja juga tidak ingin pria yang akrab dipanggil Jung Kumis ini berhenti kerja.

Pihak BPR merasa masih sangat membutuhkan tenaga Agung Suryawan. Selain itu, tidak pernah ada persoalan, Agung Suryawan juga dinilai berkinerja bagus di bank tersebut. Hal itu ditunjukkan dengan melesatnya aset bank dari semula Rp 9 miliar hingga tumbuh menjadi Rp 79 miliar. “Namun, saya sudah telanjur putuskan mundur, walau sebenarnya sempat ragu juga berhenti kerja di bank,” tutur pria ke-lahiran Bangli, 23 September 1963 ini.

Agung Suryawan menyebutkan, ada sejumlah alasan kenapa banting setir menggeluti usaha obat herbal. Pertama, kecenderungan masyarakat back to basic alias kembali ke alam, termasuk dalam penggunaan obat-obatan herbal. “Apa yang ada pada manusia, itulah ada pula pada alam yakni konsep bhuwana alit dan bhuwana agung,” ujarnya.

Demikian juga dalam hal kesehatan dan penyembuhan, menurut Agung Suryawan, bahan-bahan obat dari alam akan lebih gampang larut dan tidak meninggalkan residu pada tubuh. Ini lebih aman dibanding jenis obat lainnya, karena tidak menimbulkan efek samping.  

“Tumbuhan atau isi alam, tidak sekadar untuk konsumsi, namun sangat bermanfaat bagi kesehatan yakni sebagai obat,” jelasnya. “Tidak hanya sebagai obat, tetapi sekaligus pencegahan,” lanjut ayah dari I Dewa Agung Gede Rama Wikantara, I Dewa Agung Made Darma Wikantara, dan I Dewa Agung Bagus Satria Putra Nugraha Wikantara ini.

Motivasi lainnya di balik keputusan drastis Agung Suryawan banting setir geluti usaha obat herbal adalah ingin berbuat lebih banyak untuk orang, sekaligus bermanfaat bagi diri sendiri. Inilah yang disebutnya panggilan hati. “Kan lain rasanya kalau orang yang kita bantu menjadi lebih baik atau sehat,” katanya.

Namun, bukan berarti keputusannya menggeluti obat herbal adalah hal yang tiba- tiba. Semua melalui proses yang tanpa disadari sebelumnya. Menurut Agung Suryawan, hal ini bermula ketika salah seorang temannya yang tinggal di kawasan Sesetan, Denpasar Selatan mengalami susah tidur. Temannya itu meminta tolong kepada Agung Suryawan agar bagaimana caranya bisa tidur.

Agung Suryawan pun spontan menyanggupi permintaan temannya itu. Dengan bersaranakan air bersih, Agung Suryawan mencoba melakukan penyembuhan jarak jauh. Hal itu terjadi sekitar tahun 2006 silam, ketika Agung Suryawan masih bekerja di sebuah bank di kawasan Kelurahan Sempidi, Kecamatan Mengwi, Badung.

“Lewat pengobatan jarak jauh, teman saya tersebut akhirnya bisa tidur nyenyak dan sembuh. Hal serupa juga dialami istri seorang dokter yang sempat saya obati,” cerita Agung Suryawan, yang sempat kulai S1 di FKIP Unud Singaraja (tamat tahun 1989).

Dari situlah Agung Suryawan kemudian seperti tertuntun untuk menggeluti obat herbal. “Karena ada saja orang yang datang minta berobat, sehingga terkadang saya sampai dinihari masih menangani pasien,” papae Agung Suryawan.

Sampai akhirnya Agung Suryawan berhenti kerja di bank dan mulai total meramu obat-obatan herbal sejak tahun 2013. Bahan-bahan obat yang digunakan semuanya  alami, seperti jahe, umbi-umbian, dedauan binahong, hingga bawang mutiara. Obat-obatan herbal yang dibikin Agung Suryawan mulai dari bentuk boreh, kapsul, hingga minyak. Perlahan-lahan, produk obat herbal-nya semakin dikenal luas.

Karena produk obat herbal racikannya itu, Agung Suryawan dapat kesempatan pameran ke berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, Malang, Lampung, dan Bengkulu.” Itu jadi kebanggaan tersendiri buat saya,” papar Agung Suryawan. *k17

loading...

Komentar