nusabali

Bencana Longsor Hantui Klungkung

  • www.nusabali.com-bencana-longsor-hantui-klungkung

Klungkung mulai melakukan langkah-langkah antisipasi menghadapi  kemungkinan bencana-salah satunya bencana tanah longsor- menyusul diperkirakan akan dimulainya musim penghujan. 

Pemetaan wilayah bencana kemungkinan tidak pas karena masih dilakukan dengan cara pengamatan atau penglihatan visual. 

SEMARAPURA, NusaBali 
Salah satunya dengan melakukan pemetaan kawasan rawan  bencana tanah longsor.  Hanya saja, soal akurasi pemetaan kemungkinan ada yang  tak pas. Hal tersebut disebabkan modus pemetaan  yang ‘kuno‘ yakni hanya dengan mengandalkan penglihatan visual lapangan saja.

Kepala Pelaksana  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Klungkung Putu  Widiada, menjelaskan pemetaan lokasi rawan bencana longsor, memang dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan longsor terjadi. “Kita di  Klungkung kan termasuk rawan longsor,“ ujar Widiada, yang mantan Camat Banjarangkan, Kamis ( 5/11). 

Kata Widiada, hal merujuk kondisi  geografis wilayah Klungkung, yang banyak berbukit dengan tekstur tanah yang labil, sehingga gampang tergerus atau longsor. Lokasi-lokasi rawan longsor di antaranya di kawasan utara kecamatan Banjarangkan,seperti di Desa Timuhun, Bungbungan, Nyalian, dan yang  lain. 

Demikian juga wilayah kecamatan lainnya, Klungkung, Dawan dan Kecamatan Nusa Penida.  Yang terakhir ini yakni di Kecamatan Nusa Penida, juga rawan longsor, meskipun tanahnya kering berkapur.  Salah satunya penyebabnya penggalian galian C (batu kapur) yang jamak di beberapa lokasi di Nusa Penida.  “Sekarang ini, kami sedang turun melakukan pendataan di Nusa Penida,“ ungkap Widiada. 

Sedang  pemetaan pada tiga kecamatan lainnya, Banjarangkan, Klungkung dan Kecamatan Dawan, sudah dilaksanakan mendahului.  Kata Widiada, hasil pemetaan tersebut akan disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga warga tahu peta ancaman kebencanaan, sehingga lebih dini bisa melakukan antisipasi, seandainya bencana alam, seperti tanah longsor terjadi.

Widiada, menyatakan pemetaan dilakukan BPBD dilaksanakan secara manual;  lewat pengamatan atau penglihatan  visual. “Kita belum ada alat ukur  pergeseran tanah, yang merupakan early warning system,“  jelas Bagiada.  Karenanya, dia tak menampik, kemungkinan  ada yang tidak pas dengan pemetaan dan gambaran ancaman kebencanaan, yang merujuk pada pola manual tersebut.

Di tempat terpisah, Polres Klungkung, juga melakukan antisipasi serupa. Terkait antisipasi ancaman bencana,  Kapolres Klungkung AKBP FX Arendra Wahyudi, mengundang sejumlah pimpinan SKPD terkait, Kamis (5/11) membahas antisipasi penanganan kebencanaan.  Para pimpinan SKPD yang hadir di antaranya Asisten II Sekda Klungkung I Ketut Suayadnya,  BPBD, Satpol PP, Dinas PU, Dinas Sosial, dan pihak Kodim 1610/Klungkung. “Kami membantu berusaha memberi rasa aman dan nyaman kepada masyarakat, seadainya terjadi bencana,”  ujar Kapolres  FX Arendra Wahyudi. 

Pembahasan dilakukan di ruang rapat Rupatama Polres Klungkung. Dalam pembahasan tersebut, disampaikan  berbagai langkah penanganan kebencanaan, termasuk peta rawan bencana, berikut kesiapan piranti dan peralatan dari Polres. Polres Klungkung membagi kebencanaan, menjadi tiga; bencana banjir, longsor dan kebakaran. 

Untuk bencana banjir; kawasan Desa Tangkas, (Klungkung) , Banjar Takmung dan Lepang di Kecamatan Banjarangkan.  Desa Gunaksa (Kecamatan Dawan) dan di Desa Suana, di Kecamatan Nusa Penida.  Sedang bahaya/bencana longsor di antaranya; Jalan Raya Satria (Desa Paksebali, Kecamatan Dawan),  Jalan Raya Tukad Melangit,  Dusun Longatad, kawasan Desa Timuhun di Kecamatan Banjarangkan. 

Sedang di Nusa Penida, lokasi rawan longsor diantaranya di kawasan Desa Tanglad, Batukandik dan Mekar Sari. Sementara beberapa perbukitan, seperti  Bukit Abah di Desa Besan, Kecamatan Dawan, rawan bahaya kebakaran.

Komentar