nusabali

Babi Berwajah Mirip Monyet Hebohkan Warga Kalibukbuk

  • www.nusabali.com-babi-berwajah-mirip-monyet-hebohkan-warga-kalibukbuk

Seekor babi betina milik Nyoman Sutama, 62, dan Ketut Nining, 60, warga Banjar Dinas Celuk Buluh, Desa Kalibukbuk, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, memicu kehebohan masyarakat Buleleng.

SINGARAJA, NusaBali

Babi yang sengaja dijadikan indukan itu, melahirkan seekor anak babi yang sangat aneh dibanding 11 anak babi lainnya yang lahir bersamaan pada Jumat (5/7) pagi sekitar pukul 07.00 Wita. Anak babi itu wajahnya menyerupai monyet dan memiliki tambahan daging di bagian kepala atas yang menyerupai belalai gajah.

Secara fisik dan besar ukuran anak babi itu tampak normal. Panjangnya sekitar 20 centimeter. Bahkan saat dilahirkan induknya, anak babi aneh itu disebut-sebut ukurannya paling besar dibandingkan 11 anak babi lainnya. Hanya saja kondisi tak normal terlihat jelas di bagian wajah anak babi. Sekilas anak babi itu memiliki dua kepala yang berdempetan. Namun saat dilihat lebih teliti, wajahnya menyerupai wajah seekor monyet, dengan mata membelalak dan bentuk mulut yang tak sempurna. Selain itu di bagian kepala atas juga ada tonjolan daging yang menjuntai ke bagian belakang kepala babi menyerupai belalai gajah.

Menurut Sutama yang ditemui di rumahnya, Sabtu (6/7) pagi, induk babinya memang beranak pada Jumat (5/7) pagi sekitar pukul 07.00 Wita. Induk babinya itu baru diketahui beranak saat istrinya, Ketut Nining, pergi ke kandang babi yang ditempatkan di kebun yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya untuk memberi makan. Saat itu induk babinya sudah didapati dengan 12 ekor anak babi yang baru lahir.

“Anaknya ada 12, kemarin mati dua, satu ekor memang aneh karena bentuk kepala dan wajahnya lain dari pada anak babi yang lain,” kata Sutama.

Anak babi yang terlahir aneh itu disebut sempat menjadi tontonan warga setempat dan sempat heboh di media sosial. Hanya saja dari kejadian itu Sutama dan istrinya tak pernah merasakan firasat atau mimpi buruk sebelum mendapatkan babi aneh tersebut.

Bahkan Nining yang sudah lama beternak babi, sudah memanen puluhan anak babi dari indukan babi yang beranak babi aneh. “Ini sudah yang kelima kali, biasanya memang tidak pernah begini. Satu kali beranak 10-12 ekor itu sudah biasa, tapi pasti ada saja yang mati,” imbuhnya.

Keluarganya pun menganggap anak babi aneh itu hal yang biasa terjadi dari ribuan anakan yang lahir, karena tidak sempurnanya pembentukan janin babi saat masih dalam kandungan induknya. “Kami tidak tahu persis apa artinya dan penyebabnya, karena selama ini pakannya sama seperti yang sebelum-sebelumnya, babinya juga sehat tidak pernah sakit,” ucap Nining.

Sementara itu saat disambangi di kandang babi milik Sutama, anak babi yang terlahir aneh itu dinyatakan sudah mati. Ipar Sutama, Ketut Rena, 58, yang tinggal bersebelahan dengan kandang babi mengatakan sudah mendapati anak babi aneh itu mati pada Sabtu kemarin sekitar pukul 08.00 Wita. Diperkirakan anak babi aneh itu tak dapat bertahan dengan kondisi fisiknya yang tak normal.

“Kemarin (Jumat, 5/7) sempat dikasih susu sampai pukul 11 malam (23.00 Wita), karena tidak mau menyusu ke induknya. Tapi pagi tadi (Sabtu kemarin) sudah mati,” ungkap Rena.

Selama ini di lingkungan maupun di Desa Kalibukbuk, peristiwa anak babi yang lahir tak normal baru kali ini ditemukan. Sehingga warga sempat terheran-heran menyaksikan kejadian itu. Anak babi malang itu akhirnya dikubur di sekitar kandang babi setelah tak dapat tertolong.

Sementara dikonfirmasi terpisah Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Buleleng drh Wayan Susila, menjelaskan kelainan fisik yang dialami anak babi itu termasuk kelainan genetik. Kelainan genetik yang dialami dapat dipengaruhi oleh banyak hal, di antaranya faktor genetik, makanan, infeksi saat dikandung induknya, atau karena faktor kimia.

“Itu masuk kelainan genetik, karena pertumbuhannya saat dalam kandungan indukannya tak sempurna. Itu bisa banyak faktor penyebab, sama seperti halnya kelainan fisik pada manusia. Tetapi kalau dilihat dari jumlah kasusnya itu tidak banyak dan sangat jarang ditemukan, bisa perbandingan satu banding satu juta kelahiran,” tutur Susila. *k23

loading...

Komentar