nusabali

Klaten Siaga Darurat Kekeringan

  • www.nusabali.com-klaten-siaga-darurat-kekeringan

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten, Jawa Tengah, menetapkan status siaga darurat kekeringan.

KLATEN, NusaBali

Penetapan itu setelah Bupati Klaten Sri Mulyani mengeluarkan surat keputusan bernomor 360/684 Tahun 2019 tentang Status Siaga Darurat Kekeringan.

"Sesuai dengan surat keputusan Bupati itu status siaga bencana kekeringan di Klaten berlangsung sejak 1 Mei-31 Oktober 2019," kata Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Klaten Sri Yuwana Haris, seperti dilansir kompas, Rabu (19/6).

Menurut Haris, sejak ditetapkannya status siaga bencana kekeringan tersebut, sampai saat ini sudah ada tujuh desa di tiga kecamatan di Klaten yang mengajukan dropping air bersih.

Dia menyebut, Kecamatan Kemalang ada tiga desa, yaitu Kendalsari, Sidorejo dan Tegalmulyo. Kecamatan Jatinom ada tiga desa, yaitu Bandungan, Temuireing, dan Socokangsi. Lalu, Kecamatan Bayat ada satu desa, yaitu Ngerangan.

"Total sampai hari ada 56 tangki air bersih yang sudah kita dropping ke tujuh desa dengan ukuran per tangkinya itu 5.000 liter," jelasnya.

Pihaknya mengatakan telah menganggarkan dana senilai Rp 200 juta untuk kebutuhan air bersih bagi warga Klaten. Anggaran tersebut, jelas Haris, mampu menyediakan sebanyak 800 tangki air bersih.

Jika persediaan 800 tangki masih kurang, Haris menyatakan telah menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp 539,3 juta untuk tambahan kebutuhan air bersih. Sebab, diprediksi puncak kemarau di Klaten akan terjadi pada Agustus 2019.

"Jumlah desa di Klaten yang dilanda kekeringan tahun ini kita prediksi meningkat dari tahun 2018. Tahun lalu kita hanya mengirim sebanyak 784 tangki air bersih. Tahun ini kita sediakan 800 tangki air bersih," ujarnya.

Seorang warga Desa Margorejo, Ngerangan, Kecamatan Bayat, Miyarno mengatakan, kekeringan yang melanda daerahnya terjadi sejak awal Mei lalu. Bahkan, dirinya mengaku kesulitan mendapatkan pasokan air untuk kebutuhan pertanian.

"Kebutuhan air bersih masih cukup. Karena warga memiliki sumur dalam. Tapi kalau untuk irigasi pertanian sulit. Banyak sawah yang kering karena tidak ada pasokan air," katanya. *

loading...

Komentar