nusabali

Pertama Kali Digelar, Bulan Bahasa Bali Dapat Sambutan Luar Biasa Masyarakat

  • www.nusabali.com-pertama-kali-digelar-bulan-bahasa-bali-dapat-sambutan-luar-biasa-masyarakat

Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali 2019 yang baru pertama kali digelar nampaknya mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari masyarakat.

DENPASAR, NusaBali

“Secara umum minat dan partisipasi masyarakat untuk mengikuti berbagai kegiatan terkait Bulan Bahasa Bali ini sangat luar biasa antusiasnya. Indikasinya seperti terlihat dari Festival Nyurat Lontar yang pesertanya melebihi target yang dicanangkan,” jelas Plt Kepala Dinas Kebudayaan I Putu Astawa dihadapan awak media pada Selasa (20/2) di kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Niti Mandala, Denpasar.

Astawa bahkan menyebut untuk festival dan Lomba Nyurat Lontar di Kabupaten Klungkung lebih dari 4.000 peserta hadir dan memeriahkan acara. “Demikian pula dengan daerah-daerah lain yang juga melebihi target jumlah peserta. Demikian juga kegiatan lain seperti seminar yang diikuti lebih dari 200 peserta padahal awalnya hanya menargetkan 20 peserta. Saya sangat berbahagia dengan antusias warga yang punya minat besar terhadap bahasa dan sastra Bali sebagai jati diri-nya,” ucap Astawa. Dijelaskan juga minat anak-nanak muda dalam kegiatan ini terlihat dari membludaknya pendaftar untuk beragam lomba berbasis digital seperti lomba pembuatan komik, opini, status hingga meme berbahasa Bali. “Bahkan untuk lomba vlog berbahasa Bali yang awalnya kami sangka akan minim peserta ternyata sudah melampaui target juga, padahal waktu pembuatan dan pendaftarannya cukup singkat,” tambahnya lagi.

Begitupun dijelaskan Astawa, perlombaan yang melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti lomba sembrana wacana turut mendapatkan apresiasi yang positif dimana semua kabupaten/kota di Bali telah memastikan diri untuk turut serta. “Ini tentu sangat membanggakan dibalik segala keterbatasan, baik dana dan singkatnya waktu yang diberikan nyatanya Bulan Bahasa Bali yang pertama kali dicanangkan ini bisa dikatakan mendapatkan apresiasi yang tinggi dari semua kalangan. Kita tentu di tahun-tahun berikutnya akan menggarap dengan lebih baik, lebih sempurna dan lebih terkonsep lagi agar tambah semarak,” tutur Astawa.

Diingatkan Astawa pula, sebelum puncak acara pada tanggal 28 Februari mendatang, juga diadakan pameran Bulan Bahasa Bali yang dimulai 26 Februari di Kalangan Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre. Ajang ini diikuti berbagai instansi, lembaga pendidikan dan pihak swasta lain yang punya concern sama dalam pelestarian Bahasa, Aksara dan Sastra Bali. Bahkan diadakan pula pengobatan gratis berdasarkan lontar usadha alias pengobatan tradisional Bali “Puncaknya tanggal 28 Februari malam puncak pelaksanaan Bulan Bahasa Bali yang antara lain diisi penyerahan penghargaan kepada pengabdi Bahasa, Sastra dan Aksara Bali serta pengumuman pemenang berbagai lomba yang telah berjalan selama sebulan terakhir,” ungkapnya.

Di kesempatan yang sama Ketua Panitia Bulan Bahasa Bali Prof. I Nyoman Suarka mengungkapkan peran penting Bulan Bahasa Bali sebagai sarana untuk memperkuat jati diri masyarakat Bali yang salah satu sumbernya adalah Bahasa, Sastra dan Aksara Bali. “Ini yang harus kita tekankan mengingat pengaruh global, cepatnya informasi dan perkembangan jaman yang suka tidak suka berpengaruh juga pada identitas kita sebagai masyarakat Bali. Kita bisa memaknai (budaya, red) yang ada dari dulu menjadi akar dan penguatan jati diri. Itu yang kita sasar sebenarnya,” papar Prof Suarka.

Menurut Prof Suarka, identitas dan jati diri orang Bali juga dalam rangka memperkuat profesionalitas dan integritas. “Dalam pekerjaan misalnya, kita jadi punya rasa jengah, rasa memiliki sebagai orang Bali. Juga etika dan kualitas sebagai manusia yang punya akar budaya Bali. Peran ini yang kita sasar sebagai salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia kita di Bali, sesuai dengan slogan Nangun Kerthi sat Loka Bali dari Bapak gubernur,” kata guru besar Fakultas Sastra Universitas Udayana ini. “Selain tentu saja ini aksi yang riil untuk melestarikan dan menjaga keberadaan Bahasa, sastra dan aksara Bali. Setelah itu baru kita bicara pengembangan Bahasa Bali kedepannya menyambut digitalisasi dan revolusi industri 4.0 di berbagai sektor, sebagai langkah untuk mewariskan kepada generasi penerus kita,” tambah Prof Suarka.

Paparan tersebut diamini pula oleh ketua Tim Ahli Bulan Bahasa Bali I Gde Nala Antara yang menyebut Bali sudah mengambil langkah yang luar biasa dengan pelaksanaan Bulan Bahasa ini. “Penggunaan dan pelestarian bahasa daerah ini jadi lebih kuat dan lebih hidup dengan kebijakan dari pemerintah daerah. Karena prosesnya akan terjadi di berbagai tataran dari atas hingga tingkat keluarga, menjawab berbagai pertanyaan tentang bagaimana pewarisan itu dilakukan. Ini gerakan masif yang tidak ditemui di daerah lain, Bali kita ini luar biasa terlepas dari segala kekurangan di kali pertama kali penyelenggarannya,” tukas Nala Antara. *

Komentar