nusabali

Penyeberangan Sanur Kembali Ditutup

  • www.nusabali.com-penyeberangan-sanur-kembali-ditutup

Penyeberangan akan dibuka setelah kondisi laut bisa kembali norma. Jika hingga tanggal 27 Juli gelombang masih tinggi kemungkinan penyeberangan akan ditutup hingga 29 Juli 2018

DENPASAR, NusaBali
Gelombang tinggi yang kembali terjadi sejak Senin (24/7) pukul 11.00 Wita kembali berimbas pada penghentian penyeberangan sementara dari Dermaga Sanur ke Nusa Penida dan Nusa Lembongan. Hal itu dilakukan karena gelombang saat ini mencapai 2-2,5 meter dengan kecepatan angin 1-20 knot. Cuaca ekstrem ini diprediksi sampai tanggal 29 Juli 2018 mendatang.

Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Wilayah Kerja Sanur, Warsita saat dikonfirmasi, Selasa (25/7) menjelaskan, kendati prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gelombang tinggi terjadi hingga 26 Juli 2018, ada kemungkinan akan berlanjut hingga 29 Juli mendatang. Sebab berdekatan dengan hari Purnama biasanya air laut pasang ditambah terjangan angin yang cukup kencang menyebabkan gelombang tinggi.

Hal itu membuat pihaknya tidak mengizinkan penyeberangan dilakukan sementara waktu dari arah Sanur. Bukan saja dari arah Sanur, penyeberangan juga dibatalkan dari Nusa Penida dan Nusa Lembongan karena kondisi dikawasan tersebut juga mengalami hal yang sama. Jika dipaksakan pihaknya khawatir terjadi hal yang beresiko pada boat penumpang apalagi boat dengan ukuran kecil.

"Kemarin (Senin, red) kami berikan berlayar karena kondisi masih cukup aman. Namun ternyata gelombang naik pada malam hari yang terus terjadi hingga saat ini. Walaupun prediksinya hanya sampai tanggal 26, tapi kami tetap akan pantau karena cuaca seperti ini kita tidak bisa prediksi kapan akan terjadi," ungkapnya.

Untuk penumpang yang akan menyeberang kata dia, sebagian besar sudah mengetahui kondisi ini, karena pengumuman dari BMKG sudah dilakukan sejak sebelum gelombang naik. Sehingga ketika gelombang naik mereka tidak akan panik dan khawatir tidak bisa melakukan penyeberangan. Dengan kondisi itu wisatawan lebih memilih berdiam di hotel.

Penyeberangan akan dibuka setelah kondisi laut bisa kembali norma. Jika hingga tanggal 27 Juli gelombang masih tinggi kemungkinan penyeberangan akan ditutup hingga 29 Juli 2018. Namun kata dia, pihaknya juga masih melihat kondisi secara fakta di lapangan. Jika memang sudah mereda pihaknya akan memberikan kembali penyeberangan seperti biasa.

Warsita mengatakan, hingga sore hari kemarin, gelombang yang tertinggi ada di laut selatan Bali yang ketinggianya mencapai 2-6 meter. Jika dilihat di kawasan Pantai Sanur hingga selatan kondisinya sama. "Kondisinya sama, makanya banyak batu yang naik di Sanur sampai perahu rusak, ada juga rumput laut, bahkan jalan di bibir pantai juga ada yang rusak," imbuhnya.

Warsita menghimbau bukan hanya penyeberangan, nelayan tradisional khususnya di Sanur juga harus waspada dengan gelombang laut ini. Jika dipaksakan akan berbahaya bagi jiwa mereka. "Dengan kondisi itu kami harapkan tidak memaksakan melaut. Jadi antisipasi diri agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," ungkapnya.

Salah satu warga yang ingin menyeberang, Kadek Sumandya saat saat di temui di Dermaga Sanur mengaku akan pulang kampung ke Nusa Penida memilih untuk menunggu boat hingga sore hari.  Sumandya mengaku akan pulang kampung karena ada upacara agama, namun karena penyeberangan tutup ia mengaku akan menunggu sampai buka. “Kebetulan saya libur sekarang dan di rumah ada upacara. Makanya saya pulang kampung, ini juga saya pulang hanya sebulan sekali. Jadi saya akan tunggu sampai sore di sini agar bisa pulang,” ungkapnya.

Bahkan dirinya juga mengaku bersama dua orang temannya sudah menunggu sejak pukul 07.00 Wita, sehingga ia kedapatan melihat suasana gelombang yang tinggi menerjang di sana. Menurut informasi yang ia dapatkan dari masyarakat setempat, bahwa penyebrangan dilakukan buka-tutup, sehingga ia meyakini sore hari akan dibuka kembali yang menyebabkan pria asli Desa Ped, Nusa Penida tersebut akan menunggu hingga sore di sana.

Ia juga mengatakan baru pertama kali melihat ombak setinggi itu, karena setiap kali menyeberang ombak hanya setinggi 1 meter. “Kalau ombak tinggi sering saya alami sebelum pulang kampung. Tetapi ini yang paling parah selama saya akan balik ke Nusa Penida,” terangnya. *m

loading...

Komentar