nusabali

6 Rumah dan Belasan Ternak Hanyut

  • www.nusabali.com-6-rumah-dan-belasan-ternak-hanyut

Hujan deras yang mengguyur hampir seluruh wilayah Buleleng, sejak Sabtu (23/1) pagi hingga sore, mengakibatkan bencana di sejumlah tempat. 

Buleleng Dikepung Bencana  

SINGARAJA, NusaBali
Paling parah terjadi di Desa Penyabangan, Kecamatan Gerokgak. Sedikitnya enam rumah warga dan belasan hewan ternak dilaporkan hanyut diterjang banjir bandang. Sedangkan di tempat lain terjadi longsor yang menutup sebagian ruas jalan Singaraja-Bedugul di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada. 

Informasi dihimpun, bencana banjir bandang yang menerjang Desa Penyabangan, terjadi sekitar pukul 17.00 wita. Peristiwa yang pertama kali terjadi itu, akibat ucur-ucur yang jatuh di wilayah perbukitan Desa Penyabangan. Ucur-ucur itu berupa gulungan awan hitam pekat yang mucul dari laut arah Utara, kemudian menuju arah Selatan. Nah, tepat di atas perbukitan di Banjar Dinas Tirtaamerta, Desa Penyabangan, ucur-ucur itu menjatuhkan air yang begitu dahsyat hingga menimbulkan banjir bandang. 

Hingga sekitar pukul 20.00 Wita, sedikitnya ada enam unit rumah milik warga hanyut diterjang banjir bandang. Selain rumah, belasan hewan ternak seperti sapi dan babi juga dikabarkan hilang akibat disapu banjir bandang.
Akibat banjir bandang itupula, ruas jalan Seririt-Gilimanuk lumpuh karena air bercampur lumpur meluap menutup badan jalan. Ketinggian lumpur diperkirakan mencapai 30 cm. (Baca juga ‘Jembatan Ambrol, Denpasar–Gilimanuk Putus’)

Perbekel Desa Penyabangan Made Santika yang dikonfiramsi, Sabtu malam,  mengaku masih mendata jumlah rumah dan ternak yang hanyut dalam bencana tersebut. Santika mengaku, kesulitan mendata karena situasi gelap dan air masih besar. “Laporannya memang sudah ada enam rumah yang hanyut, kalau ternak banyak, tapi belum bisa dipastikan, karena situasinya sudah malam. Saya masih mendata, mudah-mudahan besok (hari ini) datanya sudah valid,” tuturnya.

Perbekel Santika mengatakan, bencana tersebut akibat ucur-ucur yang jatuh di perbukitan. “Sebenarnya hujannya tidak begitu deras, tapi ini karena ucur-ucur yang jatuh di perbukitan. Ini baru pertama kali terjadi di wilayah kami sepanjang sejarah,” ujarnya.

Sementara di tempat lain, akibat hujan deras memicu bencana longsor di ruas jalan Singaraja-Bedugul, terjadi di empat titik, tepatnya pada Kilometer 14 dan 17, Banjar Dinas Wirabhuwana, Desa Gitgit. Longsor yang terjadi sekitar pukul 18.00 Wita itu, sempat menimbulkan kemacetan arus lalu lintas dari arah Singaraja-Bedugul dan sebaliknya, karena sebagian badan jalan tertutup longsor. Polsek Sukasada pun terpaksa menerapkan sistem buka tutup pada titik longsor untuk memperlancar arus kendaraan.
Camat Sukasada I Made Dwi Adnyana yang dikonfirmasi semalam mengatakan, tidak ada korban jiwa maupun kerusakan dalam bencana longsor tersebut. Saat longsor terjadi, arus kendaraan di jalur Singaraja-Bedugul sedang sepi. 

“Tidak ada korban, hanya gemid (longsor) kecil-kecil. Tapi memang badan jalan tertutup, sudah dilakukan sistem buka tutup, sekarang arus kendaraan sudah lancar,” ujarnya.

Menurut Camat Dwi, material longsoran itu telah dibersihkan oleh petugas Balai Wilayah Jalan bersama warga sekitar dengan alat manual agar arus kendaraan bisa normal kembali. “Tidak pakai alat berat, karena ini (longsor) kecil-kecil. Sudah dibersihkan oleh petugas yang kebetulan tinggalnya di daerah Gitgit, sekarang arus kendaraan sudah lancar. Saya berharap, masyarakat di wilayah atas (Gitgit) termasuk pengguna jalan tetap waspada, karena daerah atas (Gitgit) rawan bencana longsor,” katanya.

Sementara di wilayah Kecamatan Seririt, sebanyak 47 rumah di RT 01, Kelurahan Seririt terendam banjir. Bahkan di Banjar Dinas Kembang Sari, Desa Lokapaksa, Seririt sekitar puluhan warga terisolir akibat jembatan penghubung ambruk. 

Jembatan tersebut menghubungkan Banjar Dinas Kembang Sari dengan Banjar Dinas Tengah, putus. Jalur tersebut adalah akses jalan satu-satunya warga Banjar Dinas Kembang Sari untuk dapat menuju ke wilayah perkotaan. Tercatat ada 260 KK yang ada di banjar dinas tersebut yang tidak dapat keluar dari wilayahnya. Satu truk pengangkut material pun terjebak hingga Sabtu malam.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 Wita. ambruknya jembatan sepanjang tiga meter tersebut, memang terjadi sebelum hujan deras mengguyur Buleleng. Kejadian tersebut berawal saat satu unit  truk DK 9397 UK yang mengangkut batu material datang dari arah Selatan (Banjar Dinas Kembang Sari).

Truk yang dikemudian oleh Ketut Badra, 45, warga Desa Kalibukbuk, Buleleng, tersebut bermaksud mengambil batu material di Banjar Dinas Kembang Sari, dan akan dibawa ke Desa Kalibukbuk. Saat melintas di jembatan tersebut, badan truk sudah melintas setengahnya. Tetapi ketika ban belakang melintas, jembatan tersebut langsung ambruk.

“Saya tadi sedang ngangkut batu dari Kembang Sari atas, mau dibawa ke toko. Tapi sampai di jembatan ini, ketika ban belakang lewat, jembatan sudah ambruk,” kata Badra. 

Hal itu diperparah ketika truk di jalur sempit tersebut tidak dapat dievakuasi hingga malam. Ditambah lagi hujan deras.
Untuk sementara warga setempat berusaha untuk menaikkan setengah badan truk yang terperangkap ke dalam jembatan yang jebol, dengan menggunakan dongkrak. Sedangkan warga sekitar juga memasang papan agar sungai bisa dilintasi.

“Tadi memang terendam, sekarang airnya sudah mulai surut. Yang di Kembang Sari, memang ada jembatan putus, tapi sudah diperbaiki sementara sudah bisa dilintasi,” kata Camat Seririt I Nyoman Riang Pustaka yang dikonfirmasi semalam. 7 k19, k23

Komentar