nusabali

Cemburu, Istri Dibantai

  • www.nusabali.com-cemburu-istri-dibantai

Usai menghabisi nyawa istri sirinya dengan 10 luka tusukan, pelaku Made Kanta langsung menyerahkan diri ke Polresta Denpasar.

“Pengakuan awalnya memang cemburu. Kami masih terus mendalami keterangannya,” tandas Reinhard. Menurut Reinhard, pelaku Made Kanta dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan yang berisi ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Pelaku Made Kanta sendiri merupakan pria beristri yang menikah siri lagi dengan korban Purwanti, janda satu anak asal Banyuwangi, Jawa Timur. Kesehariannya, pelaku tinggal bersama keluarganya di Jalan Nusa Kambangan XXVIII Nomor 2 Denpasar, kawasan Lingkungan Pengiasan, Kelurahan Dauh Puri Kauh, Kecamatan Denpasar Barat. 

Menurut keterangan Sarito, 34, salah satu tetangga kos yang kamarnya saling berhadapan dengan kamar korban, pernikahan siri pelaku Made Kanta dan Purwantini berlangsung setahun lalu. Saat dinikahi secara siri, Purwantini berstatus janda dengan dua anak. Anak nya yang perempuan kini sudah duduk di bangku SMP.

Saksi Sarito menyebutkan, korban Purwantini memiliki usaha penjualan baju di Pasar Kreneng, Denpasar Timur. Meski sudah setahun menikah siri dengan Made Kanta, korbnan Purwantini tidak dikaruniai anak. “Sedangkan anak perempuannya yang pernah saya lihat dan kini duduk di bangku SMP di Banyuwangi, merupakan hasil pernikahan dengan suami pertamanyua,” jelas Sarito kepada NusaBali di lokasi TKP, Selasa kemarin.

Menurut Sarito, pelaku Made Kanta jarang datang ke kosan istri sirinya itu. Jika datang, pelaku hanya muncul sebentar di malam hari “Kadang dia (pelaku) datang siang hari juga. Tapi, hanya sebentar. Dia lebih serang datang malam hari,” cerita Sarito, yang mengaku baru 3 bulan tinggal di kos-kosan yang berlokasi di depan Pasar Sidakarya, Denpasar Selatan tersebut.

Dari pengamatan saksi Sarito selama ini, korban Purwantini jarang bergaul dengan para tetangga kos, termasuk dirinya. Korban cenderung menutup. satu hal yang dia tahu, korban Purwantini adalah tipe perempuan pekerja keras, selalu keluar sore hari untuk berjualan di Pasar Kreneng dan pulang larut malam. 

Ditemui NusaBali secara terpisah di Instalasi Jenazah RS Sanglah, Selasa kemarin, paman korban, Sadimin, mengaku belum bisa percaya akan kejadian yang menimpa keponakannya. Menurut Sadiman, awalnya dia mengira keponakannya meninggal akibat kecelakaan. Sebab, beberapa hari sebelumnya, korban Purwantini sempat mengalami kecelakaan.

"Saya bener-bener nggak tahu. Saya kira kecelakaan. Eh, tahu-tahunya keponakan saya meninggal karena ditusuk begini. Saya tidak menyangka," tutur Sadimin. Dia membenarkan Purwantini menikah siri dengan pelaku Made Kanta. Purwantini sendiri merupakan janda dua anak (satu lelaki, satu perempuan). “Anak sulungnya yang lelaki tinggal di Banyuwangi, sementara si bungsu yang cewek tinggal di sini (Denpasar)," beber Sadimin.

Anak bungsu korban yang dimaksud Sadimin bernama Shirly, 14, siswi Kelas II SMP di Denpasar. Pantauan NusaBali, Shirily kemarin menangis histeris di RS Sanglah, karena kehilangan ibundanya yang tewas dibunuh. Gadis kencur berusia 14 tahun ini pun harus ditenangkan keluarganya. "Sherly memang baru tahu ibunya sudah meninggal di sini (RS Sanglah). Dia kan baru pulang sekolah,” cerita Sadimin. 7 da,i

Komentar