nusabali

Terakhir 5 Pasang Pratima Pura Mas Penyeti Raib

Jadi Perhatian, Kasus Pencurian Pratima Kembali Terjadi di Buleleng

  • www.nusabali.com-terakhir-5-pasang-pratima-pura-mas-penyeti-raib
  • www.nusabali.com-terakhir-5-pasang-pratima-pura-mas-penyeti-raib

Kerugian akibat hilangnya 5 pasang pratima dari uang kepeng berbahan emas, dua lancangan berupa bokor selaka, dan satu keris pejenengan ditaksir Rp 100 juta

SINGARAJA, NusaBali
Kejadian pencurian menyasar pratima pura di Buleleng kembali terjadi. Kali ini lima pasang pratima berbahan uang kepeng emas di Pura Mas Penyeti, Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan/Kabupaten Buleleng raib diduga dicuri, Minggu (7/4) pagi. Kerugian akibat hilangnya benda-benda suci itu ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Kasi Humas Polres Buleleng, AKP Gede Darma Diatmika mengatakan, hilangnya pratima pura itu diketahui pertama kali oleh pamangku pura bernama Jro Mangku Made Moden Cahyadi,44. Saat itu, Jro Mangku Cahyadi membersihkan areal pura. Ia mendapati kunci gedong penyimpanan pratima sudah dalam keadaan terbuka. Melihat hal itu, Mangku Cahyadi kemudian mengecek keadaan gedong. Ia lalu mendapati lima pratima lanang-istri yang terbuat dari uang kepeng berbahan emas, dua lancangan berupa bokor berbahan selaka, dan satu keris pejenengan raib. Kejadian itu, kemudian dilaporkan kepada aparat desa setempat dan diteruskan ke Polres Buleleng.

AKP Diatmika menyebut, sebelum kejadian tersebut yakni pada 24 Maret 2024 lalu pratima tersebut sempat diupacarai. Selain itu, pada Sabtu (6/4) sore, pamangku pura disebut sempat ke pura untuk melakukan bersih-bersih. Saat itu, ia melihat semua pintu pura masih dalam keadaan tertutup. Sehingga pencurian itu diduga terjadi pada, Sabtu malam atau Minggu dinihari.

“Jro mangku juga sempat ke pura untuk melakukan bersih-bersih dan kondisi semua pintu tertutup dan kunci gedong penyimpenan masih berada di laci penyimpanannya. Namun, pintu besi pura sudah dalam keadaan terbuka,” ujar AKP Diatmika, dikonfirmasi Minggu sore. Kata AKP Diatmika, ibu dari Mangku Cahyadi yang bernama Jro Mangku Rusmini,60, juga sempat ke pura untuk mengumpulkan bunga kamboja. Bunga itu, dikumpulkan Rusmini dengan karung berwarna putih. Namun, karung itu juga ikut raib dengan bunga dalam keadaan berserakan. 

Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan terkait hilangnya pratima di Pura Mas Penyeti tersebut. Kerugian akibat hilangnya lima pratima yang terbuat dari uang kepeng berbahan emas, dua lancangan berupa bokor berbahan selaka, dan satu keris pejenengan ditaksir mencapai Rp 100 juta. “Laporan pencurian ini masih dalam penyelidikan. Kami sudah lakukan pemeriksaan TKP, dan memintai keterangan saksi-saksi. Untuk kerugian, diperkirakan Rp 100 juta,” tandasnya. Hilangnya pratima pura menimbulkan keresahan pada masyarakat, khususnya di Buleleng akhir-akhir ini. 


Dalam catatan NusaBali, sejak Maret 2024 lalu sudah tiga kali terjadi kasus bromocorah masuk pura dan menggondol pratima. Sebelumnya pada, Minggu (24/3/2024) pagi, krama Desa Adat Pumahan, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng gempar. Prajuru adat dan krama yang sudah berkumpul di Pura Dalem Pumahan terkejut melihat dasar bangunan gedong dalam keadaan tercongkel. Akah pedagingan (sarana upacara) yang ditanam di bawah palinggih gedong sudah tidak ditemukan.

Kejadian tersebut diketahui saat krama sedang bersiap untuk berangkat melasti pada Purnama Kadasa, Redite Kliwon Pujut, Minggu (24/3). Sehari sebelumnya juga diketahui hilangnya benda sakral di Pura Dadia Dwi Jendra, Desa Adat Pumahan, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng. Sepasang pratima yang disimpan di palinggih gedong juga raib. Hal tersebut diketahui saat krama dadia Dwi Jendra sedang menyiapkan upacara melasti, Sabtu (23/3). Krama dadia melihat engsel pintu gembok palinggih gedong sudah terbobol. Pratima yang dihilang, yakni pratima lanang-istri dari uang kepeng. 

Selanjutnya kasus serupa diketahui terjadi di merajan (pura keluarga) milik warga di Kelurahan Banjar Jawa, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Selasa (26/3/2024) lalu. Sebanyak dua buah pratima dan balai bagia yang moncongnya berbahan emas raib dari lokasi penyimpanannya. Aksi pencurian ini mengakibatkan kerugian yang ditaksir mencapai Rp 20 juta.

Kehilangan pratima tersebut diketahui pertama kali oleh pamangku merajan yang tengah melangsungkan sembahyang pada, Selasa (26/3) pagi. Saat itu jro mangku yang tengah melakukan persembahyangan melihat dua pasang pratima dan balai bagian yang moncongnya terbuat dari emas raib. Jro mangku lantas menginformasikan pada Ketua Dadia, Gede Semadi Wija yang langsung melapor ke Polres Buleleng. 

Sebelumnya Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna mengatakan dengan adanya pencurian pratima tersebut, pihaknya telah meminta kepada 14 banjar adat untuk meningkatkan kewaspadaan khususnya di Pura. Desa Adat meminta, kepada pecalang untuk meningkat penjagaan dengan melakukan ronda hingga memasang kamera pengawas (CCTV). 

“Saya sudah sampaikan ke 14 Banjar Adat di wewidangan Desa Adat Buleleng meminta untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap pratima-pratima atau barang berharga yang ada di pura. Hal ini kami sampaikan kepada Kelian Banjar Adat dan Pecalang,” ujarnya. Ia menduga, pelaku dari pencurian pratima, mengincar pis bolong kuno yang merupakan bahan dari pratima. Selain berharga pratima disebut juga memiliki nilai kesakralan. “Pratima itu terbuat dari pis bolong, uang zaman dulu. Pis bolong kuno sangat dicari, pratima terbuat dari pis bolong yang sangat unik dan sakral,” kata dia. 7 mzk

Komentar