nusabali

Ogoh-Ogoh Banjar Tegal Agung Kritik Kekerasan terhadap Perempuan

  • www.nusabali.com-ogoh-ogoh-banjar-tegal-agung-kritik-kekerasan-terhadap-perempuan

DENPASAR, NusaBali.com - Ogoh-ogoh ST Dwi Putra, Banjar Tegal Agung, Pemecutan Kelod, Denpasar Barat, menarik perhatian dengan mengangkat tema ‘Duh Ratnayu’ yang mengkritik fenomena kekerasan terhadap perempuan.

"Tema ini menggambarkan kidung atau syair tentang keindahan wanita dan perlunya menjaga serta menghormati derajat wanita," jelas Anak Agung Suendra Diputra atau dikenal Gung Gus Adi Tegal, selaku arsitek ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh ini merupakan kelanjutan dari konsep tahun 2023 yang berjudul ‘Tumbal Rare’, yang mengangkat fenomena pembuangan bayi. "Duh Ratnayu’ menjadi gambaran masa sebelum pembuangan bayi terjadi, di mana wanita menjadi korban pemerkosaan, pelecehan, dan nafsu para pria.

Tokoh utama dalam konsep ini adalah seorang wanita cerdas bernama Cestakara yang mampu mengontrol nafsu para pria. Selain tokoh wanita, terdapat empat tokoh laki-laki yang melengkapi cerita, yaitu seorang raja, pemabuk (bebotoh), anak kecil, dan jro dalang.

Penggambaran tokoh-tokoh ini bertujuan memberikan pemahaman tentang hierarki sosial dan peran gender dalam masyarakat.

Ogoh-ogoh ‘Duh Ratnayu’ dibuat dengan tinggi 4 meter, menggunakan konstruksi kayu kamper dan kayu duren berukuran 4x6 meter. Proses pembuatannya mengikuti pakem-pakem budaya Bali, termasuk gerakan tubuh tanpa mesin penggerak. Biaya pembuatannya mencapai kurang lebih Rp 15 juta.

"Meskipun Banjar Tegal Agung tidak masuk nominasi di Kecamatan Denpasar Barat, kami bersyukur masih dapat berkarya dan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat melalui ogoh-ogoh ini," kata Gung Gus Adi Tegal.

Sebelumnya, Banjar Tegal Agung pernah masuk nominasi 8 besar pada tahun 2018 dengan ogoh-ogoh ‘Watugunung’.

Ogoh-ogoh ‘Duh Ratnayu’ menjadi contoh bagaimana seni dapat digunakan untuk mengangkat isu sosial dan mendorong perubahan dalam masyarakat. *m03

Komentar