nusabali

Gudang Kearifan Lokal, Milenial Malah Kurang Minati Buku Kesusastraan Bali

  • www.nusabali.com-gudang-kearifan-lokal-milenial-malah-kurang-minati-buku-kesusastraan-bali

DENPASAR, NusaBali.com - Kearifan lokal Bali, seperti tradisi, adat istiadat, kesenian, hingga upacara keagamaannya, perlu dijaga dan dilestarikan oleh semua pihak. Generasi milenial, sebagai generasi penerus bangsa, memiliki peran penting dalam upaya pelestarian ini.

Salah satu upaya untuk mengenalkan kearifan lokal Bali kepada generasi milenial adalah melalui literasi. Toko buku kesusastraan Bali menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan anak muda dengan budaya Bali.

Namun, sayangnya, kunjungan anak muda ke toko buku kesusastraan Bali masih terbilang rendah. Hal ini diungkapkan oleh Putri Werdhi (22), pegawai di Butik Toko Hindu Wartam yang berlokasi di Jalan Nangka Selatan, Dangin Puri Kaja, Denpasar.

“Kalau kalangan milenial bisa dibilang menipis. Cuma sedikit yang ke sini. Apalagi sekarang, zaman digital sudah canggih. Bisa kita cari di smartphone ataupun di platform internet lainnya,” kata perempuan asal Tonja, Denpasar Timur ini.

Menurut Putri, kalangan anak muda biasanya datang, jika ada event-event tertentu yang diselenggarakan. Kalau tidak, kunjungan dari anak-anak muda ataupun pelajar hanya sebatas untuk mengerjakan tugas sekolah.

Pendapat senada dikemukakan Rena Ida Ketut (50), pegawai di toko buku Setia Kawan, berlokasi di Jalan Letda Made Putra, Dangin Puri.

“Kalau anak-anak muda itu sendiri, mereka hanya mencari buku dan referensi untuk kepentingan kuliah. Yang ke sini banyak orang -orang yang sudah berumur,” kata pria asal Karangasem itu.

Kurangnya antusiasme anak muda terhadap buku-buku kesusastraan Bali ini tentu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Pasalnya, buku-buku kesusastraan Bali menjadi salah satu media penting untuk mengenalkan kearifan lokal Bali kepada generasi milenial.

Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab rendahnya kunjungan anak muda ke toko buku kesusastraan Bali. Salah satunya adalah faktor literasi anak muda Bali yang masih rendah.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat literasi masyarakat Bali pada tahun 2022 hanya sebesar 74,28 persen. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional yang sebesar 79,72 persen.

Faktor lainnya adalah faktor kurangnya referensi buku-buku kesusastraan Bali yang menarik bagi anak muda. Buku-buku kesusastraan Bali yang tersedia di toko buku umumnya berbahasa Bali, yang membuat anak muda kesulitan untuk memahaminya.

Selain itu, buku-buku kesusastraan Bali yang tersedia di toko buku umumnya membahas tema-tema tradisional yang kurang menarik bagi anak muda.

Untuk meningkatkan minat anak muda terhadap buku-buku kesusastraan Bali, diperlukan upaya-upaya yang lebih serius dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja sama untuk meningkatkan literasi anak muda Bali dan menghadirkan buku-buku kesusastraan Bali yang menarik dan relevan dengan minat anak muda. *m04

Komentar