nusabali

DAPD Buleleng Tetapkan Duta Baca

Indeks Literasi Pembangunan Masyarakat Rendah

  • www.nusabali.com-dapd-buleleng-tetapkan-duta-baca

SINGARAJA, NusaBali - Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (DAPD) Buleleng menetapkan duta baca 2024. Ajang ini baru pertama kali digelar, sebagai salah satu upaya pemerintah daerah meningkatkan indeks literasi pembangunan masyarakat. Duta baca ini akan menjadi role model untuk dapat mengimbas literasi positif masyarakat Buleleng.

Kepala DAPD Buleleng Made Era Oktarini, Jumat (22/3) kemarin mengatakan, pemilihan duta baca menjadi salah upaya peningkatan budaya literasi, yang masuk dalam indikator pembangunan mental kebudayaan. Terlebih hasil survey indeks literasi pembangunan masyarakat Buleleng pada tahun 2022 lalu masih rendah, yakni hanya 47,43 persen. Namun angka tersebut dapat dikatrol naik menjadi 65 persen di tahun 2023 lalu.
 
“Harapan kami dengan membentuk duta baca ini dapat meningkatkan indeks literasi di Buleleng. Kita bentuk role model duta baca untuk mengimbas di masyarakat,” ucap Era.
 
Dari sejumlah tahapan seleksi duta baca yang diikuti 26 orang peserta, Putu Sukadana, 31, ditetapkan sebagai pemenang. Seluruh peserta seleksi wajib mengikuti seleksi administrasi, membuat video profil diri, resume 2 buku dan juga mengikuti tes tulis dan wawancara.
 
Dikonfirmasi terpisah setelah ditetapkan menjadi duta baca Jumat sore kemarin, Sukadana menyebut persoalan literasi di Buleleng masih terkendala di tiga aspek. Tiga aspek ini pun menjadi dasar pemikirannya untuk menemukan solusi untuk pengaruh literasi generasi muda yang lebih baik.
 
Menurutnya, masalah literasi di Buleleng yang pertama adalah segi mindset. Pria yang kesehariannya sebagai seorang dokter di rumah sakit swasta di Buleleng mengamati, perlu ada perbaikan cara pandang orangtua terhadap literasi. “Fenomena sekarang anak disuruh belajar atau membaca, orang tuanya main gadget. Saat anak menangis langsung dikasih HP yang menurut kesehatan tidak baik bagi tumbuh kembanga anak. Mindset orang tua ini yang perlu dibenahi,” jelas pria kelahiran tahun 1993 ini.
 
Persoalan kedua adalah tempat. Selama ini orang berpikir membaca itu hanya di perpustakaan. Namun masyarakat yang punya niat baca tinggi justru tidak semua tahu dimana perpustakaan dan jam buka yang bisa dikunjungi. Setelah ditetapkan sebagai duta baca, Sukadana menyebut perlu ada gerakan jemput bola ke tempat-tempat yang menjadi favorit membaca atau kelompok baca yang selama ini belum terjamah.
 
Persoalan ketiga menurut Sukadana literasi masih terkendala akses. Perkembangan digitalisasi saat ini membuat pemerintah melakukan penyesuaian perpustakaan digital dengan menyiapkan (e-book). Hanya saja dalam e-book yang tersedia masih sangat terbatas dan juga masih sangat monoton pada teks. Padahal literasi pada generasi muda pada umumnya perlu improvisasi dengan audio visual untuk lebih cepat penyerapan dan pemahaman.7 k23

Komentar