nusabali

Prasi Bernilai Seni Tinggi, Namun Penekunnya Makin Langka

Melihat Pameran Seni Lukis Prasi di Museum Soenda Ketjil kawasan Pelabuhan Tua Buleleng

  • www.nusabali.com-prasi-bernilai-seni-tinggi-namun-penekunnya-makin-langka

Dari puluhan karya prasi yang dipamerkan, tertua adalah koleksi di Gedong Kirtya diperkirakan sudah berusia puluhan tahun, tak diketahui tahun pasti pembuatannya

SINGARAJA, NusaBali
Sebanyak 20 karya Seni Lukis Prasi dipamerkan di Museum Soenda Ketjil kawasan Pelabuhan Tua Buleleng. Seni lukis di atas daun lontar itu selain koleksi Museum Lontar Gedong Kirtya, beberapa di antaranya juga merupakan karya pemrasi Buleleng Jro Dalang Sudiasta, mahasiswa Undiksha dan siswa SMAN 4 Singaraja. Pameran prasi ini akan digelar selama sepekan penuh mulai dari, Senin (13/11) sampai Minggu (19/11) nanti.

Kepala UPTD Gedong Kirtya, Dewa Ayu Putu Susilawati usai pembukaan mengatakan pameran prasi ini diinisiasi untuk melestarikan dan melindungi warisan budaya leluhur. Sebab saat ini penekun seni prasi yang ditemukan di Buleleng sangat langka. Minat untuk menjadi pemrasi masih rendah, apalagi di kalangan generasi muda.

“Perkembangan prasi di Buleleng memang belum banyak ditemukan. Padahal potensinya luar biasa. Meski pameran ini masih prematur dan sangat baru, kami mencoba menjadikan ini sebagai cikal bakal perkembangannya di Buleleng,” ucap Dewa Ayu Susilawati.



Dari puluhan karya prasi yang dipamerkan, yang tertua adalah koleksi di Gedong Kirtya diperkirakan sudah berusia puluhan tahun. Meski tidak diketahui angka tahun pembuatan pastinya, namun prasi tersebut sudah tersimpan bersama koleksi lontar lainnya.

Prasi-prasi itu menceritakan kisah-kisah Bomantaka, Mina, Sutasoma, Bagus Umbara, Arjuna Wiwaha, Tantri dan lainnya. Memasyarakatkan kembali seni prasi ini diharapkan pemerintah ke depannya bisa dikembangkan dan dimanfaatkan. Salah satunya menjadi cinderamata yang dijual kepada wisatawan.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika menambahkan, pameran seni digelar untuk memberikan edukasi kepada generasi muda. Dinas Kebudayaan juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng agar siswa di satuan pendidikan dapat berkunjung ke pameran. “Harapan kita selain pelestarian, pameran ini bisa menarik minat anak-anak muda mau belajar membuat seni prasi, untuk kelestariannya ke depan,” jelas Wisandika.


Karya seni lukis prasi adalah melukis di atas daun lontar dengan ‘pengrupak’ atau pisau khusus khas Bali. Seni prasi sendiri memang terkesan sederhana dengan corak klasik Bali, namun bila diperhatikan prasi memiliki corak  yang rumit dan magis. Mengutip dari laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), seni lukis prasi merupakan warisan kesenian zaman Kerajaan Bali. Hal itu ditandai dengan adanya huruf Bali Kuno atau sastra Bali pada gurat-gurat daun lontar sebagai media lukisnya.

Karena menggunakan bahan alami mulai dari media gambar hingga tintanya lukisan warisan leluhur ini dikenal ramah lingkungan. Setelah daun lontar digurat dengan pisau khusus dengan detail, media lukis itu pun diwarnai dengan tinta yang terbuat dari kemiri yang dibakar sehingga menghasilkan warna hitam-kecoklatan. Lukisan prasi ini banyak diminati oleh kalangan wisatawan, khususnya wisatawan asing. Biasanya lukisan prasi ini digunakan sebagai hiasan dinding atau dekorasi di rumah. Lukisan yang dibuat dengan cara menggores ini memang benar-benar unik karena memiliki makna simbolis dari suatu cerita yang ingin disampaikan oleh sang pelukisnya. 7 k23

Komentar