nusabali

Petani Kopi Harapkan Bantuan Alat Olah Kopi

  • www.nusabali.com-petani-kopi-harapkan-bantuan-alat-olah-kopi

BANGLI, NusaBali - Coffee shop semakin menjamur di Kawasan Kintamani, Bangli. Petani kopi mulai mendapat imbas positif atas keberadaan coffee shop ini. Namun demikian para petani mengharapkan bantuan dari pemerintah terutama alat-alat pengolahan kopi. Dengan bantuan itu aka  semakin banyak kopi Kintamani yang terserap oleh pelaku usaha di Kintamani.

Salah satu petani, I Made Surawan mengatakan sebelum ramainya coffee shop seperti sekarang ini, para petani kopi lebih banyak menjual hasil produksinya ke tengkulak. Tidak jarang petani merasa rugi, sebab harga yang ditawarkan sangat murah.

Saat ini para petani sekitar mengolah produksi kopi untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. "Saat ini petani sekitar minimal menjual produk biji kopi green bean. Sehingga harga jualnya lebih tinggi," ungkap petani asal Desa Ulian, Kecamatan Kintamani, Bangli ini, Jumat (25/8).

Disebutkan, untuk yang green bean ini petani sudah tidak mengandalkan tengkulak. Kebanyakan konsumen atau pemilik usaha yang langsung mendatangi ke petani. Dampaknya, dari segi penjualan lebih menguntungkan.

Produksi biji kopi green bean yang dihasilkan para petani, kebanyakan untuk memenuhi pasar lokal Bali. Kata Surawan, dari empat jenis proses pengolahan kopi. Mulai dari full wash, natural, honey, hingga anaerobic. "Rata-rata permintaan pasar adalah pengolahan kopi jenis full wash dan natural. Kalau full wash harganya Rp 150.000 per kilogram. Sedangkan proses natural harganya Rp 170.000 per kilogram," ujarnya.

Lebih lanjut, diharapkan ada perhatian lebih dari pemerintah, terutama Pemda Bangli. Salah satunya. berupa sentra kopi  yang menyediakan alat roasting berkualitas. Pihaknya sudah mendapat bantuan alat roasting, namun kualitasnya belum memenuhi standar untuk coffee shop. Karenanya dalam proses roasting, pihaknya bekerjasama dengan pihak lain di Denpasar.

"Kami berharap kendala alat ini bisa mendapat perhatian dan solusi dari pemerintah. Dengan demikian produk kopi yang dihasilkan petani bisa langsung diserap oleh coffee shop," jelasnya. 

Hal senada disampaikan petani kopi dari Desa Ulian, Kecamatan Kintamani, I Wayan Selamat. Dirinya bersama kelompok tani Dharma Kriya Banjar Luahan berharap kopi petani lokal bisa terserap di pasar lokal (coffee shop) di kawasan Kintamani. "Untuk saat ini kami belum merasakan dampak. Untuk bisa masuk ke coffee shop tentu harus ada standar yang dipenuhi. Kami para petani siap untuk itu, memang diperlukan alat pendukung," sebutnya.

Dengan perkembangan saat ini, para petani juga berlomba untuk meningkatkan kwalitas sehingga menghasilkan kopi yang lebih bagus.7esa

Komentar