nusabali

Bale Sakanem Pura Bukit Buluh Roboh Diterjang Angin

  • www.nusabali.com-bale-sakanem-pura-bukit-buluh-roboh-diterjang-angin

Bangunan suci Bale Sakanem yang terjungkal akibat angin kencang ini baru 3 bulan dibangun, sebagai bagian renovasi pasca kebakaran dahsyat di Pura Bukit Buluh, Desa Pakraman Gunaksa, 7 Agustus 2012  .

Mardana menyatakan, semua bagian bale Sakanem di Pura Bukit Buluh yang roboh tersebut tidak boleh digunakan lagi untuk pembangunan selanjutnya, meskipun ada yang masuh utuh. “Sesuai sastra  (ajaran suci), tidak dibenarkan menggunakan lagi bahan yang pernah terpasang dan kemudian terkena pancabhaya (bencana),” tandas Mardana. 

Bangunan suci Bale Sakanem yang ambruk ini, menurut Mardana, merupakan salah satu dari belasan palinggih di Pura Bukit  Buluh yang baru rampung dibangun kembali pasca bencana kebakaran hebat, 7 Agustus 2012 silam. Saat peristiwa kebakaran 3 tahun lalu, seluruh palinggih di Pura Bukit Buluh hangus, hingga harus dibangun kembali. 

Kini, hampir semua palinggih sudah selesai dibangun lagi paasca kebakaran. Di antaranya, Meru Tumpang Solas, Padmasana, Palinggih Sapta Petala, dan Bale Sakanem. Baru selesai dibangun kembali, Bale Sakanem di Pura Bukit Buluh justru ambruk diterjang hujan angin. “Padahal, bangunan Bale Sakanem ini busa rampung dibangun 3 bulan lalu. Sedianya, bangunan Bale Sakanem ini difungsikan untuk Bale Persantian (tempat makidung),” beber Mardana.

Pura Bukit Buluh sendiri merupakan Pura Kawitan krama trah Tutwan dari seluruh Bali. Pura Bukit Buluh beserta pura-pura terkait lainnya di kawasan Bukit Buluh, Desa Pa-kraman Gunaksa diempon krama dari berbagai tempat daerah yang berjumlah sekitar 3.000 kepala keluarga (KK) lebih. Pujawali di Pura Bukit Buluh dilaksanakan 6 bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali) pada Anggara Kliwon Medangsia.

Saat musibah kebakaran dahsyat, 7 Agustus 2012 siang sekitar pukul 14.30 Wita dan hingga petang pukul 18.00 Wita, selutuh palinggih di Pura Bukit Buluh ludes. Kerugian material kala itu mencapai sekitar Rp 5 miliar. 

Tidak ada yang tahu persis awal mula terbakarnya Pura Bukit Buluh ini. Tiba-tiba, warga sekitar melihat api sudah berkobar di pura yang berada di puncak Bukit Buluh tersebut. Begitu melihat ada kobaran api, salah seorang warga, I Nengah Sudiartana, langsung ngulkul bulus (membunyikan kentongan adat bertalu, pertanda situasi gawat). Saksi Nengah Sudiartana membunyikan kulkul yang ada di jaba Pura Bukit Buluh.

Karena lokasi musibah terjadi di atas bukit, maka Nengah Sudiartana meminta warga lainnya turun ke pusat Desa Gunaksa untuk membunyikan kulkul adat yang berada di Pura Penataran. Karewna kulkul bulus ini, krama Desa Pakraman Gunaksa langsung berhamburan ke lokasi pura mereka yang terbakar. Apalagi, sebelum terdengar kulkul bulus, mereka juga melihat kepulan asap tebal dari puncak bukit.

Warga Desa Gunaksa dan sekitarnya pun ramai-ramai mendaki bukit untuk memadamkan api yang berkobar di Pura Bukit Buluh secara manual. Namun, warga setempat tidak bisa berbuat banyak. Karena hembusan angin cukup kencang, api dengan cepat merembat kian kemarin dan membakar seluruh palinggih yang rata-rata beratapkan ijuk.

Bahkan, krama pangempon pura terpaksa merobohkan sebuah bangunan suci, yakni Bale Kekidungan, agar api tidak merembet ke bangunan Wantilan di sebelah barat. Selain itu, palinggih Pesmpangan Ida Batara Dalem Ped juga berhasil diselamatkan warga dengan diangkat dan dipindahkan ke tempat aman. Kebakaran kala itu terjadi akibat percikan api dari rumput ilalang terbakar di sebelah timur pura. 7 k17

Komentar