nusabali

Desa Tembok Terapkan Teknologi Big Data

  • www.nusabali.com-desa-tembok-terapkan-teknologi-big-data

SINGARAJA, NusaBali
Pemerintah Desa (Pemdes) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, mencanangkan big data.

Pada era digital saat ini, informasi atau data menjadi aset penting, termasuk dalam pengambilan keputusan. Untuk menghimpun informasi yang dibutuhkan, dapat dicari pada kumpulan data yang ada atau big data.

Perbekel Desa Tembok, Dewa Komang Yudi menyebutkan, big data yang ia canangkan jauh sebelumnnya akan segera terwujud. Dengan kerja sama dari berbagai pihak kepada Desa Tembok untuk transformasi digital.

"Dari data sudah ada, tinggal menyempurnakan fitur-fitur dalam aplikasi yang digunakan sehingga lebih mudah pendataan dan gampang membaca datanya, astungkara besok (hari ini) kami luncurkan aplikasinya, bersamaan dengan peresmian internet tower bambu," terangnya, Minggu (23/10).

Ia membeberkan sejumlah tujuan big data ini. "Kami bisa mapping potensi berdasarkan kondisi objektif. Jadi, pemetaan persoalan berdasarkan kondisi atau gambaran secara objektif, kemudian sebagai basis pengambilan keputusan, juga untuk efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan sistem pemerintahan desa," katanya.

Salah satu contoh kemudahan big data ini, sebut Perbekel Yudi adalah dalam hajatan Pemilu saat verifikasi data pemilih di lapangan memerlukan waktu sampai dua bulan. Hal ini, sebut dia, memerlukan banyak biaya dan waktu. Sementara dengan big data diklaim hanya memerlukan waktu 30 detik.

"Data pemilih sudah bisa kami tagging lokasinya dengan GPS, bisa munculkan lokasinya, dan terus diperbarui. Misal pemilih meninggal, atau pindah lokasi dan sebagainya. Itu relatif waktu diperlukan dalam menentukan jumlah daftar pemilih sementara tidak sampai 30 detik, hanya dengan fitur pencarian penduduk, kemudian usia penduduk. Jadi ini lebih efisien dan efektif," sebutnya.

Perbekel Yudi membeberkan, hampir seluruh sumber daya dan potensi di Desa Tembok sudah diunggah dan terdata. Seperti data jumlah penduduk baik yang tinggal di desa atau dirantauan, jenis, kelamin, agama, lokasi tinggal, kepemilikan lahan, hasil produksi ternak, lokasi tempat ternak atau tagging lokasi ternak.

"Sementara yang masih sulit kami hitung hasil produksi nelayan, karena kita belum punya sentra yang bisa mengakomodasi hasil tangkapan nelayan," akunya. *mz

Komentar