nusabali

Musik Punk Antar Seniman Ini Tekuni Seni Cukil

  • www.nusabali.com-musik-punk-antar-seniman-ini-tekuni-seni-cukil

DENPASAR, NusaBali.com – Tak banyak seniman yang konsisten di jalur seni cetak manual atau bahasa bekennya cetak letterpress printing. Seni letterpress printing merupakan teknik cetak dalam seni grafis seperti cukil kayu.

Di mana bagian matriks atau plat (papan) yang akan mencetak warna adalah pada permukaan aslinya. Bagian tak berwarna adalah bagian yang dicukil tersebut.

Seni cetak cukil atau manual ini tergolong teknik tertua dalam bidang seni grafis karena sangat digemari di masa lalu. Pasalnya karya seni grafis cukil ini memiliki karakter visualisasi yang sangat kuat.

Salah satu seniman asal Denpasar yang mendalami seni cetak cungkil adalah Gilang Propagila, 32. 

Ketertarikan menekuni seni cukil diakui tak searah dengan pendidikan yang diselesaikan di Fakultas Pendidikan Bahasa di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha).

Diungkapkan oleh Gilang, jika hobinya ini justru muncul dari kesenangannya dengan musik punk.

“Sewaktu SMA saya suka sekali dengan musik punk, dan dari sana saya bertemu dengan banyak aktivitas lain,” ujar Gilang dalam kegiatan Open Studio oleh Dis-Print Kultur bertempat di Haluan Coffee & Space di Jalan Nangka Selatan No.58 Denpasar, Selasa (6/9/2022) malam. 

Walaupun orangtua saat itu tidak setuju dengan hobinya yang senang musik punk. 

“Biasa orangtua dulu pasti tahunya punk itu dari sisi buruknya saja. Jadi saya cari tahu lah sisi baiknya dari punk ini. Jadi di konser punk itu tidak hanya soal musik saja, tetapi ada juga kreativitas seperti karya seni seperti cukil dan ada juga tradisi membaca lewat zine,” papar Gilang.

Lewat band Punk Marjinal asal Jakarta yang merupakan salah satu band punk favoritnya, Gilang menuturkan jika band favoritnya itu kerap mendemonstrasikan hasil cukil.

“Band Punk Marjinal yang berasal dari Jakarta itu juga sering menggunakan seni cukil. Jadi setiap dia konser dia akan bawa semua desain-desain cukil untuk bisa didemonstrasikan di konsernya,” jelas Gilang yang juga sebagai anggota Dis-Print Kultur ini.

Ketertarikannya terhadap seni cukil yang berawal dari musik punk ini membuat Gilang semakin mantap untuk konsisten belajar seni cukil. Sehingga saat duduk di bangku SMA, Gilang setiap libur semester selalu menyempatkan diri untuk belajar seni cukil, salah satunya dilakukan di Jember, Jawa Timur.

“Dalam satu liburan sekolah, saya pernah belajar cetak cukil di Jember bersama komunitas bernama GERIMIS. Alat cukil pertama saya juga dibeli di Jember, dan itu masih saya simpan sampai sekarang,” jelas Gilang sembari mencukil gambarnya.

Lebih lanjut, Gilang menjelaskan keunggulan dari seni cukil atau seni manual ini bisa digunakan berkali-kali untuk mencetak beberapa media. Berbeda dengan seni lukis yang hanya dilakukan sekali. Bahan dan media yang digunakan pun saat ini sangat mudah didapatkan di Bali.

“Sekarang di Bali alat-alat cukil sudah banyak bisa ditemui di toko-toko seni. Harganya pun terjangkau sesuai dengan kualitas. Seperti halnya alat cukil hanya sekitar Rp 25.000, lalu untuk plat atau papan mulai dari Rp 10.000, dan tinta print juga rol hanya Rp 100.000 yang bisa digunakan berkali-kali,” ujar Gilang.

Ciri khas seni cukil yang diangkat Gilang terkait isu sosial, politik dan lingkungan hidup. Tujuanya memberikan pesan mendalam untuk berbagai keresahan melihat situasi sekitar.

“Harapannya saya di sini kan juga seni sebagai media edukasi. Bagaimana mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan untuk peka terhadap situasi alam saat ini,” tandas Gilang.

Sebagai salah satu upaya agar seni cukil bisa terus hidup, Gilang rutin menggelar lokakarya, membuat kegiatan cukil bersama, dan menyusun zine yang berisi karya-karya seni cukil yang dibikin peserta lokakarya seni cetak cukil. 

Salah satu zine yang dibuat berjudul ‘Kumpulan Karya Para Peserta’ yang telah dirilis tahun 2021 lalu. 

“Zine ini menjadi salah satu arsip yang mendokumentasikan karya-karya seni cetak cukil dari para peserta, dengan tambahan sedikit pengantar yang memaparkan kaitan antara seni cetak cukil dengan gerakan sosial dan lingkungan hidup. Harapannya, zine ini bisa menjadi salah satu bahan belajar bersama tentang seni cukil dan penggunaannya untuk menyuarakan isu sosial-politik dan lingkungan hidup,” pungkas Gilang. *ris

Komentar