nusabali

Terdeteksi Rumah Penyalinan Lontar

  • www.nusabali.com-terdeteksi-rumah-penyalinan-lontar

Lontar saduran orat-oret era 1920an ditemukan, dan mengindikasikan di rumah kelian Desa Pakraman Buleleng, dulunya dijadikan tempat berkumpulnya kaum pemikir.

Konservasi Lontar di Rumah Kelian Desa Pakraman Buleleng


SINGARAJA, NusaBali
Upaya untuk menguak pengetahuan di dalam cakepan lontar yang selama ini dikeramatkan masyarakat Bali, terus berlanjut. Kamis (16/3) pagi kemarin belasan penyuluh Bahasa Bali hadir di rumah Kelian Desa Pakraman Buleleng Nyoman Sutrisna di Kelurahan Kendran, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.

Dalam pembersihan dan pembacaan lontar ternyata banyak ditemukan lontar-lontar saduran sekitar tahun 1920an. Bahkan dari sejumlah bukti lontar yang dibuka, membuktikan bahwa rumah Sutrisna pada zaman itu adalah tempat berkumpulnya pemikir Bali.

Dari empat belas cakep lontar yang ditemukan di rumah Sutrisna yang tidak lain adalah cucu Nyoman Kajeng, seorang yang berkontribusi besar pada perkembangan Gedong Kirtya, perpustakaan pertama di Bali, ditemukan sejumlah lontar mantra puja, pengobatan wariga, pembelajaran tata bahasa, pengobatan bayi dan sistematika pengobatannya.

Menurut seorang budayawan Bali Sugi Lanus yang turut hadir di rumah Sutrisna mengatakan bahwa Nyoman Kajeng dilibatkan dalam penulisan dan penyalinan lontar sejak tahun 1930-1931 di Gedong Kirtya. Hal itu terbukti ditemukannya salinan lontar-lontar yang masih tersimpan rapi dan dalam kondisi yang bagus.

Lontar-lontar di rumah Sutrisna yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, menurut Sugi Lanus, adalah orat-oret penyalinan lontar. Jadi dahulu ketika seseorang ingin memiliki lontar, maka akan datang ke rumah warga yang memiliki lontar, kemudian disalin cepat secara kasar. Salinan kasar yang disebut orat-oret itu, kemudian disalin kembali di rumah Sutrisna, oleh Nyoman Kajeng.

Setelah salinan yang halus selesai baru diserahkan ke Gedong Kirtya. “Yang ada di sini adalah orat-oretnya, tetapi bentuk tulisannya sangat bagus tidak kalah dengan yang halus,” kata Sugi Lanus.

Bahkan selain menjadi tempat penyalinan lontar rumah yang ditempati Sutrisna saat ini yang merupakan rumah warisan pemikir Bali tahun 1920an, juga disebut sebagai tempat intelekstual Eropa dan India saat mencari referensi tentang Bali langsung dari lontar. Nama Nyoman Kajeng pun menurut Sugi pernah muncul di sebuah jurnal berbahasa Belanda puluhan tahun silam, yang menyebutkan bahwa Nyoman Kajeng merupakan pemikir Bali di zamannya.

Selain lontar tentang mantra puja, wariga, usada, juga ditemukan dua buah lontar yang sangat lengkap. Yakni lontar Arjuna Wiwaha maarti dan Sutasoma maarti. Maarti disebutkan Sugi Lanus lengkap dengan penerjemahan artinya. Sehingga lontar tersebut disebut sebagai lontar terlengkap di Bali.

Karena ditulis dengan terjemahannya, lontar Sutasoma maarti terdiri dari 600 halaman yang dibagi-bagi menjadi 150 halaman. Secara keseluruhan kebanyakan lontar yang ditemukan di rumah Sutrisna menggunakan bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta yang ditulis pada tahun 1930an.

Sementara itu Sutrisna di sela-sela konservasi lontar miliknya, mengatakan memberanikan diir membuka dan mencari tahu isi lontar itu, karena sejak diwarisinya dari kakek, kemudian ayahnya, ia tidak tahu-menahu lontar apa sebenarnya yang ia dan keluarga keramatkan. “Lontar ini saya dapatkan karena warisan, namun isi dari lontar kami sekeluarga tidak mengerti, tidak tahu dan tidak pernah membacanya. Sekarang ada ahlinya untuk membaca lontar itu, siapa tahu nanti dapat bermanfaat di masyarakat,” kata dia.

Di tanya soal keberadaan kakeknya sebagai pemikir dan penyalin lontar di zaman dulu, pihaknya membenarkan. Karena saat itu Sutrisna masih duduk di bangku kelas dua SD. Ia yang tinggal bersama dengan sang kakek, selalu melihatnya menulis lontar, bahkan selalu tidur tengah malam.

Di usianya yang masih kanak-kanak pun dia menyadari bahwa saat tu kakeknya sangat dihormati oleh warga lainnya. “Ayah saya Ketut Sempidi yang dulu juga Kelian Desa Pakraman Buleleng pernah mempelajari lontar-lontar ini, tetapi tidak diterjemahkan ke saya. Saya belum sempat belajar, karena sejak tamat SMA hingga 2001 saya di Jawa,” kenangnya. *k23

Komentar