nusabali

53 Pamangku Dalem Tarukan Belajar Nyurat Kajang

  • www.nusabali.com-53-pamangku-dalem-tarukan-belajar-nyurat-kajang

AMLAPURA, NusaBali - 53 pamangku PGSDT (Para Gotra Sentana Dalem Tarukan) se-Kecamatan Karangasem, antusias mengikuti pelatihan Nyurat Kajang. Kajang merupakan simbol atma ini dilukiskan dengan gambar-gambar aksara suci menggunakan huruf modre.

Kajang merupakan salah satu piranti upacara untuk menguburkan jenazah atau untuk upacara ngaben. Jro Gede Kompyang yang selama ini dikenal sebagai tukang banten memberikan materi tata cara Nyurat Kajang, secara sistimatis, dalam acara pelatihan nyurat kajang di Wantilan Pura Dadia Pulasari I, Lingkungan Galiran Kaler, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Minggu (31/3).

Kajang, menurut Jro Gede Kompyang, berasal dari bahasa kawi yang artinya penutup atau kerudung, penutup untuk jenazah, baik jenazah yang hendak dikubur, maupun untuk diaben, wajib ditutup menggunakan kajang. Lanjut Jro Gede Kompyang, kajang juga sebagai simbol pelepasan atma menggunakan kain putih berisi aksara-aksara suci modre yang bernilai magis.

"Nyurat Kajang tidak sembarang orang boleh. Hanya sulinggih atau pamangku yang boleh Nyurat Kajang, karena telah melalui upacara pawintenan," katanya.

Kajang, jelasnya, sangat penting dalam upacara ngaben, untuk memudahkan sang roh sampai ke Sang Maha Pencipta. Kajang, lanjut Jro Gede Kompyang, memiliki bagian-bagian, antara lain kajang untuk penutup jenazah yang akan dikubur, hanya berisi kajang angkeb rai (tutup muka), kajang angkeb dada (penutup dada) dan kajang angkeb pasta (penutup kemaluan), juga ada kajang leluhur ditempatkan di atas jenazah saat memandikan jenazah.

Sedangkan, lanjut Jro Gede Kompyang, jika jenazah tersebut langsung diaben, selain menggunakan kajang rai, kajang dada dan kajang pasta, juga menggunakan kajang sari, kajang pemijilan, kajang gede, kajang kawitan dan kajang rurub.

Foto: Jro Gede Kompyang. -NANTRA

"Kendala selama pelatihan, bagi pemula, terutama saat pasang aksara. Sebab, setiap jenis kajang, pasang aksaranya berbeda-beda, semuanya gunakan aksara modre," katanya.

Bagi yang telah bisa Nyurat Kajang, berlanjut nantinya pamangku wajib bisa melaspas. "Nantinya di tiap dadia, jika ada krama meninggal memerlukan kajang tidak lagi sulit memerlukan kajang, sebab sang pamangku di dadia itu telah bisa buat kajang," tambahnya.

Hadir menyaksikan pelatihan Nyurat Kajang, Ida Sri Begawan Ratna Bumi Dharma Kirti dari Geria Jina Putra, Banjar Angkling, Desa Bakbakan, Kecamatan Gianyar. Acara tersebut dikoordinasikan Ketua PGSDT Kecamatan Karangasem I Gede Arya Adnyana, dan Ketua Forum Pamangku PGSDT Kecamatan Karangasem Jro Mangku Sriata.

"Ini acara pertama kali, ternyata antusias pamangku berasal dari 53 dadia ambil bagian belajar nyurat kajang," jelas I Gede Arya Adnyana.

Salah satu peserta nyurat kajang Jro Mangku Nyoman Cawi, dari Pura Dadia Pulasari I, Lingkungan Galiran Kaler mengaku, secara teknis tidak sulit nyurat kajang. " Meski demikian tetap perlu latihan, agar lebih mahir," kata Mangku Cawi.7k16

Komentar