nusabali

Seniman Disabilitas Buleleng Dapat Penghargaan Internasional

  • www.nusabali.com-seniman-disabilitas-buleleng-dapat-penghargaan-internasional

SINGARAJA, NusaBali - Kadek Windari, 32, seniman disabilitas asal Banjar Dinas Yeh Anakan, Desa Banjarasem, Kecamatan Seririt, Buleleng, mendapatkan penghargaan internasional Samatha Initiative Award yang diberikan Jogja International Disability Arts Bienmale#2.

Penghargaan yag diserahkan pada itu pada Sabtu (21/10) lalu di RJ Katamsi Gallery Yogyakarta atas konsistensi berkarya di bidang seni lukis. Dia didampingi relawan dari Buleleng Social Community (BSC) dan relawan Dompet Berbagi Semesta (DBS) untuk mengikuti acara penganugerahan tersebut. Selain itu dia juga menjadi peserta pameran internasional bersama puluhan peserta dari 12 negara.

Penderita Muscular Dystrophy ini mengaku tidak menyangka bahwa namanya masuk menjadi salah satu dari 8 nominasi yang dipilih panitia. Bahkan saat puncak penganugerahan panitia memberikan penghargaan kepada Winda pada kategori Networker Grassroot and Activist. “Penghargaan ini baru pertama kali digelar, kalau pameran sudah yang kedua diadakan setiap dua tahun sekali. Kemarin tidak nyangka sih panitia memberikan undangan khusus karena masuk nominasi penerima penghargaan,” ucap Winda, Kamis (26/10).

Dari 8 orang nominasi seniman disabilitas, panitia memilih masing-masing satu penerima penghargaan di tiga kategori. “Tentu senang sekali, bisa dapat penghargaan ini. Pasti ini akan menjadi motivasi dan semangat baru bagi Winda dalam berkarya,” imbuh dia.

Dalam rangkaian pameran di event yang sama, Winda mengirimkan dua karyanya yang bernafaskan aktivitas kehidupan di Bali. Satu lukisan di atas kanvas bertema Pasar Bali berukuran 50x60 cm. Satu lainnya lukisan Rama Sita berukuran 50x50 cm. Dia di tengah keterbatasannya menyelesaikan dua lukisan ini dalam waktu tiga minggu. Goresan indah tangannya membuat lukisan Pasar Bali langsung laku di tempat dengan harga Rp 4 juta.


Anak kedua dari tiga bersaudara ini mulai menekuni dunia lukis dan terus mengasah kemampuannya, untuk mengisi waktu luang di tengah keterbatasan yang dideritanya. Perjuangan dengan semangatnya yang tinggi membuat Winda bertahan dan kini menjadi tulang punggung keluarga. Melukis kini sudah menjadi pekerjaan dan sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 “Astungkara setiap bulan ada saja pesanan, kadang ada 1, 2 kadang ada lebih, tapi cukup untuk keluarga,” papar gadis cantik berambut ikal ini.

Karakter lukisan Winda sangat kental dengan kehidupan dan budaya Bali dan China. Namun tidak jarang dia juga melukis hal lain sesuai permintaan yang masuk. Biasanya Winda menarik pembeli dengan melakukan pameran online di media sosial miliknya. Lukisan-lukisan setelah usai dikerjakan diunggah di media sosial, baik di akun Facebook, Instagram personalnya.

Selain mengikuti pameran yang dilaksanakan Yoga International Disability Arts Biennale, Winda juga sempat mengikuti pameran mural kolaborasi yang dilaksanakan perkumpulan disabilitas Inggris. Mural yang dibuat di atas kertas dikirimnya untuk diinstal di Inggris pada tahun 2022 lalu.

“Kalau yang tingkat internasional sepanjang karya saja yang dikirim pasti ikut. Seperti kemarin projek kolaborasi disabilitas arts di Inggris pembuatan mural hanya kirim media kertasnya, mereka yang instalasi di sana,” terang Winda. 7k23

Komentar