nusabali

Karena Para Panglingsir Dadia Jatuh Sakit Tanpa Sebab

  • www.nusabali.com-karena-para-panglingsir-dadia-jatuh-sakit-tanpa-sebab

Pragina Tari Gambuh didominasi teruna-teruni dari dua dadia di Desa Pakraman Pesedahan, Kecamatan Manggis, yakni Dadia Tangkas Kori Agung dan Dadia Pasek Gelgel. Maklum, dua dadia inilah yang ngempon Ida Batara Bagus Panji, taksu dari Tari Gambuh

Krama Pesedahan Hidupkan Lagi Tari Gambuh Pasca Vakum 20 Tahun


AMLAPURA, NusaBali
Krama Desa Pakraman Pesedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem aktifkan kembali Tari Gambuh yang sempat vakum selama 20 tahun. Jurus menghidupkan kembali Tari Gambuh ini dilakukan setelah banyak panglingsir dadia di desa setempat jatuh sakit tanpa sebab, bahkan hingga meninggal dunia.

Tari Gambuh ini diaktifkan kembali krama Desa Pakraman Pesedahan sejak Juli 2016, diawali dengan upacara matur piuning (ritual bermakna pemberitahuan secara niskala) dan mohon restu Ida Batara Bagus Panji, sebagai taksi Tari Gambuh. Kesenian Tari Gambuh diaktifkan kembali melalui Sanggar Angripta Santhi Buana.

Seluruh pragina (penari) Tari Gambuh yang diaktifkan melalui Sanggar Anggripta Santhi Buana merupakan generasi baru. Setelah selama 4 bulan berlatih intensif, sekaa Tari Gambuh ditargetkan pentas perdana saat penampahan Aci Usaba Sambah dilaksanakan krama Desa Pakraman Peesadahan pada Sukra Kliwon Medangkungan, Jumat (11/11) depan.

Saat ini, para pragina Tari Gambuh generasi baru berlatih intensif di Sanggar Angripta Santhi Buana, Desa Pesedahan. Menurut Pembina Sanggar Angripta Santhi Buana, I Nyoman Sumadi, pragina Tari Gambuh didominasi teruna-teruni dari dua dadia, yakni Dadia Tangkas Kori Agung dan Dadia Pasek Gelgel. Maklum, dua dadia inilah yang ngempon Ida Batara Bagus Panji, taksu dari Tari Gambuh.

“Sebelum mengaktifkan kembali Tari Gambuh, kami lebih dulu menggelar upacara matur piuning yang diikuti seluruh anggota Sanggar Angripta Santhi Buana pada Purnamaning Kasa, bertepatan Anggara Kliwon, Kulantir, Selasa, 19 Juli 2016 lalu,” ungkap Nyoman Sumadi saat ditemui NusaBali di sela-sela latihan Tari Gambuh di Sanggar Angripta Santhi Buana, Kamis (3/11) lalu.

Kegiatan latihan Tari Gambuh di Desa Pakraman Pesedahan dikoordinasikan langsung Ketua Sanggar Angripta Santhi Buana, I Nengah Suedi. Dia dibantu sederet panglingsir Dadia Tangkas Tegeh Kori dan Dadia Pasek Gelgel. Panglingsir dari Dadia Tangkas Kori Agung masing-masing I Ketut Murjana, I Wayan Kartoni, I Wayan Srinten, I Nyoman Rasmi, dan I Wayan Mudiarta. Sedangkan panglingsir dari Dadia Pasek Gelgel adalah I Wayan Tinggal Adnyana.

Seluruh pragina dilatih khusus oleh Ida Wayan Oka Adnyana, seniman Gambuh asal Banjar Triwangsa, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem. Menurut Nyoman Sumadi, Wayan Oka Adnyana pula yang mengkomposisikan penari, dibagi dua kelompok. Pertama, kelompok penari 14 orang yang semuanya laki-laki. Rinciannya, penari Prabu (1 orang), penari Panji (1 orang), penai Arya (6 orang), penari Temenggung (2 orang), penari Wejil (2 orang), dan penari Penasar (2 orang). Kegua, kelompok penari wanita, yang antara lain terdiri dari penari Condong (3 orang) dan penari Galuh (3 orang).

Semua penari Gambuh ini belajar dari nol, karena generasi baru semua. Sedangkan generai penari Gambung sebelumnya sudah tidak ada yang tersisa. “Secara umum, Tari Gambuh telah bisa dikuasai selama hampir 4 bulan latihan, tinggal memantapkan saja,” katanya.

Sumadi menyebutkan, sejak awal pihaknya bertekad menghidupkan kembali kesenian Tari Gambuh di desanya yang sempat vakum selama 20 tahun. Mengaktifkan kembali Tari Gambuh ini sama artinya memuliakan Ida Batara Bagus Panji, yang diempon Dadia Tangkas Tegeh Kori dan Dadia Pasek Gelgel.

Sumadi mengisahkan, upaya merekonstruksi kembali Tari Gambuh ini dilakukan, setelah terjadi serentetap peristiwa niskala berbau magis. Masalahnya, sejak kesenian Tari Gambuh vakum, banyak panglingsir Dadia Tangkas Kori Agung dan Dadia Pasek Gelgel yang jatuh sakit tanpa sebab, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Selain itu, pamangku Pura Penataran Ratu Pasek, Desa Pakraman Pesedahan, Jro Mangku Made Astika juga jatuh sakit. “Ajaib, setelah upacara matur piuning dilanjut dengan memulai latihan Tari Gambuh, para panglingsir dadia yang jatuh sakit, berangsur sembuh. Demikian pula Jro Mangku Made Astika,” kenang Sumadi, pembina seni yang juga anggota Fraksi Golkar DPRD Karangasem.

Menurut Sumadi, sebetulnya Tari Gambuh yang vakum di Desa Pesedahan ini sempat direkonstruksi oleh mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, 5 tahun silam. Namun, kala itu latihan hanya berjalan beberapa minggu, kemudian berhenti. “Bisa jadi, latihan terhenti, karena sebelum memulai rekonstruksi Tari Gambuh, tidak sempat dilakukan upacara matur piuning,” papar Sumadi.  k16

Komentar