nusabali

Sepekan Arus Balik, 17.103 Orang Masuk Bali

  • www.nusabali.com-sepekan-arus-balik-17103-orang-masuk-bali

Dibanding tahun lalu, terjadi penurunan penumpang sekitar 95 persen. Kendaraan roda dua turun 98 persen, dan roda empat turun 78 persen.

NEGARA, NusaBali

Selama sepekan arus balik Lebaran, Selasa (26/5) hingga Senin (1/6), pihak ASDP Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk mencatat sebanyak 17.103 orang penumpang masuk Bali dari Pelabuhan Ketapang ke Pelabuhan Gilimanuk. Ribuan penumpang itu masuk Bali bersamaan dengan 1.202 unit kendaraan roda dua dan 9.797 unit kendaraan roda empat.

Sesuai data yang diterima NusaBali, jumlah penumpang serta kendaraan yang masuk Bali selama H+1 hingga H+7 Lebaran itu, jauh menurun dibanding periode arus balik Lebaran 2019 lalu. Selama H+1 hingga H+7 Lebaran tahun lalu, tercatat arus masuk Bali mencapai 358.601 orang penumpang dengan 57.065 unit kendaraan roda dua dan 44.620 unit kendaraan roda empat.

“Dibanding tahun lalu, sangat jauh menurun. Secara persentase, penumpang turun sampai 95 persen. Kemudian roda dua turun 98 persen, dan roda empat turun 78 persen,” ujar General Manager ASDP Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk Fahmi Alweni, saat dikonfirmasi, Selasa (2/6).

Jika dibandingkan yang keluar Bali pada H-7 hingga H-1 Lebaran pada Minggu (17/5) hingga Sabtu (23/5) lalu, jumlah penumpang yang masuk Bali selama H+1 hingga H+7 Lebaran itu, juga menurun. Selama H-7 hingga H-1 Lebaran, tercatat ada 35.339 penumpang dengan 4.986 unit kendaraan roda dua dan 10.329 unit kendaraan roda empat yang menyeberang dari Pelabuhan Gilimanuk ke Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Menurut Fahmi, selama diberlakukannya pengetatan pemeriksaan masuk Bali, yang masuk kebanyakan merupakan angkutan logistik. Baik itu truk maupun pick-up yang tetap diperbolehkan beroperasi selama masa pandemi Covid-19.

“Kalau penumpang umum, sangat jauh turun. Kami lihat, ini memang karena kesadaran. Saya katakan demikian, karena memang tidak ada penumpukan di pelabuhan. Walaupun ada beberapa yang masih bandel, dipulangkan dari Gilimanuk,” ujarnya.

Fahmi mengatakan, pasca diterbitnya aturan terkait pembatasan pelaku perjalanan, pihaknya di Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk, telah menerapkan berbagai kebijakan. Selain mengurangi operasional kapal dari normal 32 kapal menjadi maksimal 26 kapal, juga dilakukan pembatasan muatan kapal. “Muatan per kapal dikurangi 50 persen dari muatan maksimal. Bahkan saat ini muatan kapal hanya berkisar antara 20-10 persen dari kapasitas normal, karena memang terjadi penurunan penumpang,” ucapnya.

Di samping itu, Fahmi mengatakan, juga memberlakukan check point untuk pembelian tiket penyeberangan. Untuk yang akan menyeberang ke Bali dari Ketapang, ditempatkan check point di Terminal Tanjungwangi, Ketapang, Banyuwangi. Di check point tersebut, juga menjadi tempat pemeriksaan oleh petugas Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dari daerah setempat, untuk memastikan calon penumpang yang akan membeli tiket sudah melengkapi syarat. Terutama membawa surat keterangan (suket) rapid test.

“Check point itu berlaku di Gilimanuk maupun di Ketapang. Khusus check point yang di Ketapang, selain ada penjagaan dari Gugus Banyuwangi, juga ada penjagaan langsung dari Gugus Provinsi Bali. Sesuai koordinasi, Gugus Provinsi Bali ikut berjaga langsung di Ketapang sebagai filter awal terhadap penumpang yang akan ke Bali,” ucapnya.

Sementara Sekretaris GTPP Covid-19 Jembrana I Ketut Eko Susila Artha Permana, mengatakan sejak diberlakukannya pengetatan pemeriksaan masuk Bali dari Kamis (28/5) hingga Selasa kemarin, sudah ada ratusan pendatang yang dipulangkan dari Gilimanuk. Para pendatang yang dipulangkan itu, memang tidak tercatat secara rinci. Pasalnya petugas gabungan tidak semua mencatat berapa saja jumlah duktang yang dipulangkan.

“Kalau yang tercatat, sudah ada 31 orang yang diputarbalik dari Gilimanuk. Tetapi kalau jumlah pastinya, saya yakin sudah ada ratusan, karena banyak yang tidak dicatat, dan pemeriksaan dilakukan di 3 titik pos. Ada di pelabuhan, di pos pemeriksaan KTP, dan pos pemeriksaan di Teluk Gilimanuk,” ujar Eko Susila yang juga Kalaksa BPBD Jembrana.

Menurutnya, sejumlah pendatang yang ditemukan sampai lolos menyeberang dari Ketapang itu, kebanyakan tidak mengantongi suket rapid test. Kemudian ada juga yang tanpa KTP dan tidak membawa surat keterangan perjalanan dari daerah asal maupun tujuan di Bali. “Kami tidak berani memastikan apakah sebelumnya mereka itu sudah diperiksa atau belum di Ketapang. Tetapi yang pasti, kalau memang ditemukan syarat tidak lengkap saat tiba di Gilimanuk, langsung kami pulangkan,” ucap Eko Susila. *ode

Komentar