nusabali

Gambelan Bali Jadi Marching Band Apel Bendera

  • www.nusabali.com-gambelan-bali-jadi-marching-band-apel-bendera

Ubud, Gianyar, sebuah desa wisata ternama yang tak henti-henti dihidupkan oleh kiprah para seniman dan budayawan.

Sisi Unik Peringatan HUT Ke-71 Kemerdekaan RI di Ubud

GIANYAR, NusaBali
Ubud, Gianyar, sebuah desa wisata ternama yang tak henti-henti dihidupkan oleh kiprah para seniman dan budayawan. Tak terkecuali saat pelaksanaan apel upacara bendera merah putih serangkaian peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan RI, Rabu (17/8) pagi hingga apel penurunan bendera, di Lapangan Astina Raya, Ubud.

Para peserta apel dan warga yang mayoritas wasitawan tertegun saat menonton prosesi apel bendera. Apel ini dikejutkan oleh penampilan gambelan dari Senggar Seni Cenik Wayah (CW) Ubud. Sanggar ini menampilkan tatabuhan berirama marching band, sebagaimana iringan bahana musik pada apel bendera mulai dari Istana Merdeka Jakarta hingga di tingkat kabupaten/kota. Irama marching band ala Bali itu untuk pengiring lagu Indonesia Raya saat penaikan dan penurunan bendera merah putih, lagu Mengheningkan Cipta, Andika Bhayangkari, serta lagu-lagu perjuangan lainnya untuk menyemangati peserta apel. Lagu-lagu marching band ala Bali gaya CW ini mengundang decak kagum para peserta apel, warga sekitar dan para wisatawan. ‘’Luar biasa, irama pada marching band diinovasikan ke gambelan Bali. Kedengarannya jadi unik dan enak, khidmat,’’ jelas warga sekitar lokasi apel.

‘Marching band’ ini digagas seniman asli Ubud yang pemilik Sanggar Seni CW Ubud, Cokorda Ngurah Suyadnya alias Cok Wah. Cok Wah mengatakan, ide marching  band ala Bali ini sejak dua minggu lalu. Tokoh asal Puri Agung Ubud ini menyebutkan karyanya ini sebuah gambelan catur wangsa. Karena gambelan ini menggunakan empat model gambelan, diantara gangsa lantang (panjang) 21 bilah. ’’Saya coba rembukkan dan padukan bersama teman-teman penabuh, ternyata bisa seperti ini,’’ ujarnya.

Cok Wah mengatakan, garapannya ini merupakan bagian dari inovasi eksploratif instrumen gambelan Bali. Dari karya ini dirinya menginginkan masyarakat makin percaya diri dengan kekayaan gambelan yang dimiliki. ‘’Dari garapan ini, kami rasakan gamelan Bali itu elastis, cocok dalam segala momen. Tapi, tergantung cara menggarap,’’ jelas pengusaha pariwisata di Ubud ini.

Pengkaryaaan seni ini melibatkan seniman karawitan Wayan Sudirana asal Banjar Taman Kaja, Ubud, seorang musikus jebolan Universitas British Colombia, Kanada. Koreografinya, AA Rama dari Puri Kapal, Badung. Sanggar CW juga mempersembahkan garapan Tari Nusantara di tengah Lapangan Astina Raya Ubud, usai apel penurunan bendera sekitar pukul 16.15 Wita. Garapan ini disertai pengibaran 100 bendera oleh para tokoh dan warga sekitar Ubud.

Cok Wah mengaku, persembahan swakarsa ini sebagai bentuk apresasinya bersama masyarakat karena telah hidup di era kemerdekaan. ‘’Bayangkan jika kita hidup tanpa kemerdekaan. Makanya, kami pekikkan merdeka para pahlawan dengan karya. Ini  (pekik merdeka, Red) dari suara hati para pahlawan,’’ jelas Cok Wah.

Usai memimpin apel HUT RI, Camat Ubud Ida Bagus Putu Suamba mengatakan bangga dengan persembahan gratis dari Sanggar CW untuk apel 17 Agustus itu. ‘’Persembahan seperti ini menjadi bagian terpenting dari apresiasi masyarakat dalam menghargai jasa-jasa para pahlawan,’’jelasnya. * lsa, cr62

Komentar