nusabali

Kearifan Lokal Nyelengin Terancam Lenyap

Di Balik Kasus Kematian Babi Mendadak di Bali

  • www.nusabali.com-kearifan-lokal-nyelengin-terancam-lenyap

Kedekatan secara sosiokultural babi dengan masyarakat Bali, menjadikan kasus kematian babi belakangan ini sangat mengundang perhatian khalayak.

GIANYAR, NusaBali
KASUS kematian babi yang banyak menimpa para peternak membuat krama Bali tersentak. Lebih-lebih kasus babi mati mendadak ini terjadi menjelang Hari Raya Galungan, Buda Kliwon Dungulan, Rabu (19/2), dan Kuningan, Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu (29/22). Karena momen ‘piodalan jagat' ini tak terlepas dari daging babi baik sebagai bahan upakara Hindu dan dijadikan makanan lezat dalam pelbagai bentuk olahan.

Secara ekonomis, kasus kamatian mati mendadak itu tentu amat merugikan para peternak. Baik peternakan skala besar hingga terkecil. Para peternak hingga di pelosok desa di Bali amat terpukul dengan kasus ini. Sebab modal investasi usaha ini tentu tak kecil, terutama peternak skala menengah dan besar.

Salah seorang guru besar Fakultas Peternakan Universitas Udayana Prof Dr Drh I Ketut Puja M Kes mengatakan kebiasaan berternak babi dan peri kehidupan krama Bali tentu amat bertaut lekat dan panjang. Bagi krama Bali (Hindu), ternak babi tak sekadar bernilai ekonomis. Namun di dalamnya ada kompleksitas persoalan mulai soal sistim ekonomi kerakyatan, keyakinan terhadap Tuhan dengan kepemelukan Hindu, bahkan sosioekonomi budaya krama Bali itu sendiri. Menurut Tim Ahli Kesehatan Hewan, Karantina dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementan RI ini, masyarakat secara umum lumrah berkisah tentang manfaat ekonomi dari peternakan atau pemeliharaan babi. Di lain sisi, terkait dengan tebaran kasus babi mati mendaak di banyak tempat belakangan ini, tentu tak singkat untuk diterangkan. Karena penjelasan tentang sebab musabab kematian babi, dalam arti penyakit apa yang menimpa babi, dan langkah yang harus diambil oleh pemerintah, mesti tetap mempertimbangkan risiko terburuk bagi masyarakat itu sendiri.

Kiri : Prof Dr Drh I Ketut Puja M Kes.- Foto: WILASA.  Kanan : Pengambilan sampel darah babi di Desa Cau Belayu. - Foto: DESAK

Jelas guru besar asal Kelurahan Bitera, Gianyar ini, dalam menyikapi kasus kematian babi di Bali ini, pemerintah baik dari Pusat dan daerah tentu tak dapat sembarangan untuk memaparkan kondisi yang sebenarnya. Karena ada Undang-undang No 18 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peternakan. Dalam undang-undang ini ditegaskan tentang sistem pelaporan jenis penyakit eksotis yang berkembang. Penyakit seperti ini hanya pejabat berwenang dari pemerintahan Pusat yang bisa menyampaikan atau mengumumkan kepada publik. Pengumuman itu tentu tak gegabah. Karena harus mempertimbangkan multi aspek. Misal, jika kerena serangan penyakit tertentu, ternak harus dimusnahkan, apakah tidak berdampak lebih fatal menimpa masyarakat Bali. ‘’Apalagi di Bali, secara sosioreligius daerahnya yang amat dekat dengan pemanfaatan daging babi,’’ papar Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali ini.

Guru besar yang juga prajuru ada di Desa Adat Bitera, Gianyar ini memaparkan, kedekatan krama Bali dengan babi tak cukup dalam perspektif bisnis. Namun, bagi orang Bali, babi adalah bagian utama dari tradisi ritual atau persembahan secara Hindu Bali. Setali dengan itu, dalam taste lidah orang Bali umumnya, daging babi masih terbilang daging paling enak dibandingkan jenis daging lain.

Sedangkan di luar tradisi ritual Hindu Bali, sejak zamannya, babi adalah bagian terpenting dalam kehidupan ekonomi rumah tangga orang Bali. Pada sisi ini, tetua zaman dulu hingga kini terbiasa melakoni konsep sosiokultural dalam memperilakukan babi. Terbukti krama Bali mengenal istilah ‘nyelengin’ (menabung uang dalam buluh bambu atau kendi gerabah). Istilah ini muncul dari pinjaman dari kata ‘celeng’ (babi). Sedangkan secara langsung, krama Bali khususnya kalangan krama istri atau ibu-ibu juga piawai menabung nilai ekonomi untuk memenuhi kebutuhan tertentu kelak, dengan cara memelihara celeng (babi). Tabungan tersebut berupa semangat kerja memelihara babi dalam kandang di belakang rumah, merawatnya dengan memberi pakan yang sehat, bahkan mengobati jika sakit. ‘’Jika mengacu pada konsep nyelengin ini, memelihara babi dan memanfaatkan dagingnya, sudah sangat membatin bagi krama di Bali. Disini lah posisi penting babi dalam kearifan lokal Bali,’’ jelas alumni pascasarjana doktor Fakultas Peternakan Universitas Airlangga, Surabaya ini.

Prof Puja menambahkan, kedekatan secara sosiokultural babi dengan masyarakat Bali, menjadikan kasus kematian babi belakangan ini sangat mengundang perhatian khalayak. Akan sangat berbeda halnya jika kematian mendadak dalam jumlah banyak itu menimpa ternak lain, seperti ayam, sapi, bebek, kambing, dan lainnya. Karena sebaran populasi ternak-ternak tersebut hampir merata di seluruh Indonesia. Berbeda halnya dengan kematian babi yang populasi dan intensitas pemanfaatan daging babi dominan di Bali. ‘’Peternakan babi ini kan masih sangat terbatas di Indonesia, kecuali di Bali,’’ ujarnya.

Guna mengantisipasi kematian massal pada babi, Prof Puja menyarankan agar peternak dari segala tingkatan, lebih mengedepankan konsep pratyaksa pramana. Dalam arti, punya kemauan sendiri untuk mengamati kondisi yang terjadi, tanpa selalu tergantung dengan pihak lain, termasuk pemerintah. Peternak meski memahami sistem perawatan ternak dengan model bioscurity, mulai dari menjaga kebersihan kandang, tak sembarangan memakai pakan ternak, tak sembarangan membiarkan orang masuk kandang babi, serta langkah seterilisasi lainnya. Tak kalah penting, peternak harus berani mengosongkan kandang ternaknya dalam waktu tertentu. Langkah ini untuk memotong siklus dan perkembangan penyakit yang mendera babi.

Kepada pemerintah, Prof Puja mengimbau kepada pejabat yang membidangi di Pemprov Bali untuk mengambil langkah-langkah lebih serius dalam  mencegah serangan pada babi ini. Para peternak juga masih sangat mungkin mencegah kematian babi ini secara niskala. Antara lain dengan nunas ica melalui persembahan upacara tertentu. Karena tradisi upacara Nangluk Merana (menghalau hama dan penyakit) misalnya, masih dilakoni oleh krama Bali. ‘’Pemprov Bali kan punya visi Nangun Sad Kerti Loka Bali. Kini saatnya diwujudkan visi itu,  terutama dalam penanggulangan kematian babi ini,’’ jelasnya.*wil

loading...

Komentar