nusabali

Berguru pada Kaum Pendatang

  • www.nusabali.com-berguru-pada-kaum-pendatang

Denpasar menjelang Lebaran, seperti juga Jakarta, akan sepi. Banyak warganya mudik ke Jawa. Jalan pun lengang, banyak warung tutup, kaki lima sepi. Kepada rekannya, Nengah Umbara berujar, “Menjelang Lebaran, Bali seperti tahun delapan puluhan. Suasana jadi longgar.”

Pengarang : Aryantha Soethama

Wayan Nugra tak setuju dengan komentar Nengah. “Dua tahun lalu pendapatmu itu benar. Sekarang tidak. Aku sudah keliling sejak dua hari lalu, jalan-jalan ramai, lalu lintas macet. Banyak orang masih sibuk seperti biasa.”

Nengah tak percaya. Ia pun keliling Denpasar, lalu ke Kuta, terus ke Jimbaran dan Nusa Dua. “Benar katamu, lalu lintas masih ramai. Tapi, kenapa ya? Apa mereka tidak mudik? Kulihat di televisi, Gilimanuk sudah dijejali motor mereka yang hendak pulang kampung.”

Belakangan Umbara dan Nugra tahu, ternyata banyak kaum pendatang yang tidak mudik. Alasan mereka, “Ongkos mudik mahal, berdesak-desak, tidak nyaman. Kalau pun bisa naik sepeda motor, tapi lalu lintas padat sekali. Mending mudik kalau Lebaran Haji saja nanti,” cerita orang-orang yang mereka tanya, mengapa tidak pulang kampung Lebaran kali ini.

Tetapi, ternyata ada sebagian orang yang memang sengaja tidak mudik. Mereka justru memanfaatkan Lebaran untuk bekerja agar memperoleh rezeki lebih banyak. Karena banyak pedagang pulang kampung, tentu saingan sedikit, sementara orang yang butuh barang bertambah banyak. Mereka yang menjadi penjual asongan di pantai Kuta atau di tempat-tempat rekreasi, memilih tidak mudik, karena tempat-tempat itu ramai dikunjungi pelancong. Justru saat-saat ramai seperti inilah yang mereka tunggu. Pembeli banyak, dagangan laris, untung bisa berlipat ganda.

Karena pelancong banyak, pedagang sedikit, saingan berkurang, pedagang asongan yang tak mudik itu jadi kewalahan. Mereka mengaku, masih terbuka banyak kesempatan untuk menjadi pedagang asongan di seputar hari libur Lebaran. “Mengapa kesempatan ini tidak diambil oleh orang Bali, ya?” tanya Umbara kepada Nugra. “Semestinya kita bekerja, tidak ikut-ikutan libur ketika Lebaran.”

Sudah acap diperbincangkan, mengapa orang Bali tidak tertarik untuk mengambil pekerjaan seperti yang dilakoni kaum pendatang. Ada yang berkomentar, itu karena orang Bali sesungguhnya adalah petani sejati. Mereka tahunya cuma bertani. Mereka lebih mengagung-agungkan organisasi petani subak tinimbang serikat pekerja. Kelebihan orang Bali adalah ketika mereka bekerja bersentuhan dengan tanah, bumi pertiwi, tidak ketika bersinggungan dengan pabrik dan mesin-mesin.

Muncul pula pendapat, jangan-jangan sebagian besar orang Bali tidak begitu paham dengan pertumbuhan ekonomi. Mereka tahu betul tentang pertumbuhan pohon, tanaman, ternak, tidak tentang perkembangan perdagangan atau jual beli. Bukankah banyak orang Bali kaget, ternyata sampah-sampah yang dikumpulkan oleh para pemulung, bisa mendatangkan banyak uang dan mensejahterakan banyak orang. Sampah menjadi duit tak pernah terlintas sebelumnya di benak orang Bali.

Kaum pendatang itulah yang sesungguhnya guru bagi orang Bali di bidang bisnis dan manajemen. Nugra dan Umbara pun kini mulai belajar, betapa selama ini mereka cuma menonton dan menganalisis tentang kaum pendatang. Mereka cuma membahasnya, betapa banyak pendatang yang pertama kali dengan keadaan compang-camping, rombengan, sekarang kaya, punya mobil, beli tanah di kampung halaman, cuma karena jadi juragan para pemulung.

“Kaum pendatang yang memilih tidak mudik ketika Lebaran, patut kita jadikan panutan,” komentar Nugra. “Dari mereka aku belajar tentang peluang ekonomi untuk memakmurkan diri.”

Umbara setuju menjadikan pendatang sukses dan gigih itu sebagai guru. Tapi, ia ragu orang Bali sanggup meniru keuletan mereka yang lebih memilih bekerja tinimbang mudik itu.

“Menganggap peluang dan waktu adalah uang hanya dikenal oleh masyarakat industri, tidak oleh orang-orang bermental petani.”

“Ah, itu cuma alasan dan teori kaum pemalas,” sahut Nugra. Dan Umbara menjawabnya dengan tawa berderai, khas orang Bali. 7

loading...

Komentar