nusabali

Perluasan Apron Bandara Dilakukan Januari 2018

  • www.nusabali.com-perluasan-apron-bandara-dilakukan-januari-2018

Pengerjaan fisik perluasan apron Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Tuban, Kecamatan Kuta, Badung, dilakukan pada Januari 2018. Perluasan apron dipilih opsi reklamasi.

MANGUPURA, NusaBali

Dalam perencanaan awal ada dua opsi yang dipilih yakni reklamasi dan tiang pancang. Setelah melalui proses dan uji kelayakan, akhrinya dipilih opsi reklamasi. Beberapa pertimbangan mendasar pemilihan opsi reklamasi, misalnya risiko kecelakaan penerbangan paling kecil. Selain itu tak mengganggu teknis penerbangan di bandara. Jika dipilih opsi tiang pancang, masa kerjanya lama, karena hanya bisa bekerja 12 jam sehari. Selain itu terjadi penutupan aktivitas penerbangan. Kedua kondisi ini yang menjadi pertimbangan mendasar dalam pemilihan opsi reklamasi.

General Manager Angkasa Pura I (AP I) Bandara Ngurah Rai Yanus Suprayogi, mengatakan pengerjaan fisik proyek itu dilakukan pada Januari 2018. Kini masih menunggu proses perizinan reklamasi dan prosedur lainnya. Dikatakannya, proyek itu sudah melalui kajian analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan dinyatakan layak.

“Opsi yang dipilih dalam pengembangan bandara ini adalah reklamasi. Dijadwalkan mulai pengerjakan proyek fisik paling lambat Januari 2018. Dalam rencana pengembangan apron ini, ada proses yang harus dilalui. Untuk menghindari masalah hukum dalam proses yang dijalankan, maka akan ada pendampingan dari kejaksaan. Yang dilakukan sekarang adalah perlengkapan administrasi. Perlengkapan administrasi ini yang masih belum rampung,” ujar Yanus saat dikonfirmasi, Senin (6/11).

Pembangunan dengan cara reklamasi mengharuskan syarat yang perlu dikaji lebih mendalam. Yanus mengaku, dari arahan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta agar pembangunannya memperhatikan aliran arus laut.

Untuk kajian arus laut ini, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi. Dalam menguji kelayakan pemetaan arus laut itu pihaknya menggandeng pihak Universitas Udayana (Unud). Tujuannya agar pelebaran bandara ini tak memberi dampak negatif bagi lingkungan sekitarnya. “Unud merupakan perguruan tinggi yang kami percaya mampu melakukan kajian yang tepat. Kajian itu kini sedang berjalan dan tinggal menunggu hasilnya,” tutur Yanus.

Yanus mengatakan, perluasan apron itu membutuhkan lahan 48 hektare. Kerena kekuranga lahan di darat, pilihan pengembangannya adalah menjorok ke laut sebelah barat runway. Dikatakannya pembangunan tempat parkir pesawat itu dapat menampung 10 pesawat berbadan lebar. Anggaran yang dibutuhkan Rp 1,34 triliun.

“Keperluan jangka pendek dari perluasan bandara ini adalah untuk memenuhi kebutuhan jelang forum International Monetary Fund-World Bank Annual Meetings yang rencananya digelar 8–14 Oktober 2018 mendatang,” tandasnya. *p

Komentar