nusabali

Dari Kayu Kamboja Tua Kisahkan Pewayangan

I Wayan Wawan, Pematung Kayu dari Desa Buruan, Gianyar

  • www.nusabali.com-dari-kayu-kamboja-tua-kisahkan-pewayangan

GIANYAR, NusaBali - Karya seni patung (kayu) yang pahatannya mengikuti alur kayu, salah satu karya seni rupa yang semakin jarang dibuat. Karena bahan baku, khususnya pohon kamboja tua yang berumur puluhan sampai ratusan tahun, kini semakin langka

Seniman patung kayu serupa juga kini kian langka. I Wayan Mawan,60, asal Desa Buruan, Kecamatan  Blahbatuh, Gianyar, salah seorang seniman patung kayu tua yang masih bertahan.

Di rumahnya, Banjar Buruan, Desa Buruan, Mawan setia dengan geginan (profesinya) menakik kayu. Hampir setiap hari. Kecuali musim rarahinan (hari susi umat Hindu Bali), seperti Galungan dan Kuningan, Hari Raya  Nyepi dan  lainnya. Atau, sedang ada kegiatan sosial dan adat, dan dia mesti hadir. Saat itulah, Mawan mengistirahatkan pahat dan pengotok atau palu penakik kayu. “Di luar itu, tiyang  selalu memahat,”  cerita dia, saat ditemui   pekan lalu.

Lebih dari 40 tahun sudah Mawan  sebagai pemahat patung. Selama itu, banyak karya patung yang dia asilkan, tentu juga cerita tentang pengalaman berkesenian. Dia sendiri sudah tidak ingat. Namun ada beberapa yang masih dia ingat. Pertama adalah patung berjudul Kresna Duta atau Pamurtian Kresna. Patung setinggi 1 meter dibuat antara 1982 – 1983, dikoleksi oleh kolektor lokal Bali. “Kalau  tidak salah dari Silakarang (Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianar),”  kenangnya.


Patung kedua, berjudul Dewi Ulupi. Tema cerita patung yakni kisah perkawinan antara Dewi Ulupi dengan Arjuna, salah satu dari lima Panca Pandawa. Tinggi patung Dewi Ulupi 2 meter. Mawan memahatnya tahun 1994. Bahan patung Dewi Ulupi dari kayu kamboja tua yang tumbuh menahun di kawasan Goa Lawah, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung.

Demikian tuanya, kamboja tersebut, sehingga sudah seperti mengkristal. “Itu kayu kembar,” ungkapnya.

Setelah rampung, patung Dewi Ulupi ini sempat dipamerkan di Jakarta, tempatnya di Balai Sidang Senayan, Jakarta. “Ada teman yang memberitahu dan membawa patung ini untuk ikut dipamerkan,” lanjutnya.

Singkat cerita, Patung Dewi Ulupi terjual. Disampaikan Mawan, yang membeli adalah Menteri Perhubungan  RI kala itu, yakni Haryanto Danutirto, saat itu. “Benar- benar sangat terharu tiyang. Sampai menangis,”  cerita suami dari Ni Wayan Sitori ini.

Menangis, bukan saja karena dibeli dengan harga  Rp 125 juta saat itu. Namun patung itu pasti ditempatkan di ruang, yang menurut Mawan ditempat terhormat. “Patung itu di pasang di sekitar pintu kedatangan penumpang internasional Bandara Soekarno – Hatta, Jakarta,” ceritanya. Itulah yang membuat Mawan merasa terharu. Sebagai seniman, dia merasa dihargai oleh negara. “Menteri yang membeli. Itu kan sama dengan pemerintah. Kemudian diletakkan di bandara terbesar di Indonesia,” lontarnya dengan nada bergetar.

Sampai sekarang pun, Mawan tetap merasa terharu. Perasaannya membuncah, ketika mengingatnya.


Tak saja bertema tokoh pewayangan, Mawan juga menjadikan kisah perjuangan rakyat Bali mempertahankan kemerdekaan RI sebagai tema karya patungnya. Karya patung ini Sekaligus bentuk penghormatan kepada jasa pahlawan.

Salah satunya, karya berthema perjuangan rakyat Bali mempertahankan kemerdekaan yakni patung Siung Wenara. Patung ini  mengingatkan peristiwa heroik Puputan Margarana pada 20 November 1946, pertempuran pasukan Siung Wenara yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai melawan tantara NICA (Belanda).

“Kita mesti menghargai dan mengenang pengorbanan para pahlawan. Kalau saya dengan membuat patung Siung Wenara,” ujarnya, sambil bercerita panjang lebar tentang Patung Siung Wenara, latar belakang serta perwujudannya dalam karya patung.

Hampir semua patung  karya Mawan berbahan kayu kamboja. Hal itu karena kamboja termasuk kayu istimewa. Bentuknya yang unik, antik, teksturnya padat, namun enak diukir. Makin tua usianya makin bagus, semakin mengkhilat, seperti mengeluarkan minyak. Itu lah, mengapa Mawan fanatik dengan kamboja untuk media karyanya. “Dan patung kayu kamboja, merupakan salah satu ciri dari Desa Buruan, desa kami”  ucap Mawan.

Untuk mendapatkan kamboja tua bukan perkara gampang. Di Bali sudah semakin jarang. Beruntung, di Jawa dan daerah lainnya masih ada. "Sering kita peroleh dari Jawa,"ungkap Mawan.7i wayan nata

Komentar