nusabali

Salahkah Mengupacarai Kendaraan saat Tumpek Landep?

  • www.nusabali.com-salahkah-mengupacarai-kendaraan-saat-tumpek-landep

DENPASAR, NusaBali.com - Mengupacarai kendaraan bermotor ketika Hari Suci Tumpek Landep sudah menjadi bagian dari kebiasaan dalam ritual rahina Saniscara Kliwon Landep ini. Namun, hal ini dinilai bergeser dari makna dasar Tumpek Landep. Salahkah jika dilakukan?

Jawaban sederhananya adalah 'tidak salah'. Hal ini disampaikan oleh Dr I Nyoman Dayuh, Penyuluh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Bali ketika mengisi diskusi di kanal YouTube Yudha Triguna Channel.

Diskusi di kanal milik Prof IBG Yudha Triguna, mantan Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) sekaligus mantan Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI ini menyinggung pergeseran pemaknaan Tumpek Landep.

Sejatinya hari suci ini diperuntukkan untuk pemujaan kepada manifestasi Dewa Siwa sebagai Sang Hyang Pasupati. Setelah upacara di parahyangan selesai, dilanjutkan dengan mengupacarai perkakas dan benda-benda landep (lancip).

Kemudian, seiring perjalanan waktu berkembang pemaknaannya sebagai hari untuk mengupacarai benda-benda yang terbuat dari logam. Hal ini sebagai penurunan makna atas perkakas yang terbuat dari logam pula.

"Di dunia yang modern ini, bagaimana kita memaknai pergeseran-pergeseran (makna dan ritus Tumpek Landep)? Seperti mobil, komputer, kan tidak tajam. Nah, apakah itu salah (jika diupacarai)?," kata Yudha Triguna.

Dalam video berdurasi 18 menit 38 detik yang diunggah Kamis (28/12/2023) lalu itu, Dayuh menjelaskan bahwa Hindu adalah agama yang berkelanjutan atau Sanatana Dharma.

Sanatana Dharma memiliki fleksibiltas dan universalitas terhadap dinamika atau perubahan yang terjadi di setiap zaman yang dilalui. Termasuk, di era teknologi seperti dewasa ini, Hindu masih merasuki relung-relung kehidupan manusia.

"Perkembangan teknologi seperti sekarang ini merupakan proses dari ketajaman pikiran yang disebut landeping idep (mengasah ketajaman pikiran)," jelas Dayuh.

Lanjut pemegang gelar doktor Ilmu Agama dari UHN IGB Sugriwa Denpasar ini, secara filosofis hari suci ini juga ditujukan kepada diri manusia, bukan saja untuk yang di luhur dan terkait profesi dengan alat bantunya yakni perkakas dalam arti sempit.

Kendaraan bermotor dan barang elektronik yang memiliki komponen logam merupakan buah atau karya dari ketajaman pikiran (intelektual/kecerdasan) manusia. Yang mana, hal ini juga merupakan anugerah dari Sang Hyang Pasupati.

Di samping itu, Dayuh menuturkan, produk-produk modern ini adalah alat yang mempermudah hidup manusia (perkakas dalam arti luas) dan berfungsi selayaknya perkakas di disiplin profesinya masing-masing.

"Benda-benda ini menghasilkan sesuatu dan berperan atas keberlanjutan hidup penggunanya. Mobil dan motor membantu kita lebih lancar (bermobilitas). Tapi dalam hal ini, kita bersyukur kepada Sang Hyang Pasupati yang memang ber-raga dalam diri kita," tegas Dayuh.

Persegeran pemaknaan dan ritus Tumpek Landep ini, kata Dayuh, sesuai dengan perjelasan Kakawin Arjunawiwaha XII.6 yang mengajarkan, 'Ulah apageh magegwana rasagama buddhi tepet.' Bahwa, perilaku yang teguh berpegang pada rasa, agama, dan buddhi secara tepat.

Jelas Dayuh, rasa, agama, dan buddhi (intelektualitas) ini saling berhubungan. Hal inilah yang dinilai mendorong pemaknaan dan ritus sebuah peristiwa keagamaan itu berkembang sesuai zaman yang dilalui.

"Rasanya masyarakat ini setelah dahulu ada keris (perkakas dalam arti sempit), kemudian berkembang dengan keberadaan teknologi yang ada sekarang ini yang luar biasa bermanfaat bagi kehidupannya," imbuh Dayuh. *rat

Komentar