nusabali

MUTIARA WEDA: Masalahnya, Kita Tidak Mau!

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-masalahnya-kita-tidak-mau

na tad asti pṛthivyāḿ vā divi deveṣu vā punaḥ, sattvaḿ prakṛti-jair muktaḿ yad ebhiḥ syāt tribhir guṇaiḥ.(Bhagavad-gita, 18.40)

Tidak ada di mana pun, baik di dunia ini maupun di alam surganya para dewa, orang bisa terbebas dari pengaruh tri guna ini. 

INI statemen luar biasa dan bahkan frontal bagi sebagian besar kalangan. Mengapa? Karena sebagian besar orang yang beragama memiliki pemikiran bahwa surga adalah tujuan. Orang berpikir bahwa kehidupan ini penuh dengan penderitaan. Seberapa pun orang berupaya untuk menghilangkan derita itu, kebahagiaan tidak akan pernah hadir sepenuhnya. Upaya apapun tidak akan mampu membuat orang bahagia selamanya. Namun, meskipun bahagia itu tampak mustahil, semua orang tetap menginginkan itu. Kebahagiaan adalah keinginan ultimate dari segala jenis keinginan. Oleh karena di dunia kebahagiaan itu tidak mungkin diraih, maka membayangkannya ada di surga adalah cara lain. Cara ini bahkan efektif untuk meng-console orang untuk tetap berharap bahwa kebahagiaan itu akan bisa dinikmati nanti. 

Jika memang kebahagiaan tidak ada di bumi, maka kita akan menikmatinya nanti di surga. Atas dasar ini, mereka mengorientasikan kehidupannya untuk meraih surga ini. Mereka bisa membayangkan bahwa di surga nanti bisa menikmati makanan apapun yang disukai, memilih wanita atau laki-laki manapun yang disukai, menikmati kesenangan apapun yang diinginkan. Alam yang di mana kemalangan tidak pernah ada, hanya kenikmatan saja yang ada, selamanya. Oleh karena saat hidup penuh derita, maka kenikmatan dan kebahagiaan itu akan diperoleh di surga. Untuk mencapai ini, banyak upaya yang harus dilakukan, bahkan tidak sedikit orang rela mengorbankan hidupnya demi mencapai surga ini. 

Namun, Krishna berkata lain. Baik di dunia ini dan di alam surga, pengaruh tri guna itu masih kuat. Kita tahu bahwa pengaruh tri guna inilah sumber dari derita tersebut. Sattvam, rajas, dan tamas sangat kuat mencengkeram kehidupan setiap orang sehingga kemungkinan untuk terbebas dari lingkaran penderitaan tanpa tepi hampir mustahil. Kita berpikir bahwa selama berada pada kehidupan ini, rasanya mustahil untuk bahagia selamanya. Untuk itu kita berharap di dunia setelah mati kita memperolehnya. Namun, Krishna menyatakan, itupun tidak luput dari pengaruh tri guna, sehingga surga itu tidak bisa luput dari derita. Mengapa Krishna bertentangan dengan keyakinan umum sebagaimana diyakini umat manusia? Karena Krishna melihat dari kebenaran tertinggi, bukan berdasar pada keinginan-keinginan manusia. 

Lalu, jika kebahagiaan abadi tidak bisa diperoleh di alam surga, di mana lagi kebahagiaan itu dicari? Tradisi Veda, terutama Vedanta memberikan alternatif lain. Kebahagiaan tidak perlu dicari di mana-mana. Sepanjang kita berada di alam prakrti, dan kita mengidentifikasi diri sebagai tubuh atau identitas prakrti, maka sepanjang itu kebahagiaan tidak akan diperoleh.

Lalu di mana kebahagiaan itu? Upanisad menyebut ‘dirimu adalah kebahagiaan itu sendiri’. Kebahagiaan adalah svarupa kita. Wujud asli kita adalah kebahagiaan. Orang sering berpikir bahwa, jika kebahagiaan tidak bisa ditemukan di surga, maka itu bisa ditemukan di dalam diri. Orang menyebut di dalam dirinya ada kebahagiaan. Di sini masih ada perbedaan antara diri dan kebahagiaan. Sang diri menjadi wadah dari kebahagiaan. Tetapi, upanisad menyebut, tidak saja di dalam diri, tetapi dirimu sendiri adalah kebahagiaan. 

Jika memang diri kita adalah kebahagiaan, lalu mengapa derita lebih sering diperoleh? Semakin kebahagiaan itu diinginkan semakin jauh rasanya. Upanisad menyebut, ini adalah persoalan mau atau tidak, sadar atau tidak. Jika kita menyadari bahwa diri kita sendiri adalah kebahagiaan, maka kita akan menjadi bahagia. Masalahnya adalah kitalah yang tidak mau atau tidak sadar. Mengapa tidak mau? Karena kita diselimuti oleh avidya. Oleh karena kita mengidentifikasi diri sebagai tubuh, dan tubuh berada di bawah pengaruh tri guna, maka derita itu akan tetap dialami. Sebaliknya, jika kita mampu berpisah dan mengidentifikasi diri sebagai atman, maka semua derita akan hilang dengan sendirinya. Jadi, di sini adalah persoalan identitas. Kemampuan mengubah identitas kita secara hakiki lah yang membuat kita merasakan bahagia selamanya. 7

I Gede Suwantana
Bali Vedanta Institute

Komentar